Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Waktu berdua bersama senja


__ADS_3

Adit sudah yakin jika istrinya tidak akan membohonginya, bukan karena sebelumnya tidak percaya. Namun ia hanya takut, jika istri yang ia cintai, menyukai lelaki lain. Mendapatkan Vina itu sulit, tidak mungkin ia membiarkannya untuk laki-laki lain.


"Sore nanti aku pulang cepat, aku mau ajak kamu jalan-jalan." Ucap Adit, ia sering pulang untuk sekedar makan siang bersama istrinya.


"Mau kemana kak? Aku males jalan-jalan. Kaki aku cepat pegal kalau jalan jauh." Jawab Vina sambil membenarkan duduk nya, sambil memegang perut nya.


Adit yang melihat istrinya membenarkan duduknya mendekat, lalu mengangkat kaki Vina dan menaruh di atas pahanya.


"Kak Adit-


"Biarkan seperti ini, kamu pasti lelah kan?" Tanya nya sambil memijat kaki Vina.


"Aku hanya dirumah, harusnya kak Adit yang aku pijat, karena sudah seharian di kantor."


"Aku sudah bilang sama kamu, sayang. Lelah ku hilang saat melihatmu." Ucap Adit dengan menampilkan senyum nya yang begitu menawan. Adit sudah mengurangi sifat manja nya, ia hanya meminta Vina memeluknya jika sedang berbaring. Adit menahan rasa ketika ingin di manja, ia tahu istrinya lelah dan sakit dengan kehamilan yang sudah besar.


"Lihat terus kalau gitu, biar selalu semangat."


"Di meja kerja aku di kantor, ada tiga foto kamu yang aku pajang. Terus di dinding kantor, di belakang tempat duduk aku juga ada foto kita. Biar semua orang tahu, kamu milik aku, dan aku hanya milik kamu."


"Kenapa bisa kak Adit begitu mencintai aku?" Tanya Vina.


"Apa yang harus aku jawab? Bukankah mencintaimu tidak perlu alasan? Aku hanya mencintai kamu, lebih dari aku mencintai diri aku sendiri. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi aku bisa membuktikannya dengan cara ku." Air mata Vina mengalir begitu saja, ia sangat bersyukur bahwa Allah sangat lah baik mengirimkan lelaki yang kini menjadi suaminya, begitu mencintainya.


Adit mengusap air mata Vina, ia tidak ingin melihat istrinya menangis.


"Jangan menangis, sayang! Jangan bertanya lagi jika kamu bersedih seperti ini, aku tidak menyukainya."


"Maaf kak." Vina menghentikan tangisnya, dan menurunkan kakinya dari paha Adit. Vina memeluk Adit dengan sedikit bergeser. Tangan kiri Adit mengelus bahu istrinya, sedangkan tangan kanannya mengelus perut Vina yang semakin membesar.


"Kamu jangan menangis lagi, aku sudah berjanji pada Raka, terutama pada diriku sendiri. Kalau aku tidak akan membuatmu bersedih, apalagi sampai menangis. Kamu juga harus ingat, di dalam sini ada anak kita yang akan ikut bersedih jika ibunya sedih." Adit mengingatkan Vina jika di dalam perutnya itu ada anak mereka, seorang anak akan ikut merasakan sedihnya walaupun masih di dalam perut.


"Iya kak, air matanya kan ngalir sendiri bukan maunya aku." Vina memanyunkan bibir nya membuat pipinya semakin lucu seperti bakpao.


"Iya-iya aku percaya, istri aku yang cantik ini perasa banget." Adit hanya mengelus wajah Vina yang gembul.


"Sayang, aku mau kembali ke kantor. Nanti sekitar pukul tiga aku jemput kamu, kita jalan-jalan melihat senja di sore hari yang cantik, walaupun tetap kamu yang paling cantik." Ucap Adit mencolek hidung Vina sambil tersenyum.


"Ayah kamu tidak ada hentinya menggombal setiap hari pada ibu," ucap Vina menatap perutnya.

__ADS_1


"Ayah bukan menggombal, itu nyata adanya. Kalau kamu terlahir perempuan, jangan insecure lihat ibu kamu yang cantik ini. Tapi kalau kamu terlahir laki-laki, jangan coba-coba untuk merebut ibu dari ayah."


