
Tak terasa sudah bulan ramadhan kembali, aku kali ini izin ke mama, jadi baby sitter. Untuk nambahin uang daftar ulang sekolah.
Aku menginap di tempat orang itu selama sebulan ini, dan aku udah pacaran sama kak Adit, beberapa bulan yang lalu. Kak Adit selalu menemui ku, saat di tempat majikan ku sekalipun.
Aku mengasuh 2 anak sekaligus abangnya 5tahun, dan adeknya 1,5 tahun. Sedikit takut aku menjaganya, karena ia terlalu aktif.
Siang hari saat berpuasa, aku menidurkan adik nya, setelah itu nenek nya menyuruhku menguras bak kamar mandi.
"Vina, kalau Rafi dan kanakha udah tidur, kamu ke kamar mandi kuras airnya, soalnya kalau siang air lagi jernih," ucap nenek.
"Iya buk, tapi Rafi kalau di tinggal bangun nanti."
"Jalau nangis ya kamu kasi susu botol, kan udah disiapkan Vin, alasan aja."
"Ya Allah, gini amat kerja. Astaghfirullah, oke jangan ngeluh Vin," ucapku.
Aku meninggalkan Rafi dan kanakha di kamar, aku bergegas ke kamar mandi untuk menguras air.
Mengelap keringat, yang sudah mulai mengalir di wajah ku.
"Ya Allah, semoga yang aku kerjakan ini pahala untuk ku, semoga gak terasa capeknya, tiba-tiba udah lebaran aja."
Setelah selesai, aku ke kamar ku untuk ganti baju dan segera kembali ke kamar anak-anak.
Baru aja aku mau tiduran, nenek memanggil.
"Vina, udah di kuras kan airnya, sekarang masak ya buat bukaan, udah sore soalnya. Nenek aja, yang jaga kanakha dan Rafi," ucapnya mendekati ku.
"Iya buk," ucapku langsung berdiri menuju dapur.
"Ya Allah, ini sih baby sitter+pembantu rumah tangga," ucapku sambil mengambil sayur di kulkas.
"Mau masak apa ya?" aku bingung mau masak apa, jadi pertama gorengan, capcay, dan ayam goreng sambil masak nasi juga.
Jam 5 tak terasa aku kembali ke kamar untuk sholat ashar. Setelah sholat, aku lihat ponselku, ada beberapa pesan dan panggilan masuk dari kak Adit. Nanti malam kak Adit akan kesini, setelah mengabari kak Adit, aku melihat kanakha dan Rafi ternyata udah bangun.
"Kak lili udah pulang?" tanya ku pada mama dari kanakha dan Rafi.
"Udah Vin, kok kamu gak jagain kanakha dan Rafi?" ucapnya.
"Vina mama suruh tidur aja li, kasian pasti capek dia jagain mereka dari pagi," ucapnya melirik ku.
'astagfirullah nenek ini' batinku
"Mama baik banget sih, Alhamdulillah dulu banyak yang gak betah loh disini Vin, padahal mama baik banget kayak gini."
Aku hanya tersenyum.
'gak tau aja kelakuan mamanya' lirihku
Padahal ramadhan loh, aku gini astaghfirullah.
Adzan maghrib telah tiba, waktunya berbuka puasa bersama keluarga nya bos.
Sebelum makan aku sholat terlebih dahulu, dan nunggu waktu tarawih.
__ADS_1
Sesudah sholat tarawih, ada yang mengetuk pintu, siapa? pikirku. Aku beranjak bukain pintu.
"Hai sayang," ucapnya tersenyum.
"Kok gak ucapin salam sih kak, terus ngapain kesini malam-malam? kan ini bukan rumah Vina, dan rumah kak Adit kesini lumayan jauh loh."
"Iya deh maaf, aku kesini mau ajak kamu makan diluar, aku belum makan. Soal jauh aku bisa lewati, asal ketemu nya sama kamu," ucapnya mengelus perutnya sambil tersenyum.
