
Mobil Raka telah sampai di depan rumahnya.
"Raka, Vina malu gak bawa apa-apa," ucapku sebelum turun.
"Udah gak apa vin, di rumah aku banyak apa-apa," jawab Raka membuka pintu mobil.
"Tapi-
"Udah Vina ayo!" ajaknya. Aku pun langsung ikut turun dari mobil.
Raka langsung membuka pintu rumah.
"Assalamu'alaikum, mama Raka pulang," teriak Raka.
"Wa'alaikum salam, mama di dapur dek," jawabnya.
Aku jalan menunduk mengekori Raka di belakang.
buggg...
"Aww" kepalaku mengenai badan Raka.
Aku mengelus dahiku, "makanya jalannya jangan nunduk."
"Kamu ngapain berhenti tiba-tiba, jadi gini kan."
"Iya maaf, sini mana yang sakit?" Raka mengusap dahiku.
Manik mata kita bertemu.
"ekhemm ekhemmm..." kak Shena berdehem.
Aku dan Raka cepat menjauh.
"Kak Shena, Raka ke atas dulu ya," ucap Raka berlari ke atas.
"Em vina-
"Vina mau keatas juga?" tanyanya.
"Bukan kak, vina mau ke dapur," ucap ku menuju dapur meninggalkan kak Shena di sana.
Kak Shena menggeleng gelengkan kepalanya.
Aku menuju dapur untuk menemui tante ria. "Tante ria," sapaku.
"Vina," jawabnya.
"Tante masak apa? Vina bantu ya."
"Kamu duduk aja Vin, masa iya tamu ikut masak," ucapnya tersenyum.
__ADS_1
"Iya lumayan kan, bisa belajar juga tante."
"Bukannya kamu udah bisa?"
"Bisa sih, cuma kan pengen tau resep tante."
"Haha ada-ada saja kamu vin, yaudah gak apa."
Di kamar Raka.
"Kok gue jadi salting gini sih," Raka memegang dadanya yang berdebar dag dig dug.
"Ya Allah, beri Raka kekuatan untuk selalu bersama Vina," ucapnya lalu beranjak untuk mandi.
Di dapur
"Ini tante mau masak apa?"
"Tante lagi masak kesukaan Raka, ayam kecap, sayur sop."
"Yang Raka gak suka apa tante?"
"Sebenarnya dia gak milih kalau makanan, apa aja dia bisa makan," jawab tante ria.
"Oh gitu," balasku manggut-manggut.
Aku membantu cuci piring dan membantu menata makanan di meja makan.
"Iya tante."
Aku berjalan menaiki tangga menuju kamar Raka.
"Haduh bismillah," ucapku ragu membangunkan Raka.
'gimana kalau dia marah' batinku
"Ketuk pintu gak ya, tapi udah mau maghrib," aku terpaksa mengetuk pintu kamar Raka.
Tok tok..
"Raka," ucapku dari luar.
"Apa aku masuk aja ya?" Aku memegang gagang pintu dan membukanya.
Raka masih tertidur di ranjangnya. "Raka" aku mendekati nya.
"Raka, bangun!" aku menoel lengan Raka.
Aku merhatiin wajah Raka, kulit putih, hidung mancung, alis yang tak begitu tebal. Hingga tak sadar aku terucap, "ganteng" ucapku pelan sambil tersenyum.
Tiba-tiba Raka membuka matanya, "Vina" ucapnya tersenyum.
__ADS_1
Aku gelagapan, "eh itu anu Raka-
"Apa? kamu ngapain kesini?"
"Itu tante ria nyuruh aku bangunin kamu, tapi kamu susah di bangunin."
'Raka dengar gak ya'
"Masa?"
"Udah ya Vina keluar, tante ria nyuruh kamu cepat bangun, kita sholat berjamaah."
Aku buru-buru keluar, Raka tersenyum menatap ku keluar dari kamar nya.
Raka kini sudah turun untuk sholat berjamaah, aku malu Raka selalu menatap ku.
"Vina kamu kenapa?" ucap tante ria dan semuanya menoleh ke arah ku.
Aku menatap ke arah mereka yang menatapku.
"Vina gak apa tante."
"Bener gak kenapa-kenapa, apa ada yang buat kamu gak nyaman?" tanya kak Farhan
"Gak apa kok kak."
"Yang buat gak nyaman sih Shena udah tau kak."
"Siapa?" tanya mereka.
"Itu samping kak Farhan," kak Shena menunjuk Raka.
"Loh kok jadi adek?"
"Udah sholat dulu, baru ngomong," ucap papa.
Lalu kita melaksanakan sholat maghrib.
Sholat adalah cahaya, Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata:
"Sholat merupakan cahaya bagi seorang hamba di dalam hatinya, di wajahnya, di kuburannya dan disaat dia dikumpulkan (di Padang Mahsyar)"
Like vote komen
just call me chinggu oke 😉
annyeong 🤗
.
.
__ADS_1
.