
"Aku gak apa- vin," ucapannya seperti tertahan dan merasakan sakit.
Uhuk uhuk...
Raka batuk.
"Raka kamu kenapa sih?" tanyaku.
"Aku gak apa vin," jawabnya sambil tersenyum.
"Eh tunggu bibir kamu kenapa?" aku melihat seperti darah.
"Gak ada apa-apa Vin," jawabnya lagi.
"Sini lihat Raka," ucapku mengelap bibirnya yang berdarah.
'tapi gak ada yang luka' batinku
"Raka sini tangan kiri kamu," aku meminta Raka memperlihatkan tangan kirinya.
"Untuk apa vin, kita pulang yuk udah malam," ajaknya.
"Raka aku mau lihat," aku menarik tangannya.
Betapa terkejutnya aku, melihat tangan Raka ada darah.
"Raka ini-
"Bukan apa-apa Vin, ayo kita pulang."
"Gak tunggu, jangan bilang itu dahak kamu batuk tadi," ucapku.
Raka terdiam, "Iya Vin ini dahak, aku batuk darah, aku sama seperti kamu alergi dingin." jawabnya.
'emang ada ya, apa aku yang gak tau alergi batuk darah gitu.'
"Tapi sejak kapan kamu begini ka?" tanyaku.
"Dari baru sekolah SMA," jawab Raka.
'kenapa alergi nya baru?'
"Yaudah ayo pulang," ajakku
karena lama-lama di area terbuka, bisa-bisa aku dan Raka kehabisan darah.
Aku dan Raka masuk ke mobil, Raka mengelap tangannya yang ada darah nya.
"Raka, kamu sebenarnya kenapa?" tanyaku lagi.
hufffhh
"Aku gak apa vin," jawabnya lagi tersenyum.
'raka juga sedikit berubah'
"Raka, kamu pernah berpacaran berapa kali?" tanyaku.
"Memangnya kenapa?"
"Katanya gak usah nanya balik."
"Kan aku hanya ingin tau alasannya."
__ADS_1
"Yah pengen tau aja sih," jawabku.
"Oh."
"Lah kok gitu doang."
"Terus maunya gimana? nanti di bilang punya mantan 10 gak percaya."
"Percaya aja sih."
uhuk uhuk...
Raka batuk lagi.
"Raka kamu kenapa?" tanyaku khawatir.
"Aku gak apa vin," jawabnya tersenyum.
Aku memegang tangan Raka. "Kamu bener gak pa-pa?" tanyaku.
Raka membalas ku dengan tersenyum, "aku gak apa Vina, aku sama seperti kamu, alergi dingin."
"Bener gak bohong?" tanyaku menyelidik menatap Raka.
Namun dengan cepat Raka mengalihkan tatapannya.
"Aku gak bohong sama kamu Vina," jawab Raka sambil menyalakan mobil dan melajukannya.
Aku melirik Raka yang fokus menyetir. "Udah berhenti mimisan nya?" tanya Raka melirikku.
"Gak ngalir lagi sih," Aku memencet hidung.
"Jangan di pencet hidungnya Vin, nanti sakit."
"Kan Vina ngecek, mau ngalir lagi apa gak."
"Lucu banget sih kamu," ucapnya mengelus kepala ku.
"Kok kamu aneh sih Raka," Raka hanya tertawa mendengar ucapanku.
Aku tidak lagi membalasnya, hanya meliriknya sekilas.
'kenapa Raka aneh sih'
Mobil Raka telah sampai di depan rumah.
"Raka, gak mampir dulu?"
"Lain kali aja ya udah malam," jawabnya.
"Biasanya turun dulu, nyapa mama sama papa."
"Besok lagi ya," ucapnya tersenyum.
"Hm yaudah Vina turun," ucapku namun tanganku di tahan oleh Raka.
"Vina," panggil nya.
"iya."
"Apa kamu udah bisa terima aku?" tanya nya membingungkan.
'aku tidak tau harus jawab apa'
__ADS_1
"Raka, Vina-
"Gak perlu di jawab Vin, kamu masih cinta sama Adit kan?" Raka melepas cekalan tangannya.
"Raka, Vina udah ngelupain kak Adit, sekarang Vina mulai buka hati buat kamu."
"Jangan paksakan Vin, nanti sakit."
"Raka, apa kamu juga menerima perjodohan ini?"
Raka menghadapkan tubuhnya menatapku.
"Vina, aku menerima perjodohan ini, aku akan selalu bersama kamu dan jaga kamu."
Aku tersenyum mendengar ucapan Raka.
"Vina juga menerima perjodohan ini," jawabku lalu Raka menarikku kedalam pelukannya.
Aku terkejut, namun aku membalasnya.
"Sebisa mungkin aku akan selalu di samping kamu."
"Iya kalau di mobil gini disamping, kalau motor kan di belakang."
Raka melepas pelukannya, "Yaudah sekarang masuk rumah, langsung tidur ya," ucapnya mengelus kepala ku.
"Perhatian banget sih, ini Raka yang dulu natap Vina datar itu kan?" tanya ku meledek.
Sambil mengecek suhu panas di dahinya.
"Aku mah selalu perhatian, kamu aja yang gak ngerasa," mengambil tanganku yang aku tempelkan di dahinya.
"Masa?"
"Udah sana masuk!"
"Baiklah bapak Raka, hati-hati di jalan, selamat malam."
"Selamat malam juga ibu Vina."
"Berasa tua deh dipanggil ibu," ucapku cemberut.
"Gemesh kamu tuh, udah sana masuk! gak usah cemberut gitu, kan kamu duluan yang manggil bapak," ujarnya mencubit pipi ku lembut.
Aku keluar dari mobil Raka, menuju rumah, Raka melambaikan tangannya dari dalam mobil, aku membalas nya.
Mobil Raka melaju lagi pergi, setelah melihat mobil Raka sudah menjauh aku masuk ke dalam rumah menuju kamar.
Mencuci tangan wajah dan kaki, lalu berwudhu sebelum tidur.
Agar kita tetap dalam keadaan suci sampai terbangun.
Bismillah sholat witir sebelum tidur. Takutnya di waktu sepertiga malam kelepasan, hehe sering sih aing, sampai subuh.
Kalau sudah di perkirakan tidak akan bangun, sebaiknya sholat witir sebelum tidur.
Jangan lupa like vote komen
Annyeong 🤗
just call me chinggu oke 😉
.
__ADS_1
.
.