
Malam harinya aku dirumah, di kamar berbaring di atas ranjang, dengan tubuh yang masih lemah karena maag ku kambuh. Merasakan sakit di sekujur tubuh, remuk rasanya.
Tiba-tiba mama masuk ke kamar, aku menoleh ke arah mama.
"Vin, ada yang mau ketemu sama kamu," ucap mama.
"Siapa ma?" tanya ku.
"PACAR kamu," mama menekan kata 'pacar'
"Hah pacar?" tanyaku heran.
"Jangan pura-pura yah sama mama," seperti menodong.
"Vina memang sempat ada pacar, tapi kita udah putus ma," jawab ku jujur.
"Jadi bener dong, selama ini kamu bohong sama mama, sejak kapan kamu bohong?" ucap mama.
"Vina bisa jelasin ma, Vina pacaran 8bulan," jawabku gugup.
"Hebat yah selama itu bohong," mama terlihat kecewa padaku.
"Mama keluar dulu, nanti mama bicara lagi," ucap mama pergi.
"Ma-
Tak memperdulikan, mama tetap pergi. Digantikan dengan orang yang mengaku pacarku.
'Siapa sih dia?' batinku
Tak lama orang itu masuk, tanpa mengunci pintu kamar.
"Kak Adit," ucapku.
Ternyata kak Adit, masih mengaku sebagai pacar.
Mulai mendekati ranjang ku.
__ADS_1
"Cahaya"
"Ngapain kesini kak?" tanyaku mulai meneteskan air mata.
"Cahaya, aku tau kamu itu lemah, gampang nangis, cengeng. Aku gak mau tinggalin kamu gitu aja, aku sayang sama kamu."
"Kak Adit sayang sama aku kan? hiks," tanya ku.
Ia mengangguk "sayang banget, apa kamu berubah pikiran?" ucapnya tersenyum.
"Kalau kak Adit sayang sama Vina, tinggalin Vina kak," pintaku.
"Cahaya-
"Hiks kak Adit bilang sayang sama Vina kan? jadi itu permintaan Vina kak, jauhi Vina, buka hati kak Adit untuk wanita lain hiks," aku sudah terisak-isak.
"Sayang tidak harus meninggalkan, aku maunya sama kamu cahaya."
"Pergi dari sini kak, jangan sampai Vina teriak."
"Pergi dari sini kak, kalau tidak- (aku mengambil gunting dan aku arahkan ke pergelangan tangan).
"Cahaya jangan bahaya, oke oke aku pergi dari sini, kamu jangan melukai tubuh kamu," ia masih peduli padaku.
"Simpan dulu gunting nya, aku akan keluar," kak Adit mundur perlahan.
hiks hiks
"Jangan lupa makan dan jaga kesehatan kamu, aku tidak akan menemui kamu lagi, tapi aku akan melihat kamu dari jauh cahaya." kak Adit keluar dari kamar.
Setelah kak Adit sudah keluar, aku melempar gunting nya ke dinding.
arghhhh.....
Aku menutup tubuhku, dari kaki sampai ujung kepala dengan selimut.
"Vin, papa boleh masuk?" tanya papa.
__ADS_1
"Hiks iya," jawab ku.
Papa masuk ke kamar ku, melihat sekeliling ruangan yang sedikit berantakan.
"Vina kamu kenapa? cerita coba sama papa, anggap sekarang ini papa sahabat kamu," ucap papa.
"Hiks Vina gak tau mau ngomong apa," aku bingung memulai nya dari mana.
"Ceritakan semuanya sama papa, tidak perlu sungkan," ucapnya.
Aku mulai menceritakan dari awal pertemuan, hingga aku dan kak Adit pacaran. Sering jalan bareng juga, menemuiku saat bekerja, dan pada saatnya aku mengetahui, bahwa dia berbeda keyakinan dengan ku.
Papa nya adalah seorang pendeta di gereja.
"Jadi intinya kalian saling sayang, tapi kamu yang menolak untuk melanjutkan hubungan kalian, karena perbedaan keyakinan?" papa mengerti dengan yang aku jelaskan.
Aku mengangguk lemah.
"Sebenarnya, ini keputusan bagus Vin, apalagi mama kamu melarang kan kalau kamu pacaran, karena masih sekolah juga."
"Aku takut mama kecewa sama Vina, mama marah pa." Aku yakin pasti mama marah sama aku.
"Papa akan coba membujuk, supaya tidak memarahi kamu. Tapi gak janji yah Vin, apalagi mama seperti nya, ada yang mau dibicarakan sama kamu," ucap papa seperti sudah mengetahui apa yang akan mama bicarakan.
"Apa pa?" tanyaku.
"Yang mau bicara mama kamu, jadi papa gak ikutan," jawab papa.
'apa sebenarnya yang mau di omongin?' batinku bertanya-tanya
.
.
.
bersambung
__ADS_1