
Malam hari nya, Vina dan Adit shalat berdua di kamar, mereka baru akan keluar setelah melaksanakan shalat. Vina sangat mengagumi suami nya itu, baru saja menjadi seorang mualaf namun sudah mengetahui banyak tentang islam, terutama bacaan shalat dan setelahnya.
"Cahaya," panggil Adit yang melihat Vina sudah membuka mukenah nya setelah selesai shalat.
"Kenapa kak?" Tanya Vina menoleh sebentar, lalu meletakkan mukenahnya.
"Aku mau bicara, sini dulu."
Vina mendekati Adit yang tanpa penghalang kerudung lagi sekarang, Adit bisa melihat jelas wajah cantik Vina selama ini.
"Apa kak?" Tanya Vina setelah duduk di samping Adit.
Adit menatap begitu rinci pahatan wajah putih mulus yang terlihat begitu cantik dan nyaris sempurna di matanya.
"Kenapa begitu cantik seperti ini? Aku tidak mau ada yang melihat kecantikan ini." Adit mengelus wajah Vina.
"Kak Adit nyuruh aku duduk disini, cuma untuk gombalin aku?" Tanya Vina memasang wajah kesalnya. Harusnya saat ini dia sudah mengambil makan.
Lelaki itu hanya terkekeh melihat istrinya kesal. "Itu bukan gombalan, tapi kenyataan nya seperti itu."
"Lalu, apa aku harus pakai topeng?" Pertanyaan Vina membuat Adit tertawa.
"Aku mau ambil makan aja, dari pada nungguin kak Adit ngomong gak jelas." Vina hendak berdiri, namun Adit kembali menahannya.
"Ada apa lagi suami ku?" Tanya Vina tersenyum kesal.
"Ulu-ulu manis banget istri ku." Adit mencubit pipi chubby Vina.
Uwlekkk.. Othor yang mau muntah dit. Oke lanjut...
"Oke aku serius. Sebenarnya, aku mau bicara tentang kita." Vina mendengarkan dengan serius menatap wajah Adit.
"Tentang apa kak?" Tanya Vina lagi
"Aku sebenarnya pengen kita sudah pindah kerumah kita sendiri malam ini," ucap Adit.
"Kenapa cepat sekali kak? Kenapa gak tinggal disini dulu?"
"Dari awal sebelum kita nikah, kan sudah aku bilang kalau kita akan pindah ke rumah sendiri setelah menikah."
__ADS_1
"Lagi pula, jika kita tetap tinggal disini, aku takut mama sama papa aku malah meminta kita untuk tinggal di rumah mereka saja. Sedangkan, disana tidak cocok untuk kita tinggali selayaknya seorang muslim." Lanjutnya.
"Iya, aku ngerti kak. Tapi kalau bisa jangan sekarang juga, tunggu beberapa hari disini dulu."
"Tenang sayang, kamu tidak perlu khawatir masalah pekerjaan rumah sudah ada pembantu yang mengurusnya. Apalagi yang kamu takutkan? Aku juga bisa membantu apa yang kamu inginkan."
"Tapi, aku masih bisa kesini kan kak?" Adit tertawa ngakak mendengar pertanyaan Vina.
"Kak Adit," kesal Vina.
Adit menghentikan tawanya sambil memegangi perutnya. "Lagian, memang nya kamu di penjara? Sampai gak bisa kesini. Kita cuma pindah rumah sayang, bukan merantau ke luar kota atau luar negeri."
"Iya siapa tahu gak bisa kesini."
"Kenapa kamu lucu banget sih? Hem?" Tanya nya mencubit kedua pipi Vina.
"Kak, aku ambil makan dulu yah?"
"Iya jangan lama-lama."
"Iya kak." Vina beranjak, namun Adit tersadar dengan penampilan Vina yang ala rumahan dan tanpa kerudung di kepalanya.
"Eh tunggu." Adit menghentikan Vina saat akan membuka pintu.
"Kamu ngangenin sih."
"Serius kak."
"Kamu yakin keluar dengan penampilan kamu seperti ini?" Vina menatap pakaian yang ia kenakan, apa yang salah pikirnya.
"Kenapa? Kak Adit nyesel lihat penampilan aku seperti ini? Aku memang suka nya dasteran kak kalau dirumah, atau baju tidur minim, lebih enak aja gitu. Jelek yah?"
"Siapa yang nyesel? Siapa juga yang bilang kamu jelek? Aku cuma bilang yakin mau keluar dengan penampilan seperti ini?"
"Yakin. Aku udah biasa seperti ini."
Adit berdiri mendekati Vina. "Kamu duduk aja, biar aku aja yang ambil makan."
"Tapi kak, istri yang mengambilkan makan untuk suami, bukan sebaliknya."
__ADS_1
"Sayang, diluar itu banyak orang. Banyak laki-laki yang akan melihat kecantikan istri seorang Adit."
Vina baru mengingatnya, bahwa diluar memang masih banyak tamu. Sebenarnya di luar rumah, tapi bisa saja beberapa laki-laki masuk kerumah dan melihat Vina yang mengenakan pakaian kurang.
"Tapi mereka di luar kak."
"Kamu duduk, biar aku aja yang ambil."
"Tapi kak-
Satu kecupan mendarat di bibir merah muda milik Vina.
"Kak Adit, kenapa cium aku?"
"Hukuman, karena kamu tidak mau mendengarkan."
"Iya, tapi biar aku aja yang keluar. Aku mau ganti pakaian dan menggunakan kerudung."
"Tidak perlu sayang, kecantikan kamu akan tetap memancar ke seluruh penjuru ruangan di rumah ini."
Vina tertawa dengan perkataan Adit. "Jangan lebay deh kak, aku mau keluar."
Adit menarik tubuh Vina, ia kembali memberikan kecupan, namun kali ini Adit menempelkan bibirnya lebih lama pada bibir Vina.
Adit melepaskan ciumannya saat Vina seperti membutuhkan pasokan oksigen.
Vina langsung menutup mulutnya.
"Masih mau membantah?" Vina menggelengkan kepalanya cepat.
"Good girl, sekarang duduk ya sayang." Adit mengelus rambut pendek Vina yang langsung di balas anggukan, lalu berjalan ke arah ranjang untuk menunggu Adit dengan tangan yang masih menutupi mulutnya.
Adit terkekeh pelan melihat istrinya itu, sangat menggemaskan menurutnya.
Othor juga menggemaskan dit.
Gak nanya.
__ADS_1
Baiklah ðŸ˜
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.