
Nina keluar dengan wajah cemberut, karena Hendry bertanya seperti itu dan membuat dirinya malu. Hendry tidak tahu jika yang menyebabkan istrinya merajuk itu karena dirinya yang bertanya seperti itu.
Hendry mengantar Nina ke rumah Adit dan Vina, karena Nina meminta nya untuk di antar kesana. Hendry mengiyakan saja, dirinya juga buru-buru ke kantor. Hendry sudah terlambat, untung saja atasannya adalah sahabat nya sendiri. Tapi Hendry juga sudah izin, walaupun dengan orang lain dan untuk mengantar istrinya tidak mungkin asal pecat saja.
Mobil Hendry sudah sampai di pekarangan rumah Adit, Nina langsung turun. Namun balik lagi mencium tangan Hendry, lalu pergi begitu saja tanpa berbicara apapun.
"Kenapa lagi sih? Dia kan hamil, gak lagi ada tamu bulanan." Ucap Hendry melihat Nina menuju rumah Vina dengan wajah kesal.
"Nanti pulangnya aja lah aku tanya, sekarang mau berangkat dulu. Lagian Vina pasti ngasih nasehat sama Nina." Hendry tahu bahwa Vina akan memberikan nasehat pada Nina, Vina lebih dewasa pemikiran nya dari pada Nina.
Hendry langsung melajukan mobilnya untuk segera berangkat ke kantor, ia sangat telat karena mengantar istrinya dulu ke rumah sakit.
"Assalamu'alaikum," ucap Nina dari luar.
"Wa'alaikum salam." Sahut bibi yang sedang bersih-bersih.
__ADS_1
"Vina nya ada bi?" Tanya Nina bertepatan dengan Vina yang keluar dengan baby Devan dan stroller nya untuk berjemur.
"Nah itu dia neng Vina." Bibi langsung pamitan untuk bersih-bersih tempat lain.
"Vin, aku mau ngobrol. Kamu mau kemana?" Tanya Nina yang melihat Vina seperti mau keluar.
"Nina, aku sama Devan mau berjemur di taman samping. Kita ngobrol disana aja, sambil aku suapi Devan."
"Yaudah kita kesana." Mereka berjalan ke arah taman untuk berjemur, sambil akan mengobrol disana.
"Iya hamil." Jawabnya.
"Tapi, kenapa wajah kamu terlihat kesal seperti itu? Bukannya kamu harusnya senang." Vina bingung menatap wajah sahabat nya yang tidak terlihat senang.
"Senang Vin, aku cuma kesal sama kak Hendry. Masa iya dia nanya bisa begituan walaupun sedang hamil sama dokternya, kan aku malu." Nina menutup wajahnya karena walaupun mungkin tidak akan bertemu lagi dengan dokter nya, tapi Nina tetap merasa malu.
__ADS_1
Bukan elusan di kepala atau merasa iba, Vina malah tertawa mendengar ucapan Nina yang merasa malu karena Hendry bertanya seperti itu.
"Kenapa kamu ketawa sih Vin?" Tanya Nina.
"Aku nyuruh kamu langsung ke ruangan obgyn, biar gak malu. Karena saat datang dan periksa di ruangan biasa kita akan malu tentang ketidak tahuan masalah kehamilan, eh ternyata aku lupa ngasih tahu kamu kalau di ruangan obgyn juga buat kita malu dengan pertanyaan suami kita." Ucap Vina masih tertawa.
"Coba aja kamu bilang, pasti aku wanti-wanti dari rumah supaya kak Hendry gak nanya itu." Nina akan mengatakan nya dari rumah jika Vina sudah memberitahu, tapi sayangnya Vina lupa memberi tahu tentang itu.
"Namanya juga lupa nin, aku pasti bilang kalau misalnya gak lupa." Vina mengobrol sambil menyuapkan makanan ke baby Devan. Untung saja tepat di mulut Devan, karena ibu-ibu jika mengobrol akan lupa segalanya. Bukan hanya ibu-ibu tapi sebagian besar wanita seperti itu. Baby Devan juga sangat anteng mendengar obrolan ibu dan aunty Nina, ia hanya makan yang di suapkan ibunya dengan tenang.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
__ADS_1
See you...