Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Ke rumah adit


__ADS_3

"Mama gak tau, tapi katanya mau ngomong sama kamu," ucap mama padaku.


'mau ngapain kak Hendri kesini?' batinku


"Mama keluar ya," ujarnya lalu keluar dari kamar.


"Kak Hendri yang dulu sering kesini kan kak?" tanya ila.


"Iya kamu tau kan? yaudah kak Vina keluar ya," ucapku pada ila.


dibalas anggukan kepala.


Aku keluar dari kamar, untuk menemui kak Hendri. Berjalan ke ruang tamu, ternyata ada 2 orang disana.


'ya ampun kenapa Raka belum pulang' aku mendekati keduanya yang duduk bersebelahan.


"Kak Hendri." Raka menatap ku datar.


"Vina, aku mau ngomong," ucapnya sambil melirik Raka.


"Ngomong aja, gue mau denger lo mau ngomong apa?" ujar Raka pada kak Hendri.


'haduh jangan bilang mau ngomong kak adit' batinku


"Aku kesini mau-


"Mau apa lo?" tanya Raka memotong ucapan kak Hendri.


"Raka bisa diem gak!" geram dengan Raka.


Hendri sebenarnya takut disini, mau ngomong karena ada Raka.


"Ini masalah Adit Vin," ucap kak Hendri menatap ku, dan aku melihat Raka mengepalkan tangannya.


'tuh kan'


"Kenapa dengan kak Adit kak?" tanyaku.


"Adit, selalu murung Vin, mamanya tadi nelpon, minta kamu kerumahnya. Karena Adit manggil-manggil nama kamu terus," ujar kak Hendri.


"Tapi Vina gak bisa kak," ucapku menunduk.


"Aku mohon Vin, biar Adit kembali seperti dulu," pinta kak Hendri.


"Maksud lo, Vina suruh balik sama Adit gitu," Raka membuka suara lagi.


"Bukan, maksud gue, biar Vina ngomong baik-baik sama Adit, beri waktu mereka berdua sebentar. Gue tau Adit pasti nerima itu." Aku mendongak kan lagi kepala ku.

__ADS_1


"Vina bisa kok, ketemu kak Adit," ucapku.


"Gue ikut." Raka ingin ikut ke rumah kak Adit.


"Tapi lo-


"Biarin aja Raka ikut ke rumah kak Adit kak." Kak Hendri mengangguk.


Aku juga belum pernah ke rumah kak Adit, apalagi ketemu orang tuanya. Dulu kak Adit hanya memberi tau ku lewat foto mereka.


Kita berangkat kerumah kak Adit, aku dan Raka pakai mobil, karena aku baru pulang dari rumah sakit. Jadi mama membolehkan asal ada yang anterin.


Aku dan Raka mengikuti kak Hendri, yang mengendarai motor sport nya dari belakang.


Tak lama di perjalanan, hanya butuh 20 menitan untuk sampai di rumah kak Adit.


Rumah besar dengan warna putih, halaman yang juga luas. Aku melihat sekeliling rumah kak Adit, sangat bagus.


Aku dan Raka di belakang kak Hendri, menuju pintu rumahnya.


Kak Hendri memencet bel rumah kak Adit, tak lama ada seseorang yang membuka pintu itu.


cklek.....


Terlihat lah wanita sebaya mama ku, dengan tampilan modis, rambut sebahu, dan mengenakan dress selutut berwarna krem.


"Iya tante, Adit nya ada?" tanya kak Hendri.


"Ada di dalam," jawabnya sambil melirik ku


Melihat dari atas sampai bawah.


'cantik, pantes aja Adit sampai seperti itu.'


"Ini tante, yang namanya Devina cahaya."


Aku tersenyum dan menyalaminya.


"Saya Vina, tante."


"Tante tia," jawabnya.


"Lalu dia siapa?" tanyanya menunjuk Raka.


"Dia tunangan Vina tante," jawab kak Hendri.


Awalnya tante tia terkejut mendengarnya, namun ia tersenyum dan mengajak kita masuk. Kita masuk kedalam rumah kak Adit, aku melihat seisi rumah nya banyak dengan patung berhala, dan gantungan-gantungan salib lainnya.

__ADS_1


"Ya Allah," aku berucap dan mengikuti nya.


"Hendri, kamu udah tau kan kamar Adit? tante mau ambil minum dulu," ucapnya pada kak Hendri.


"Iya tante."


"Ayo Vin," ajaknya.


"Gue tunggu disini aja ya," ujarnya mendudukkan dirinya di kursi ruang tamu.


"Raka, kamu gak mau ikut?" tanya ku


"Gak apa, kamu ngomong aja sama Adit, aku tungguin disini," Raka tersenyum.


Aku dan kak Hendri menuju kamar kak Adit.


"Ini kamar Adit Vin."


hufffhh (aku mengehela nafas).


Lalu kak Hendri membukanya pelan, aku melihat kamar nya yang cukup besar, namun berantakan. Lalu mengalihkan pandangan ku ke sisi ranjang ada seseorang yang terduduk disitu dan menunduk.


"Adit," ucap kak Hendri namun tak ada jawaban dari kak Adit.


"Adit," kak Hendri memanggil kak Adit sekali lagi.


"Masuk aja sih, lo ngapain manggil gue," jawabnya dengan tetap menunduk dan kak Hendri melirikku, mungkin ia menyuruh ku untuk memanggil kak Adit.


"Kak Adit," ucapku memanggil kak Adit yang tadinya menunduk, sekarang mendongakkan kepalanya menghadap dinding mendengar ku memanggilnya.


"Cahaya," ucapnya lalu melihat ke arah pintu.


"CAHAYA," ucapnya lagi beranjak dari duduknya, berlari ke arah ku dan kak Hendri.


Just call me chinggu (teman)


jangan lupa like vote komen


annyeong 🤗


salam temannya uco (teman hidup) :v.


.


.


.

__ADS_1


bersambung 💃💃💃


__ADS_2