Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Naya tidak laku?


__ADS_3

Hendry dan Adit sudah tahu semua tentang Reva dan Sheryl, sungguh sangat boleh di acungi jempol untuk merampas kebahagiaan orang lain, mereka sangat ahli dalam hal itu. Namun Hendry dan Adit tidak akan membiarkan itu terjadi, mereka berdua tidak akan membiarkan Dimas menyetujui nya. Mereka sudah ada seseorang yang akan membantu Dimas, walaupun Adit masih tidak suka jika Dimas menatap istrinya. Kali ini Adit menyuruh Hendry untuk mengajak Dimas makan siang bersama, ia juga mengajak istri dan teman-teman nya disana.


"Lo yakin 'kan dit? Gue takut mereka gak setuju." Ucap Hendry menatap sahabatnya, dan melirik tiga gadis di hadapannya.


"Lo tenang aja hen, palingan lo yang di bogem." Jawab Adit terkekeh, karena orang itu lumayan berani dan bisa beladiri.


"Lo jangan macem-macem dit, gue bisa bonyok." Hendry mengusap wajahnya, takut jika wajah tampan nya rusak.


"Sebenarnya ada apa? Kita mau ketemu siapa kak?" Tanya Vina pada suaminya.


"Kenapa sayang? Kamu bosan yah? Apa baby Dev gak suka?"


"Bukan, tapi kalian berdua mencurigakan. Apa yang kalian rencanakan?" Tanya Vina penasaran.


"Iya, aku juga bingung. Kenapa sampai bawa kita kesini? Kita sedang menunggu siapa?" Tanya Nina yang tingkat keponya tinggi.


"Kamu hanya perlu tenang beb, kalau ada apa-apa dengan aku, kamu bantu ya?" Membuat Nina mengeryitkan dahinya.


"Sebenarnya ada apa? Aku juga masih ada kerjaan." Tanya Naya, yang bekerja tidak di tempat yang sama dengan mereka.


Adit dan Hendry tidak menjawab, mereka hanya tersenyum.


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang yang baru saja datang.


Mereka semua menoleh ke arah orang itu, yang di tunggu sudah datang.


"Wa'alaikum salam."


"Halo bro, akhirnya lo datang juga."


"Maaf ya telat." Jawabnya duduk di sebelah Hendry.


"Dimas? Kenapa kalian berdua menunggu Dimas?"


"Kita akan mulai sekarang? Atau mendengarkan dulu pertanyaan kalian?" Tanya Adit.


"Nanti kalian akan tahu, kalau kita sudah menjelaskan. Apa yang akan kita bicarakan disini."


Vina dan sahabatnya mengangguk, dari pada lama tidak juga mereka jelaskan, lebih baik diam saja.


"Sebelumnya, gue sama Adit mau minta maaf. Karena sudah lancang ingin ikut campur dengan masalah pribadi lo." Ucap Hendry.


"Maksud kalian?" Dimas tidak mengerti dengan yang di ucapkan Hendry.

__ADS_1


"Lo aja dit, gue orangnya gak bisa jadi bos, malas untuk jelasin panjang lebar." Hendry menyuruh Adit yang menjelaskan.


"Sumpah gak guna banget gue jadiin lo sekretaris." Ucap Adit bercanda pada sahabatnya, namun di pelototi oleh istrinya.


"Bercanda sayang." Menaikkan dua jarinya membentuk v.


Dimas melirik Vina, ia menatap Vina lama.


Ekhhhemmmm..


Adit membuat Dimas salah tingkah karena sudah menatap Vina.


"Dimas, gue dan Hendry cuma ingin membantu lo." Ucapan Adit sama saja dengan Hendry yang membuat mereka tidak mengerti.


"Jadi gini maksud gue itu, gue dan Hendry sudah tahu tentang lo yang disuruh menerima tawaran dari Reva."


"Kenapa kalian tahu, padahal gue belum bicara sama siapapun." Dimas terkejut, karena Adit dan Hendry mengetahui desakan dari papa nya.


"Kita tahu dari siapa itu gak penting, tapi kita cuma mau bantu agar lo tahu kalau sebenarnya -


Adit menggantung ucapan nya, ia menatap Dimas dan yang lain. Hanya Hendry dan Nina yang tahu hal itu.


