Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Terjebak lift macet


__ADS_3

Hari ini Vina sudah di temani kedua sahabatnya, mereka janjian akan ke kantor Adit siang hari. Kedua sahabat Vina, Naya dan Nina menjemput ibu satu anak itu untuk berangkat ke kantor. Naya sudah tidak bekerja dengan Adit, ia akan melanjutkan nya bekerja di kantor agama, sesuai dengan gelar nya SH. Berbeda dengan Nina yang bekerja agar dekat dengan pacarnya, walaupun berbeda dengan jurusan nya ia merayu Vina, agar suami sahabatnya itu mau menerima nya di kantor.


"Sekarang kita sudah bisa berangkat." Ucap Nina.


"Tolong bawakan tas anak aku, popok dan perlengkapan lainnya ada di tas itu soalnya. Kalau ketinggalan susah nanti."


"Siap Vin, kamu mah tenang aja. Aku akan bawa semua nya, kalau bisa lemari kamu juga." Ucap Nina sembarang.


"Memangnya kamu bisa bawanya?" Tanya Vina yang sambil menggendong baby dev.


"Tentu saja gak bisa." Jawabnya diiringi tawa nya, kedua sahabatnya yang memang mengenal Nina, hanya menggelengkan kepalanya.


"Bibi kira neng Nina bisa bawa lemari serta pakaian nya, hebat juga. Tapi ternyata gak bisa toh."


"Jangan percaya dengan ucapan ngawur nya bi, Nina kan hanya pura-pura kuat." Timpal Naya.


"Bi, Vina sama baby dev ke kantor kak Adit dulu ya. Bibi kalau mau pulang awal juga gak apa." Karena bibi art nya tidak menginap di rumah Vina.


"Iya neng, bibi mah santai nanti sama bapak." Jawabnya mengelus wajah baby Devan.


"Kasep pisan baby dev nya, perpaduan sekali ibu dan ayahnya." Ucap bibi.


"Makasih bi, baby dev langsung malu di bilang ganteng sama bibi ya." Melihat anaknya yang mengusap wajah dengan tangan nya yang sudah tersarung.


"Masih kecil aja udah bisa salting baby dev mah, pasti kalau besar pintar jadi playboy."


"Husstt, jangan dong. Iya kan sayang? Baby dev kan baik ya nak."


"Ayo berangkat, nanti aku harus kerja jam dua an." Ucap Naya yang harus bekerja sesuai peraturan. Tidak seperti Nina apalagi Vina yang boleh diatur sendiri sesuka hati.


"Bi, kita berangkat dulu ya."


"Iya neng, hati-hati di jalan."


"Iya bi, assalamu'alaikum." Ucap mereka berpamitan pada bibi sebelum berangkat ke kantor.


"Wa'alaikum salam." Jawabnya sambil mengantar majikan nya itu keluar.


...******...


Mereka telah sampai di kantor Adit, mereka turun dari mobil membantu Vina membawa barang yang akan di perlukan baby dev.


"Kamu kenapa berhenti dari sini sih Nay?" Tanya Nina yang kesepian, walaupun masih ada pacarnya disana. Namun tetap berbeda dengan saat bersama sahabatnya.


"Aku merasa disini bukan tempat aku nin, aku kurang sesuai bekerja disini. Walaupun sudah mengenal bos dan sekretaris serta pasangan mereka. Tapi yang namanya kurang cocok, mending aku berhenti."


"Iya, kalau tidak cocok tidak perlu di paksakan Nay." Naya mengangguk, setuju dengan yang di katakan sahabatnya.


"Tunggu, bukannya itu Reva." Ucap Vina pada sahabatnya melihat Reva sedang berjalan bersa seseorang.

__ADS_1


"Itu mantan kak Adit kan?" Tanya Nina


"Tidak usah di sebut juga nin," jawab Naya yang melihat Vina, ia takut sahabatnya itu tidak suka jika menyebut sebagai mantan suaminya.


"Tapi sama siapa ya? Kok sepertinya tidak asing." Mereka melihat lelaki yang jalan berdampingan dengan Reva, seperti nya mereka mengenalinya.


"Dimas." Ucapnya bersamaan.


Oekkk oekkk...


"Ushh,, Sayang ayo kita masuk. Kita masuk aja yuk, nanti kita bicarakan di dalam." Ucap Vina karena baby dev sudah menangis di luar sedikit panas.


Mereka masuk ke dalam kantor, untuk menuju ruangan Adit. Mereka berpapasan dengan Sheryl yang baru saja keluar dari ruangan nya.