"Apaan sih, anak sendiri di cemburui."


"Iya sayang, aku hanya mengingatkan saja kalau dia jangan coba-coba menyaingi ketampanan ayahnya."


"Bukankah kak Adit bilang akan menciptakan yang setara? Sudah pasti menurut aku lebih tampan dari ayahnya."


"Lalu, menurut kamu aku jelek?"


"Memangnya, aku pernah bilang kak Adit tampan?" Tanya Vina terkekeh, melihat wajah Adit yang sudah berubah masam.


"Sayang," rengeknya menggoyangkan tangan Vina. Vina hanya tertawa dengan tingkah laku calon orang tua yang masih saja seperti anak kecil. Vina yakin jika anaknya sudah lahir akan malu dengan tingkah ayahnya yang seperti itu.


...******...


"Sayang," panggil Adit yang sudah datang untuk menjemput istrinya.


"Kemana sih?" Adit mencarinya sampai ke dapur.


"Bi, istri saya kemana ya?"


"Oh makasih ya bi."


"Iya den."


Adit berjalan menuju kamarnya, ia masuk mencari istrinya namun tidak ada di meja rias. Sampai Adit melihat di tempat tidurnya yang sudah penuh dengan pakaian.


"Sayang," panggil Adit.


"Iya kak, sebentar."


Adit mendekati lemari pakaian untuk melihat istrinya disana sedang apa, hingga pakaian yang sudah rapi tergantung bisa menumpuk di ranjang nya.


"Sayang, kamu sedang apa?"


"Kak Adit, aku mau jalan-jalan sama kak Adit. Tapi baju yang pas dan nyaman untuk aku pakai sudah tidak ada yang muat, badan aku membengkak."


"Terus gimana?" Tanya Adit. Vina hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Oh iya aku lupa, aku kan bawain ini buat kamu pakai." Adit menyerahkan paperbag pada Vina, agar istrinya itu memakainya.


"Kenapa tidak bilang jika akan membelikan pakaian? Aku kan gak harus susah-susah mencari di lemari. Terima kasih suami aku yang cantik."


"Hah? Cantik?"


Vina terkekeh, "Salah kak, yang baik dan pengertian, serta tampan." Jawab Vina dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Nakal ya. Aku mandi dulu ya, sayang. Shalat ashar dan setelah itu baru kita berangkat. Hanya butuh sekitar lima belas menitan, aku segera siap."


"Iya, aku beresin ini dulu, sambil siap-siap."


"Tidak perlu, aku saja nanti yang menggantung kembali ke dalam lemari."


"Kak Adit mandi saja, jangan lama-lama."


"Kamu yang lama jika bersiap sayang, aku hanya sebentar."


"Akan lama jika kak Adit tetap disini."


"Baiklah."


Adit dan Vina jalan-jalan membeli makan sebelum melanjutkan untuk melihat senja. Sekitar pukul lima, mereka baru duduk di kursi tepian sungai, menanti datangnya senja. Berpegangan tangan, seakan tidak mau melepaskan satu sama lain. Terikat dalam satu hubungan yang tidak ingin di pisahkan kecuali maut sendiri yang memisahkan mereka.



Banyak orang berlalu lalang, namun tidak mengalihkan pandangan mata Adit, yang hanya tertuju pada cantiknya wajah Vina. Begitu juga Vina menatap wajah Adit dengan tangan yang sambil memasukkan makanan ringan itu ke dalam mulutnya. Adit sudah menyiapkan camilan untuk istrinya saat mereka bersantai menunggu senja seperti ini. Sampai dimana senja yang mereka tunggu sudah tiba, mereka selalu menikmati waktu berdua, dan saat melihat senja seperti ini. Vina bersandar di bahu kekar Adit. Vina begitu suka melihat senja sejak dulu, Adit mengetahui semua yang istrinya sukai, termasuk menyukai dirinya.


Hehe itu lo aja yang kepedean dit.


Diam kamu bu.


Bebu baik, bebu diam.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Jangan lupa baca cerpen othor yang mungkin juga bermanfaat untuk semua


See you...

__ADS_1


__ADS_2