
Di perjalanan pulang, aku selalu memikirkan kotak kecil yang di berikan Ali tadi. 'Apa ya?' batinku.
Raka menatapku, yang sedari tadi hanya diam saja menatap kosong ke arah depan.
"Kak Vina," panggil ila.
"Vina," Raka juga memanggilku.
Raka menoleh ke arah ila. "Apa kak Vina kesambet kak," ucap ila.
"Jangan ngomong macem-macem loh."
"Yah bisa jadi kak," balas ila.
"Vina," Raka menggoyangkan lenganku.
"Hah? Apa?" aku terkejut.
"Kamu, kenapa bengong aja?" tanyanya.
"Vina, bengong?" aku menunjuk diri sendiri.
"Iya kamu, bengong dari kita baru pulang, dari rumah papa kamu. Kamu kenapa hm?"
"Vina gak apa kok," jawabku tersenyum.
Lalu menatap datar ke arah samping kaca pintu mobil.
'Ya tuhan, Vina kenapa sih jadi kepikiran Ali terus' batinku gelisah.
Ila tertidur di kursi belakang, aku kembali menatap Raka.
"Kenapa hm? mau ngomong?" tanya nya melirikku sambil fokus menyetir.
Aku hanya menggeleng.
'Ya tuhan, Vina sudah memiliki Raka yang selalu ada di saat Vina membutuhkannya. Raka juga yang selalu buat Vina bahagia, Vina nyaman sama dia, Vina gak mau membuat dia kecewa. Jangan pernah biarkan hati ini berpaling mencintai orang lain.' batinku
"My queen, are you okay?" tanya Raka.
"hm, i'm okay," jawabku.
Raka mengelus kepalaku lembut, 'Aku akan selalu mencintai kamu, Devina cahaya. Raka's queen.' batin Raka.
"Raka," ucapku.
"Iya, sayang?" jawabnya.
"Apa Vina, selalu menyusahkan Raka?" tanyaku.
"Kenapa nanya nya gitu?" jawabnya.
"Ya pengen tau aja."
"Raka gak akan kesusahan, kalau itu untuk tuan putri nya Raka. Jadi, jangan tanya gitu lagi sama Raka ya, Raka gak suka."
"Maaf, kamu marah sama Vina?" tanyaku.
"Gak sayang, bukan gitu. Maksudnya, kalau kamu butuh Raka! Raka akan selalu ada buat kamu, tuan putri nya Raka," ujarnya tersenyum mencubit pipiku.
"Mulai lagi deh," balasku cemberut.
"Gemes aja sayang, pipi kamu chubby," memainkan pipiku.
Aku memanyunkan bibirku, Raka malah cengengesan.
__ADS_1
...°~°...
"Vina, ila sudah sampai," ucap Raka membangunkan aku dan ila.
Aku menggeliat dan ila sambil menguap.
"Ini dimana kak?" tanya nya.
"Negeri dongeng," jawab Raka asal.
"Hah?" jawab ila terkejut.
"Kamu apaan coba jahilin ila," aku mencubit perut Raka.
"Tega banget, calon suaminya loh, dosa tau gak!"
"Belum nikah pak, jadi gak dosa," jawabku.
"Ya tetap aja."
"Jadi, gak beneran di negeri dongeng kak?" tanya ila lagi.
"Lagian nih anak, lupa apa sama rumah sendiri."
Ila melihat sekeliling, "Ih kak Raka," ucapnya setelah sadar kalau di depan rumah.
Aku dan Raka tertawa melihat ila.
Lalu kita turun dari mobil, membawa barang-barang yang ada di mobil.
Mama keluar dari dalam rumah, "udah pulang kalian?" ucap mama.
"Iya ma."
"Sehat ma, kita juga ketemu Ali Dani dan Evan disana."
"Mereka udah pada besar ya?" tanyanya.
"Iya udah pada kuliah ma," aku melihat Raka menunduk.
"Tante, Raka langsung pulang aja ya," ucapnya.
"Kenapa buru-buru nak, kamu pasti capek."
"Iya, istirahat dulu aja disini."
"Mau sekalian cepat mandi."
"Ma, ila ke kamar ya, mau mandi."
"Emang belum pada mandi ya?" tanya mama.
"Enak aja, ila udah loh. Gak tau sih yang dua itu" ucap ila menunjuk ku dan Raka.
"Vina udah kok, iya kan?" tanyaku pada Raka.
"Lah malah tanya Raka"
"Iya soalnya tadi pagi, Vina mandi bareng Raka."
"Hah?" mama dan ila terkejut dengan ucapanku.
"Maksud Vina itu, kita mandi bareng di waktu yang sama tante, bukan mandi satu kamar mandi," Raka menjelaskan semuanya, aku hanya tersenyum.
"Ya ampun anak ini, mama udah suudzan loh."
__ADS_1
"Itu sih mama aja yang selalu nething."
"Kamu ya," ucap mama mencubit pipiku.
"Mama sama aja deh kek Raka," ucapku cemberut.
"Kamu sama ila itu tetap anak kecil mama, yang tetap menggemaskan." Aku dan ila langsung memeluk mama.
Raka tersenyum melihat kita berpelukan.
"Eh maaf Raka," ucap mama.
"Gak apa tante, kalau gitu Raka pulang dulu ya."
"Kenapa gak nanti aja sih."
"Nanti Raka telpon kamu ya, sekarang Raka pulang dulu, nanti malam atau besok kan bisa kesini lagi."
Raka mencium punggung tangan mama berpamitan, aku mengantarnya sampai keluar.
"Udah sampai pintu aja, gak usah sampai ke mobil."
"Emang cuma sampai sini aja kok, PD banget."
Raka tersenyum mengelus kepalaku.
"Kamu istirahat ya, aku pulang dulu, assalamu'alaikum," pamit Raka.
"Wa'alaikum salam," jawabku tetap memegang tangan Raka.
"Sayang, aku mau pulang." Aku memanyunkan bibirku.
"Ayo cepat nikah deh, aku gemes banget sama kamu biar kita bisa satu rumah, gak perlu pisah gini." Aku cepat melepas tangan Raka.
"Udah pulang sana, kita masih kuliah loh." dan cubitan di pipi mendarat lagi.
"RAKA....."
Raka langsung berlari ke mobil.
Setelah Raka melajukan mobilnya, dan menjauh sampai sudah tidak terlihat, baru aku masuk untuk mandi.
Aku menaruh tas ku di ranjang, namun ada sesuatu yang bunyi.
Aku lihat ternyata kotak kecil pemberian Ali tadi.
Aku mengambil nya, dan mencoba membuka nya.
"Apaan sih ini, Ali ribet amat," ucapku sambil membuka nya, karena sedikit dibungkus dengan kertas kado.
Setelah selesai membuka kotak kecil itu, aku melihat isinya dan menaikkan satu alisku.
"Hah? apaan coba Ali," ucapku melihat isi di dalam kotak nya dan mengambil nya.
Jangan lupa like vote komen
Just call me chinggu (teman) oke 😉
Annyeong 🤗
.
.
.
__ADS_1