Terlihat jelas jika Sheryl membenci mereka semua, karena Hendri direbut oleh Nina.


Vina yang menggendong anaknya terus menepuk-nepuk badannya, supaya anaknya itu tidak menangis. Vina membawa stroller, namun diisi dengan barang bawaan baby dev.


"Siang bu Vina," sapa nya dengan wajah datar.


"Siang Sheryl." Jawab Vina dengan tersenyum. Setelah menyapa istri bos nya, Sheryl langsung pergi begitu saja.


"Orang gak tahu sopan santun begitu pakek di jawab segala, mending kita langsung masuk aja."


"Nanti gak di jawab dikira sombong, di bilang sok."


"Loh kok mati, gimana ini? Tolong hubungi kak Hendry atau kak Adit nin."


Oekkk Oeekkk


"Ush ush sayang, sabar ya nak."


"Jangan panik, kita sama-sama disini. Aku mau hubungi kak Hendry dulu." Nina yang menghubungi Hendry tidak terjawab, ia langsung menghubungi Adit, dan itu langsung di angkat oleh Adit.


"Halo pak."


"Ada apa Nina? Kalau ada sesuatu langsung keruangan saya."


"Pak, ini masalah Vina."


"Kenapa dengan Cahaya?" Tanya nya khawatir.


Nina langsung mendekatkan ponselnya, agar Vina sendiri yang berbicara pada suaminya.


"Kak Adit, tolong kak! Kita terjebak di dalam lift menuju lantai atas, tapi lift nya macet dan lampu mati."


"Astaghfirullah, berarti kamu sama Devan juga?"


"Iya cepat kak."

__ADS_1


"Sabar sayang, aku hubungi teknisi nya."


Oeekkk oekkk Suara tangisan baby dev juga terus keluar, Vina juga ikut menangis, ia ingat kembali saat dirinya di sekap.


"Nina, Naya. Tenangkan Devan dan Cahaya, saya mohon kalian jaga mereka, jangan panik tunggu sebentar saya hubungi orang dulu."


"Iya kak."


Tubuh Vina merosot disana, untung saja Naya cepat mengambil baby dev. "Vina, kamu tenang dulu, tidak akan terjadi apa-apa. Ada aku dan Naya disini, tenang ya." Ucap Nina mencoba untuk menenangkan Vina yang sudah gemetar dengan wajah yang di telungkupkan di kedua lututnya.


"Kak Adit" Panggilnya membuat Nina bingung, ia juga takut namun masih bisa untuk ia tetap tenang. Naya juga mencoba menenangkan baby dev yang mungkin terasa panas disana juga gelap.


Tak berapa lama sekitar lima belas menit an, lampu lift sudah menyala dan pintu nya terbuka. Terlihat disana beberapa staff di lantai atas dan teknisi juga Adit serta Hendri yang menunggu, karena di dalam lift di kabarkan ada istri dan anak bosnya.


"Sayang," panggil Adit memeluk Vina. Nina langsung memeluk Hendry, sedangkan Naya bersama baby dev yang sudah mulai tenang.


"Hiks, aku takut kak." Jawabnya membalas pelukan Adit.


"Sudah ya, pintu nya kan udah kebuka banyak orang di depan." Ucap Adit pelan.


"Suruh mereka pergi kak." bisiknya. Karena ia sudah merasa tenang ada Adit sekarang, ia malu jika terlihat menangis seperti itu.


"Kalian boleh bubar, kembali bekerja. Terima kasih ya semuanya."


"Baik pak."


"Makan sepuasnya hari ini, bungkus juga terserah. Saya yang akan bayar, karena kalian sudah membantu istri dan anak saya."


"Iya pak, terima kasih." Ucap mereka lalu pergi.


Adit membantu Vina berdiri, baru istrinya itu ingat jika baby dev tidak bersamanya.


"Ya ampun, maafkan ibu nak." Menghampiri baby dev yang bersama Naya.


"Makasih ya Naya, Nina. Coba kalau gak ada kalian mungkin aku sama baby dev."


"Husttt kamu jangan sembarangan bicara, yang terpenting sekarang kalian selamat. Ayo keruangan aku saja di dalam."


Mereka masuk ke dalam ruangan Adit, baby dev tetap bersama Naya.


"Kenapa gak mampus aja lo." ucap seseorang mengintai mereka yang menuju ruangan Adit.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain.


IG : @istimariellaahmad98


See you...

__ADS_1


__ADS_2