
Vina terbangun saat mendengar suara orang sedang mengaji, ia membuka matanya pelan melihat sisi tempat ia tidur tidak ada Adit. Vina mengambil ponsel nya di nakas, ia melihat jam menunjukkan pukul 03:50.
Sambil menguap Vina keluar untuk melihat siapa yang mengaji. Vina membuka pintu kamar dan melihat Adit yang sedang mengaji di kursi depan kamarnya, walaupun tidak begitu lancar, suara Adit sangat merdu melantunkan ayat suci. Adit berhenti dan menoleh saat melihat istrinya keluar dari kamar.
"Shadaqallahul 'adzim." Adit mencium kitab suci tersebut dengan bacaan terakhir atau tashdiq, untuk menutup bacaan nya.
"Kenapa bangun sayang? Aku mengganggu yah?" Tanya nya menghampiri Vina yang sedang berdiri, setelah dirinya menyimpan Al-qur'an miliknya.
"Nggak kok kak, aku cuma nyari kak Adit kemana."
"Baru di tinggal bentar udah kangen aja." Adit mencubit hidung istrinya, dan membawa masuk kembali ke kamar.
"Kenapa gak bangunin aku, biar kita ngaji nya sama-sama." Adit hanya menatap Vina tanpa menjawab.
"Jangan berpikir aku lebih bisa kak, kita harus saling terbuka dari yang terkecil seperti ini. Bukan maksudnya aku mau mengajari kak Adit, tapi sebagai pasangan kita akan belajar sama-sama semuanya."
"Maafkan aku, yang tidak begitu mengerti tentang agama. Aku merasa bukan laki-laki yang baik untuk di sebut sebagai seorang suami buat kamu, cahaya."
Vina memegang wajah Adit dengan kedua tangan nya. "Kak Adit, aku juga belum tentu baik untuk kak Adit. Tapi disini kita memulai dari awal, sama-sama belajar dan saling menerima kekurangan kita masing-masing, bukan untuk membandingkan mana yang lebih baik."
"Aku minta maaf," ucap Adit. Lagi-lagi Vina mendengar suaminya itu meminta maaf.
"Tidak perlu meminta maaf terus menerus kak, kalau kak Adit tidak salah." Adit mengangguk di depan Vina seperti anak kecil yang baru saja dinasehati.
"Aku mandi dulu yah, siap-siap untuk shalat subuh."
"Bagaimana kalau aku ikut mandi?" Adit langsung semangat membuat Vina mengangkat satu alisnya.
"Memangnya tadi belum mandi?" Tanya Vina curiga.
"Belum, aku sengaja mau mandi bareng sama kamu biar ada temannya di kamar mandi."
"Alasan saja bapak Adit ini, kita gantian aja biar aku yang mandi duluan."
__ADS_1
"Sayang, aku takut kalau mandi sendiri." Rengek nya yang tentu saja itu hanya alasan Adit, mana mungkin ia takut ke kamar mandi sendiri. Dengan berat hati akhirnya Vina mengiyakan untuk Adit juga ikut mandi bersamanya.
Susah jika mempunyai pasangan seperti Adit, yang sangat manja jika bersama.
...******...
"Kamu gak ada niatan mau pakai mobil? Kan sekarang sudah ada mobil sendiri."
"Aku kan belum di ajari mengemudi sama kak Adit, dulu pernah cuma aku nabrak pohon." Adit tertawa mendengar Vina pernah nabrak pohon.
Vina memanyunkan bibirnya menatap Adit.
"Weekend kita belajar mengemudi yah? Sayang dong mobil nya kamu anggurin."
"Apelin aku aja, lagian kak Adit kan bisa gonta ganti mobil."
"Beda sayang, itu kan pemberian aku buat kamu sebagai mahar, jadi hak kamu bukan punya aku. Punya suami milik istri, tapi kalau punya istri tetap punya istri."
"Aku tidak permasalahkan itu kak, yang disini berarti milik kita bersama. Aku gak mau kak Adit jadi enggan mau nyentuh barang-barang aku, karena slogan itu."
"Maaf ya om, gak usah colek-colek anak perawan." Tentu saja mendengar ucapan Vina Adit tertawa.
"Yakin masih perawan?" Goda Adit.
"Ayo berangkat kak, nanti aku telat ke kelas." Rengek Vina memegang tangan Adit.
"Jangan manja gitu dong, jadi pengen di rumah aja. Gimana kalau kita cuti?" Adit mengedipkan satu matanya.
"Kak Adit aja sendiri yang cuti, aku mau berangkat sendiri." Vina beranjak dari tempat duduknya.
"Sayang tungguin aku dong, jangan ngambek lagi. Kita gak jadi cuti, tapi malam tetap gak ada libur." Adit sedikit berteriak mengikuti Vina yang berjalan cepat keluar.
"Gak usah teriak dong kak, malu kalau kedengeran orang." Saat Adit sudah di samping Vina.
__ADS_1
"Kenapa? Kebutuhan sayang. Lagi pula orang-orang disini sudah pasti begitu di rumah dengan istrinya."
"Nggak, hanya kak Adit aja."
"Bagus dong berarti aku laki-laki normal." Adit mencium Vina saat sudah membukakan pintu mobil.
"Upnormal banget."
"Ada tetangga sebelah pindahan baru, lumayan ganteng juga. Postur tubuhnya perfect rahangnya tegas dan wow." Vina sengaja mengatakan itu, ingin melihat apa reaksi suaminya. Memang ada pindahan baru di sebelah rumahnya itu satu keluarga dengan satu anak lelakinya yang masih kecil, dan di sebelahnya lagi baru ada laki-laki yang tinggal sendiri, namun masih duduk di bangku sekolah.
Adit yang baru saja akan menyalakan mesin mobilnya berhenti, dan menatap Vina. "Tetangga yang mana? Sebelah kiri atau kanan?"
"Dua-duanya cogan kak, sering nyapa aku kalau lagi jogging. Katanya gini, halo Vina, kamu cantik banget deh."
"Aku gak yakin kalau mereka lebih ganteng dari aku."
"Dari mereka berdua, memang level ganteng nya tuh berbeda. Kalau misalnya yang satu disini, dan yang satu disini. Lalu kak Adit- disini." Vina menunjukkan level ketampanan mereka dengan tangan nya yang setara di dada, namun jika ketampanan Adit di atas kepala. Adit jadi salah tingkah melihat nya, ia tak mampu untuk tidak tersenyum, Adit menarik pelan tangan Vina untuk di bawanya keluar.
"Kita masuk lagi aja yuk, kita ciptakan yang levelnya setara dengan ketampanan ku." Vina memukul pelan lengan Adit.
"Kalau kak Adit belum mau berangkat gak pa-pa, aku ajak cogan sebelah aja."
"Jadi sayang jadi, ayo kita berangkat. Pasang dulu seatbelt nya biar bidadari tidak terbang." Adit memasangkan nya agar istri cantiknya aman.
Kini Vina yang di buat salah tingkah mendengar ucapan Adit.
Terserah kalian dah, othor dah males lihat ke uwuan ini.
Vina dan Adit : Nikah thor makanya
Kalian melebihi mulut netizen dan tetangga yang julid ya.
Hahahha
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.
See you