Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Manja adalah bentuk syukur


__ADS_3

"Sayang, kamu mau makan apa? Biar mama yang masakin?" Saat ini Vina dan Adit berkunjung ke rumah orang tuanya.


"Vina mau masak sendiri nanti ma," ucap Vina tidak enak jika di masakin mertua.


"Bersih kok sayang, di jamin halal. Mama juga tahu untuk anak dan menantu mama, tidak akan mama biarin memakan makanan yang dilarang di agama kalian."


"Bukan gitu maksud Vina ma, tapi- gimana kalau kita masak bareng aja ma?"


"Ide bagus."


"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Adit yang baru sadar istrinya akan beranjak pergi, ia langsung menahannya.


"Mau masak sama mama."


"Kan ada mbok, ngapain mau masak?"


"Kita ke kamar aja yuk!" Rengek nya langsung memeluk perut Vina.


"Eh bocah, lepasin menantu mama. Sekarang Cahaya kamu milik mama, kamu aja sana yang ke kamar." Mama tia melepaskan pelukan Adit dari Vina.


"Ayo sayang!" Ajak mama tia menggandeng tangan Vina untuk mengajak nya ke dapur.


"Ma, jangan ambil istri Adit ma." Teriaknya


Vina tentu saja senang lepas dari lintah darat, yang selalu ingin menempel dengan nya.


"Kamu betah juga tinggal serumah dengan dia vin."


"Harus gimana lagi ma, sudah menjadi kepala rumah tangga. Jadi mau tidak mau tetap harus mau."


"Seperti terpaksa sekali nerima anak mama."


"Jangan salah ma, tidak ada paksaan dari hati Vina. Walaupun tingkah nya seperti itu, Vina tetap menyukainya ma."


"Cieeee, katanya mau masak, tapi sibuk gosipin orang ganteng."


Vina dan mama tia melirik sedikit ke arah pintu, Adit yang sedang bersender di sana mendengar mereka berdua bicara.


"Kamu sebenarnya terpaksa kan nak, nikah sama Adit?" Tanya mama mengedipkan matanya, sembari memberi kode pada Vina bahwa itu hanya bercanda.


"Vina terpaksa ma nikah sama kak Adit, Vina hanya kasihan gak ada yang manjain ma."


"Yang sabar ya sayang, mama juga yakin kalau kamu itu sebenarnya terpaksa." Mama tia memeluk Vina, dan Vina mengangguk di pelukannya.


"Ma, jangan buat panas Adit deh, jangan pengaruhi istri Adit."


"Sayang kita lanjut masak yah, setelah itu kita bisa ngobrol lagi." Membuat Vina mengangguk.


"Hello, ada orang disini." Adit masuk menghampiri istri dan mama nya.


"Ini ikan nya Vina potong dulu ya, ma."


"Iya sayang, potong dua aja."


Adit mencium pipi istri dan mama nya, namun tetap mereka tidak memperdulikan Adit. Adit yang geram tidak di anggap langsung pergi dari dapur untuk menuju kamarnya.


"Yah ngambek dia." Vina melihat Adit yang langsung pergi sedikit merasa bersalah.


"Biarkan saja sayang, kalau dia gak mau bicara sama kamu, cuekin balik." Mama tia mengajarkan menantunya agar tidak membujuk nya, melainkan di sarankan agar menyueki balik.


...******...

__ADS_1


Vina dan mama tia sudah selesai memasak, mereka akan memanggil suami mereka untuk makan.


Vina membuka pintu kamar Adit pelan, ia yakin suaminya itu pasti marah.


"Kak Adit, makan yuk! Masakan nya udah siap loh, aku dan mama yang masak." Vina mendekati Adit yang bergelung di bawah selimut tebal nya.


"Kak Adit tidur? Atau pura-pura tidur? Bangun dong kak." Vina membuka selimut Adit paksa, ia melihat Adit menangis dan air matanya sudah membasahi bantal yang di pakai nya.


"Loh, kenapa nangis sih. Ayo bangun!"


Brukk


Adit menjatuhkan dirinya ke pelukan Vina, ia menangis sesenggukan. "Kenapa? Coba cerita."


"Kamu cuekin aku hiks, aku gak mau kamu tinggalin aku." Vina melepas pelukan nya, ia menghapus air mata suami nya itu.


"Siapa yang mau tinggalin kak Adit?"


"Kamu. Kamu tadi bilang sama mama, kalau kamu terpaksa nerima aku."


"Hust, aku sama mama cuma bercanda, kenapa malah serius banget." Vina mengelus bahu Adit untuk menenangkan nya.