"Tapi Vina gak lapar kak," ucapku. Tapi bohong, perutku tidak bisa berkompromi.
krukkk krukkkk (bunyi perut)
"Cahaya sayang, kamu pasti belum makan, ayo makan di luar aja," ajaknya lagi.
"Tapi harus izin dulu kak, sama bos."
"Mana orang nya? biar aku yang minta izin, kamu siap-siap aja ya."
"Belum juga minta izin, udah disuruh siap-siap." Nanti malah udah siap-siap, gak di izinin pikirku.
"Udah sana ya," ucapnya mendorong ku pelan.
Aku cemberut menatap nya, ia hanya tersenyum, lalu ke ruang tamu untuk minta izin pada bos.
Setengah jam aku di kamar, akhirnya selesai dan menemui kak Adit di luar.
"Ya ampun sayang, lama banget aku nunggu nya," ucapnya padaku beranjak dari tempat duduk nya.
"Ih ini udah aku cepetin loh kak," ucapku membela diri.
"Emang di izinin kak?" tanyaku.
"Iya lah di izinin," ucapnya dan keluar.
Aku juga mengikuti nya dari belakang.
Di motor.
"Kamu mau makan dimana?" tanya kak Adit.
"Di mana aja kak, aku mau kok." Karena aku bisa makan dimana saja.
"Bakso aja gimana?"
"Vina lagi gak pengen bakso kak," ucapku menolak.
Aku gak pemilih, tapi lagi gak pengen makan bakso.
"Terus maunya dimana?" tanya kak Adit.
"Ya terserah kak Adit aja, aku mau kok."
'ya tuhan, cewek gak ngasi tau maunya gimana, ngomong nya terserah. Tapi pas kita bilang dimana, gak mau' batin kak Adit
"Hm di warung pecel lele mau?" tanya kak Adit.
__ADS_1
"Boleh aja sih," ucapku menyetujui karena sudah malam juga, gak enak nanti pulangnya ke rumah orang.
Tak lama berkendara, kita sampai di warung pecel lele.
"Kamu duduk aja aku yang pesan, kamu mau pesan apa?" ucap kak Adit.
"Vina pesan pecel ayam, dan bukan sambal terasi."
Kak Adit mengerutkan keningnya, padahal sambal terasi enak pikirnya.
"Yaudah, tunggu bentar ya." Mengelus kepala ku yang berlapis hijab, lalu aku mengangguk.
Setelah memesan makanan, kak Adit kembali duduk di sebelah ku.
"Kamu kenapa kerja sih yang, aku lihat juga orang tua kamu mampu buat biayain kamu?" tanya nya.
"Vina hanya selama Ramadhan kak, lumayan buat tambahan uang daftar ulang," jawabku.
Kak Adit mencubit hidung ku.
"Gak usah ditarik hidung Vina, udah mancung kak," ucapku cemberut.
"Kamu gemes sih," ucapnya tertawa.
"Permisi, ini pesanannya," ucap abangnya.
"Oh iya bang, makasih ya," ucap kak Adit. Aku hanya tersenyum pada abangnya.
Setelah abangnya pergi, kak Adit menatap ke arah ku.
"Lain kali jangan senyum ke orang lain kayak gitu," ucapnya padaku.
"Lah kenapa gak boleh coba?" ucapku.
"Senyum kamu, cuma buat aku tau," ucapnya cemberut.
"Dih posesif banget, udah deh makan yuk." Langsung mengalihkan pembicaraan, bisa-bisa gak makan sampai larut.
Akhirnya kita makan, disaat menikmati makanan ku, kak Adit mau menyuapiku, tanpa melihat apa yang di suapkan, aku melahapnya dan tersenyum.
"Eh tunggu, apa yang kak Adit suapkan ke Vina barusan?" tanya ku.
"Lele sama sambal terasi, enak kan?" ucapnya tersenyum.
Aku melihat ke arah piring, ternyata memang lele dan sambal terasi yang di pesan kak Adit.
"APA ....?"
.
.
.
bersambung 💃💃💃
__ADS_1