
Waktu sudah menunjukkan saatnya sholat isya', kita sekeluarga sholat berjamaah, khusu' insya Allah.
Setelah sholat, tak lupa mencium punggung tangan kedua orang tua, lalu mama mengajakku ke dapur. Karena sebentar lagi ada tamu ke rumah.
"Mama masak banyak banget," ucapku melihat masakan yang akan dihidangkan.
"Iya habis ini kamu ganti baju ya, masa iya ada tamu kamu pakai baju tidur," jawab mama tersenyum.
"Vina di kamar aja ya ma, gak usah temui mereka," aku menolak menemui tamu mama.
"Gak boleh Vin, tamunya ini teman mama, kamu kan belum kenal mereka," ujar mama.
"Nah makanya itu ma, karena Vina gak kenal, jadi gak usah temui mereka," jawabku lagi sambil cengengesan.
"Bisa gak? kalau mama minta gak usah di bantah," ucapan mama membuat ku langsung terdiam.
"Yaudah sana siap-siap, bentar lagi tamunya datang." Mama menyuruhku untuk bersiap.
'tadi suruh bantu di dapur, sekarang suruh ke kamar siap-siap' batinku
"Jangan ngebatin," mama seperti mengetahui.
"I-iya ma, Vina ke kamar," jawabku dan berlalu meninggalkan mama di dapur, menuju kamar.
Di kamar
"Siapa sih bertamu malam-malam," ucapku.
Aku menuju lemari pakaian, untuk mencari baju apa yang akan aku pakai.
"Aku pakai baju apa ya?" tanyaku sendiri sambil meletakkan jari telunjuk di dagu.
Bingung apa yang harus aku pakai, sampai beberapa menit baru aku memutuskan, untuk memakai gamis abu-abu polos, dan jilbab motif sederhana.
Aku memakai nya, lalu memoles sedikit wajahku dengan bedak tabur dan lip tint, supaya tak terlihat pucat.
__ADS_1
Aku mengambil ponsel ku di atas ranjang, mengecek siapa yang mengirim pesan. Grup teman dan sekolah, satu lagi dari kak Adit.
"Apa aku blok aja kak Adit," ucapku sambil menatap kosong ke depan. Namun, dikagetkan dengan ketukan pintu dari luar.
"Vin, udah siap belum? tamunya sudah datang loh," ujarnya dari luar.
"Iya ma, bentar lagi."
"Mama tunggu diluar, ya?" ucap mama.
"Iya."
Aku ngaca lagi(dari pada suruh ngaca, jadi ngaca sebelum disuruh). Setelah dilihat rapi, aku keluar untuk menemui tamu mama.
Aku berjalan ke ruang tamu, aku sedikit menunduk, tidak terlalu melihat siapa tamunya.
"Nah ini dia anak saya, namanya Devina cahaya," ucap mama pada tamu itu.
Aku langsung duduk di samping mama. "Eh Vin salim dulu sama tante ria dan om dirga."
"Vina cantik ya," ucap tante ria.
"iya ma cantik," timpal om dirga.
Aku tersenyum, "makasih tante" sambil melirik ke arah seseorang di dekat mereka.
"Menurut kamu gimana Raka?" tanya tante ria pada anaknya.
Mata kita bertemu, "hm cantik," ucapnya datar.
Para orang tua tersenyum, mendengar ia mengatakan aku cantik. Namun, aku tetap menatap nya tak kalah datar.
"Gimana langsung aja kita bicarakan tentang perjodohan anak kita," ucap om dirga.
"Hah? jadi-" Aku terkejut, ternyata tamu di depan ku ini, yang akan dijodohkan dengan ku.
__ADS_1
"Iya Vin, Raka yang akan dijodohkan sama kamu, namanya Raka bumi, gimana tampan kan?" tanya mama.
Papa dari tadi hanya diam, aku tau papa ngerti dengan yang aku rasakan.
Aku tetap menatap nya, tanpa menjawab pertanyaan mama.
"Vin," mama menyenggol ku.
"Ah iya ma tampan," ucapku sembarang langsung menutup mulut.
'ya tuhan, kenapa sih mulut gak bisa diajak kerjasama'
Raka tampak menarik sudut bibirnya, mendengar ku.
"Sebentar lagi Raka lulus, dan melanjutkan kuliah. Vina nanti kuliah, di kampus yang sama aja sama Raka, gimana pak?" ucap om dirga pada papa.
"Kalau saya sih terserah Vina aja pak," jawab papa.
"Vina boleh keluar sebentar ma?" ucapku tak tahan berada di dalam rasanya.
"Raka temani Vina keluar sana, kalian biar lebih dekat," ujar tante ria malah menyuruh Raka temani aku keluar.
"gak usah tante, Vina sendiri aja permisi," ucapku beranjak dari tempat yang sangat puaanas.
Aku terus berjalan, keluar mencari angin yang terasa sejuk. Duduk di teras depan, melihat gelapnya malam, menikmati semilir angin yang berhembus pelan ke tubuh, sambil memejamkan mata.
"Kenapa kamu tidak menolak perjodohan ini?" tanya seseorang tiba-tiba
.
.
.
bersambung 💃💃💃
__ADS_1