"Sebenarnya, Reva mendesak papa, lo. agar lo mau menikahi nya, karena dia sudah mengandung." Ungkap Adit membuat Vina, Naya dan juga Hendry terkejut.


"Lo memang pasti gak percaya, tapi kita punya buktinya. Awalnya gue juga begitu, sama kayak lo." Hendry memberikan rekaman itu pada Dimas, agar semua nya juga bisa mendengar obrolan Reva dan Sheryl yang Hendry dan Nina rekam diam-diam.


Mereka mendengar pembicaraan itu, saat sudah mereka dengar semuanya. Mereka tidak percaya dengan ya g di lakukan Sheryl dan juga Reva.


"Jadi, gue sama bokap gue di bohongin sama Reva?" Dimas akan memberitahukan papa nya lewat ponsel.


"Dimas, tunggu! Lo mau hubungi pak baskara?"


"Iya siapa lagi? Biar papa tahu, kalau dia di bohongin selama ini."


"Jangan dulu, biar papa lo gak tahu aja masalah ini."


"Terus gue harus gimana?" Tanya Dimas kembali meletakkan ponsel nya.


"Kita juga harus membantu Reva, membuat laki-laki yang menghamili nya bertanggung jawab."


"Bukannya papa lo bilang, kalau lo punya pacar dan dia mau di nikahi, lo akan terbebas dari desakan yang harus menikah dengan Reva."


"Tapi, gimana caranya? Gue aja gak punya pacar, apalagi mau diajak nikah." Dimas mengatakan dengan jujur, jika dirinya memang tidak memiliki kekasih.

__ADS_1


"Bagaimana kalau istri, lo?" Ucap Dimas yang tentu membuat Adit langsung naik darah.


"Dit, Dimas bercanda doang kali. Dia sudah tahu kalau Vina udah punya suami." Adit kembali duduk, dengan nafas yang memburu.


"Kita ada seseorang yang akan menikah dengan lo."


"Siapa?" Tanya mereka.


Adit menatap Naya, yang diikuti oleh Hendry, Nina dan Vina.


"Kenapa kalian lihatin aku begitu? Jangan bilang kalau yang kalian maksud, aku?" Mereka semua mengangguk, Dimas hanya menatap Naya, karena dia juga tidak mengenal Naya.


"Kalau begitu, aku tadi gak kesini. Aku belum memikirkan hal itu."


"Nay, seperti nya saran kak Adit dan kak Hendry boleh juga. Dimas juga laki-laki yang baik."


"Iya nay, aku yakin Dimas bisa menjadi suami yang baik buat kamu."


"Kalian sekarang mulai jodoh-jodohin aku? Apa aku seperti tidak laku? Tidak bisa mendapatkan laki-laki pilihan aku sendiri?" Tanya Naya yang membuat Nina dan Vina merasa tidak enak sudah berkata seperti itu.


"Kalau Naya tidak mau, jangan di paksa. Biar gue cari cara sendiri."


"Bagaimana, kalau hanya sebatas membantu. Ini juga untuk Reva, kasihan dia jika anaknya tidak punya ayah yang bertanggung jawab." Dimas dan Naya nampak berpikir, walaupun Naya sempat menolak. Bisa saja ia akan menerima demi membantu Reva.


Dimas hanya diam menunggu jawaban dari Naya.


"Aku menerimanya." Membuat semua nya tersenyum, begitu juga dengan Dimas.


"Tapi, ini hanya untuk membantu anak Reva. Aku tahu rasanya tidak memiliki ayah, sejak ayahku meninggal." Mata Naya berkaca-kaca, Hendry yang tingkat lebaynya sama dengan Nina. Menghampiri Naya dengan memberikan tisu. Namun saat mengambil tisu dari tangan Hendry, Naya memutar tangan Hendry ke belakang.


Mereka tertawa saat Naya melakukan itu. "Sudah nay, aku minta maaf."


"Nay, kasian kak Hendry." Naya melepaskan tangannya, ia mengelap air mata yang hampir mengalir.


"Bisa-bisa kalau gue macam-macam setelah menikah, bakalan di geprek hancur gue sama Naya." Batin Dimas.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...

__ADS_1


__ADS_2