
"Tapi, apa mungkin Raka masih bisa disembuhkan kak?" tanya Raka.
"Jangan menyerah dek, optimis bahwa kamu itu masih bisa sembuh," jawab kak Farhan meyakinkan Raka.
'Walaupun kakak juga gak tau' batinnya
"Raka," aku memanggil Raka, karena tidak balik ke dalam.
"Kak, Vina manggil, aku masuk dulu ya."
"Iya, kakak juga mau pulang. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, Kamu juga jangan ke kost mulu, pulang ke rumah biar mama sama papa gak curiga."
"Iya kak," ucap Raka tersenyum.
Setelah kak Farhan pergi, Raka masuk lagi ke ruang rawat inap ku.
"Ada apa, hm?" tanya Raka.
"Kenapa lama sekali di luar? ngomong apaan sih?" tanyaku penasaran.
"Gak ada apa-apa, cuma kak Farhan bilang nyuruh aku sering pulang aja, kan sekarang aku sering di kost."
"Oh, kirain ngomongin sesuatu yang gak Vina ketahui."
"Kamu mah suudzan mulu, gak lah," Raka tersenyum.
'Maafin aku vin'
"Vina boleh minta tolong gak?"
"Kamu mau minta tolong apa? kamu mau sesuatu?" tanyanya menatapku.
Wajah Raka menurut ku sangat lucu, hingga aku tertawa menatap nya.
"Loh ditanya malah ketawa."
"Wajah kamu lucu banget pas nanya gitu, haha."
"Kamu lebih lucu dari aku," ucapnya mencubit pipi ku.
"Mulai lagi," ucapku cemberut.
Sekarang Raka yang tertawa, "Kamu mau apa?"
"Vina mau makan disini, mau makan mie ayam," ucapku girang.
__ADS_1
"Oke aku beliin."
"Jangan lupa minta cabe nya banyak, sama kasi bakso yang isinya cabe."
"Tapi kan kamu-
"Dikit aja please," aku memohon pada Raka dengan mengatupkan kedua tangan ku.
Raka menghela nafasnya, "yaudah iya, tapi dikit aja!"
"Oke makasih ganteng," ucapku tersenyum.
"Kalau ada maunya aja dibilang ganteng," ucapnya.
Aku hanya cengengesan.
Raka langsung keluar, karena di kantin rumah sakit ada yang jual mie ayam.
Sambil nunggu Raka datang, aku nonton sambil baca-baca buku juga.
Setelah lama menunggu, Raka akhirnya kembali membawa satu kantong kresek kecil, yang isinya mie ayam pesanan ku.
"Yeay mie ayam," ucapku setelah Raka masuk.
"Ya ampun, yang di tunggu cuma mie ayam, aku nya gak di tungguin?" Raka memanyunkan bibirnya pura-pura marah, karena aku nungguin mie ayam.
Raka juga ikut tertawa, karena dirinya cemburu sama mie.
Aku membuka kreseknya, "kenapa cuma beli satu?" tanya ku.
"Ya kan kamu yang mau mie ayam nya."
"Kita bagi dua ya."
"Aku gak laper Vin."
"Kapan makannya?" tanyaku karena tidak sekalipun melihat ia makan.
"Tadi di kost."
"Tapi ini banyak loh, Vina gak mungkin habis."
"Ya udah kita bagi dua." Aku tersenyum karena aku tau Raka pasti belum makan.
Aku dan Raka makan sebungkus berdua. "Aku suapin kamu," Raka menyodorkan nya ke depan mulutku.
__ADS_1
Aku melahap nya dan tersenyum sambil mengunyah.
Ada suara ketukan pintu dari luar.
Aku dan Raka melihat ke arah pintu, ternyata ada orang tuaku dan orang tua Raka.
Mereka masuk dan melihat ku dan Raka makan mie ayam berdua.
"Eh mama sama papa, om tante, ini Raka-
"Udah gak apa, lanjut makan aja."
Aku dan Raka jadi grogi untuk melanjutkan makan apalagi di depan orang tua, makan sebungkus mie ayam berdua. Sedap malunya.
"Raka kamu lanjut aja, Vina udah kenyang," ucap ku sedikit berbisik.
"Aku juga udah kenyang."
"Kenapa kalian?" tanya tante ria.
"Kita udah habis banyak ma, udah kenyang," jawab Raka aku hanya tersenyum.
"Mana mama lihat," tante ria mendekat ke brankar.
"Kalian malu yah sama kita?"
"Gak kok ma."
"Gak tante," aku berbarengan dengan Raka.
'Udah tau nanya sih mama'
"Kamu udah baikan Vin?" tanya mama.
"Iya ma udah." Raka memberikan tisu, dan membawa bungkusan mie nya ke meja.
Jangan lupa like vote komen
Just call me chinggu (teman) oke 😉
Annyeong 🤗
.
.
__ADS_1
.