"Aku gak mau itu jadi do'a, aku mau kamu selalu di samping aku hiks."


"Udah diem kak, malu nanti di dengar mama sama papa."


Adit berusaha berhenti, namun sesenggukan nya masih belum bisa hilang.


"Jelek banget suami aku," ucap Vina mencubit pipi Adit dengan kedua tangan nya.


"Aku ganteng, tidak seperti laki-laki di sebelah rumah."


"Memangnya kak Adit tahu, cogan dekat rumah."


"Kamu kan sugan kak."


"Sugan apaan?"


"Suami ganteng nya aku." Vina menampilkan senyum manis nya, jika sudah seperti itu mana sanggup Adit memperlihatkan nya pada banyak orang.


"Udah pinter gombal ya."


"Kan belajar dari kak Adit."


Tok tok


"Vina, Adit. Papa nungguin tuh, kalian mau makan apa gak?"


"Iya ma sebentar lagi," sahut Adit


"Jangan lama-lama."


"Ayo kak, kasihan papa nunggu lama."


"Makan kamu dulu boleh gak?"


"Boleh"


Adit tersenyum. Namun sebelum memangsa nya, Vina kembali mengatakan. "Kalau sudah di rumah sendiri, kita kan disini seminggu, lalu nginap di rumah aku seminggu juga. Jadi kak Adit hanya bisa makan makanan."


"Hah? Ngapain nunggu pulang sayang? Kita bisa melakukan nya disini."

__ADS_1


"Aku mau ketenangan di rumah sendiri, yang jelas aku hanya ingin melakukan nya di rumah kita."


"Ayo keluar! papa sama mama sudah menunggu." Vina langsung pergi meninggalkan Adit yang masih menghitung jari tangan nya.


"Seminggu itu tujuh hari kan? Lalu, kalau dua minggu, berarti empat belas hari? No, big no."


"SAYANG..." Teriak nya mengejar Vina.


"Sayang, kamu jangan nyiksa aku dong." Ucapnya di dekat istri nya yang mulai menyendokkan makanan ke dalam piring.


"Nyiksa? Maksudnya Vina sering pukulin kamu?"


"Bukan. Dia nyiksa Adit ma, pa. Adit gak boleh-


Vina menyuapkan ayam ke dalam mulut Adit. "Enak kak?" Tanya Vina membuat Adit mengangguk.


"Sebenarnya nyiksa gimana?"


"Dia-


"Gak ada apa-apa kok."


"Kamu kan gak mau kasih jatah sayang, gak ada apa nya."


"Ditambah seminggu."


"Sayang, harusnya di kurangi bukan malah di tambah."


"Oke deal, dua minggu. Total empat minggu, setuju kan ma, pa?"


"Setuju!" Jawab mereka bersamaan.


"Aku berasa anak tiri. Sayang, seminggu aja berasa setahun, apalagi sebulan lamanya. Aku merasa bertapa di gunung lembah seumur hidup."


"Memang enak, rasain gak bisa manja-manja."


"Mulai gelap juga, malam ini hujan sepertinya. Pasti dingin banget ya ma?"


"Pakai selimut dong pa, biar rasa dingin nya sedikit berkurang." Vina hanya tersenyum sambil mengunyah makanan nya.


"Tutup pintu rapat-rapat ya vin, nanti udara dingin masuk."


"Siap ma."


"Jangan kompor deh, sayang.. suapin." Adit bersender di bahu Vina, Vina memberikan piring yang sudah ia isi dengan makanan tadi.


"Gak mau, aku mau kamu yang suapin aku."


Akhirnya Vina menyuapi Adit dan juga dirinya sendiri, mertuanya hanya melihat itu menggelengkan kepalanya.


"Belum juga punya anak, nanti kalau sudah punya anak pasti susah untuk suapi kamu."


"Biar anak Adit yang makan sendiri, Adit yang minta suap sama ibu nya."


"Tinggalkan suami yang seperti itu vin."


"Iya ma, pa."


"Maksud Adit, biar anak Adit dulu baru setelah itu suapi Adit."


Adit langsung mengambil sendok yang di tangan Vina, ia menyuapkan makanan itu sendiri ke mulutnya. Adit hanya ingin selalu di manja istri nya, bukan karena kurang di manja oleh orang tua nya. Tapi menurut Adit sendiri menikmati suapan dari Vina adalah bentuk syukur nya, karena telah bisa mendapatkan wanita yang di cintai nya.

__ADS_1


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.


See you...


__ADS_2