Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Couvade syndrome


__ADS_3

Uwekkk.. uwekkk...


Vina yang mendengar ada seseorang yang muntah dari kamarnya, ia langsung berlari dari dapur.


"Kak Adit kenapa? Ayo kita periksa ke rumah sakit, kak." Ucap Vina membantu Adit yang membasuh mulutnya di wastafel.


"Aku gak apa sayang, kamu gak usah khawatir aku baik-baik aja." Jawabnya berbalik menatap Vina sambil tersenyum.


"Gak usah khawatir gimana kata kak Adit? Kak Adit lagi sakit muntah terus dari semalam, terus aku harus biasa aja gitu?"


"Bukan gitu sayang, kamu jangan marah dulu dong. Aku cuma bilang sama kamu supaya gak begitu khawatir dengan keadaan aku."


"Gimana gak marah kak, aku khawatir dengan keadaan kak Adit sekarang. Tapi kak Adit bilang tidak usah khawatir. Aku takut terjadi sesuatu sama kak Adit." Vina menangis, ia takut kehilangan seseorang yang ia sayang lagi.


Adit memeluk Vina erat, ia tidak bermaksud membuat istri nya bersedih.


"Sayang, maafin aku. Aku cuma gak mau buat kamu khawatir dan terlalu banyak pikiran. Aku gak pa-pa bukti nya sehat-sehat aja."


"Izin dulu ke papa, dan bilang sama kak hendri kalau kak Adit telat masuk kantor, atau tidak masuk hari ini."


"Tapi sayang- Vina sudah menghubungi papa anton.


"Singkat banget."


"Halo pa, Vina mau bicara penting pa."


"Mau bicara apa nak?"


"Hari ini kak Adit- tidak masuk kerja pa," ucap Vina membuat Adit ingin merampas ponsel yang ada di tangan Vina.


"Kenapa dengan suami kamu?"


"Kak Adit sakit pa, dari semalam muntah-muntah. Vina mau bawa kak Adit ke rumah sakit."


"Masa sih sakit? Sakit apa?" Papa Antonius tidak percaya dengan anak nya yang sedang sakit.


"Belum tahu pa, kan belum ke rumah sakit." Adit tertawa saat istri nya menjawab pertanyaan dari papa nya.


"Paling dia cuma mau peluk-peluk kamu vin, tanya aja gitu."


"Adit dengar pa, peluk-peluk mah mau nya tiap detik gak mau lepas."


"Tuh kan, dia mau bolos kerja cuma mau dekat sama kamu terus."


"Kalau boleh Adit gak usah kerja pa, biar dekat sama Cahaya tiap detik."


"Mau kamu kasi makan apa anak orang? Makan rebusan batu?"


"Uang kan sudah ada dari papa, gampang lah."


"Enak aja kamu, papa mah sekarang nabung cuma buat mama, menantu dan juga calon cucu papa."


"Lah, kan Adit anak papa."


"Anak nya sudah bisa cari duit sendiri." Papa Anton tertawa di seberang telepon, namun sepertinya mama tia menegurnya, karena sudah menggoda anak semata wayang nya.


Vina dan mama tia yang sepakat mematikan sambungan telepon, setelah banyak kata unfaedah dari anak dan ayah itu. Vina juga bersiap ke rumah sakit, memaksa Adit untuk mengikutinya. Ia sudah mulai bisa menyetir, awalnya Adit ragu jika istrinya itu yang mengemudi, namun Vina kekeh yang ingin menyetir dan meyakinkan Adit bahwa ia bisa.


...******...


"Silahkan duduk bapak dan ibu, ada yang bisa saya bantu?" Adit dan Vina duduk, mereka hanya saling pandang saat di tanyai dokter.


"Apa ada keluhan yang di rasakan?" Tanya dokter itu lagi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hem, begini dok. Suami saya dari semalam muntah-muntah, jadi kami ingin mengetahui penyakit apa yang di derita suami saya."


"Sayang," ucap Adit memegang tangan Vina.


"Gak usah takut kak," balas Vina. Adit bukan merasa takut, tapi ia tidak merasakan sakit apapun.


Dokter itu tersenyum menatap mereka berdua. "Mari bapak, berbaring di sini." Dokter menunjuk tempat periksa agar Adit berbaring.


"Sayang, ayo ikut." Adit merasa takut jika ia sendiri yang kesana.


"Kak Adit bisa sendiri, kenapa ngajak aku sih."


"Ayo!" Akhirnya Vina mengikuti suami manja nya itu.


"Jangan di suntik dok, saya akan pingsan jika dokter suntik saya sekarang."


"Saya hanya akan memeriksa bapak, bukan membedah bapak. Jadi tenanglah!"


Setelah dokter memeriksa Adit. "Tidak apa-apa dengan anda, harus nya yang di periksa itu istri anda."


Adit melirik Vina yang menatap bingung dokter karena ucapan nya, mereka kan datang untuk memeriksa keadaan Adit. Bagaimana bisa ketika disana malah Vina yang punya penyakit.


"Apa maksud dokter, saya kenapa? Suami saya yang sakit, kenapa harus saya yang di periksa?"


"Dokter cari kesempatan saja, istri saya tidak sakit."


Dokter itu hanya tersenyum. "Bukan periksa dengan saya, tapi saya akan mengusulkan kalian ke poli obgyn."


"Poli obgyn itu apaan dok?" Tanya Adit.


"Kalian keluar dari ruangan ini, ruangan nya lurus di pojok sebelah kiri."


'Baiklah dok, kita akan kesana."


"Terima kasih dok"


"Kami permisi." Dokter mengangguk, lalu Adit dan Vina keluar untuk mencari ruang poli obgyn.


"Poli obgyn itu apa ya? Kayak pernah dengar."


"Kamu yang sering baca buku aja gak ngerti, apalagi aku yang belajar nya hanya hitung menghitung."


"Menurut kak Adit emang aku ngerti, aku juga belajar tentang pasal."


"Kita lihat aja disana ruang apa, atau jangan-jangan ruang mayat? Sayang..." Ucap Adit memeluk Vina.


"Kak Adit, di sini ramai orang yang lihat, bukan dirumah." Adit melihat sekeliling memang banyak orang yang melihat nya. Adit langsung melepas pelukan nya dari Vina dengan gaya nya yang sedikit membenarkan pakaian.


Mereka bingung ketika sampai di ruang obgyn ada beberapa ibu-ibu hamil yang berada di luar. "Kita tidak salah ruangan kan kak?"


"Benar kok, yang di katakan dokter tadi ruang obgyn pojok sebelah kiri."


"Lalu kenapa banyak ibu-ibu hamil?"


"Kenapa mas, mbak? Apa mau periksa kandungan juga?"


"Periksa kandungan?" Tanya Adit dan Vina terkejut.


"Disini kan ruangan untuk periksa kandungan, lalu kalian sedang apa kemari?"


"Kita tadi disuruh ke ruang poli obgyn, tapi tidak tahu obgyn itu apa?"


Para ibu-ibu itu hanya saling pandang, melihat mereka berdua kebingungan. Kini sudah waktunya mereka masuk ke ruang periksa.

__ADS_1


"Apa kalian ingin periksa kandungan?"


"Kita juga bingung dok, kita datang ke rumah sakit untuk periksa keadaan suami saya. Tapi dokter nya bilang saya yang harus nya di periksa, dan mengusulkan ruang poli obgyn."


"Kalau seperti itu yang di katakan dokter, mari kita periksa dulu. Silahkan berbaring disini."


Setelah selesai di periksa, dokter mengajak Vina untuk kembali duduk.


"Apa sebelumnya kalian tahu ruang poli obgyn?"


Mereka menggelengkan kepalanya. "Kita tidak mengetahui nya dok."


"Poli obgyn adalah ruangan dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Bisa konsultasi terkait masalah-masalah lain seperti kesehatan reproduksi wanita atau juga bisa di sebut sebagai dokter kandungan."


"Jadi sebenarnya penyakit apa yang di alami istri saya dok?" Adit memegang tangan Vina, ia menguatkan Vina. Apapun yang terjadi, ia akan selalu bersama istrinya.


"Penyakit? Tidak ada penyakit."


"Lalu apa yang terjadi? Apa kita salah rumah sakit sayang, dari tadi kita tidak menemukan jawaban nya dari dokter."


"Aku juga bingung kak, tapi ini rumah sakit yang biasa kita periksa."


Dokter wanita itu tersenyum. "Istri anda hamil"


"Oh hamil," ucap mereka berdua saling pandang.


"HAMIL?" Tanya mereka sedikit berteriak.


"Iya, istri anda sedang hamil."


"Benaran dok?" Tanya nya sekali lagi membuat dokter itu tersenyum sambil mengangguk.


Adit langsung memeluk Vina, dan mengecup seluruh bagian wajah Vina.


"Kak Adit, ada dokter." Adit tersenyum


"Tidak apa, saya memaklumi nya."


"Kenapa saya tidak merasakan apa-apa dok? Tapi suami saya yang muntah-muntah."


"Anda mengalami kehamilan simpatik."


"Kehamilan simpatik?"


"Iya, kehamilan simpatik adalah rasa mual dan muntah yang di alami oleh suami. Suami anda bisa merasakan apa yang di alami oleh ibu hamil, yang bisa di sebut juga dengan sindrom couvade."


"Baiklah kita sudah mengerti dok."


"Terima kasih dok, sudah menjelaskan semuanya."


"Tapi ada beberapa lagi yang harus di perhatikan."


"Seperti apa dok?"


"Untuk tidak berhubungan badan, kalaupun ingin melakukan nya harus hati-hati dan jangan sampai menimpa bagian perut."


"OH seperti itu,terima kasih dok."


"Sama-sama, jaga pola makan dan olahraga santai."


"Baik dok kami permisi."


Adit berjalan gontai keluar dari ruangan, namun ia tetap menggandeng tangan Vina. Vina yang melihat itu hanya terkekeh, ia sudah tahu yang di pikirkan suaminya.

__ADS_1


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love..


See you...


__ADS_2