Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Dimas dan Reva


__ADS_3

Adit yang masih kesal dengan pelayan restoran, makan tanpa melihat istrinya. Ia kesal karena pelayan itu tetap saja memperhatikan Vina, walaupun Adit sudah mengatakan bahwa Vina adalah istrinya.


"Kak, mau ini gak?" Ucap Vina mengulurkan sendok yang berisi makanan pada Adit.


Adit menoleh sendok tersebut dan melahapnya, Vina hanya tersenyum saat suaminya tetap menerima makanan yang ia suapkan.


"Kak," panggil Vina.


"Hm" jawabnya sambil mengunyah makanan.


"Ayah kenapa sih Dev? Dari tadi terlihat marah sama ibu." Vina mengobrol dengan baby Devan. Ia tidak suka melihat Adit hanya diam saja tanpa berkata apapun padanya.


"Ayah gak sayang sama kita lagi ya?" Ucapnya sambil mengelus pipi anaknya.


Adit hanya menatap Vina dan baby Dev sambil terus mengunyah makanan.


Vina mendongak, namun matanya tertuju pada satu meja, dimana orang itu seperti nya ia mengenalnya.


"Kak," panggil Vina tanpa melihat Adit. Matanya tetap fokus pada orang yang terlihat mengobrol.


"Hm?"


"Marahnya tunda dulu deh, itu siapa kak?" Tanya Vina menyuruh Adit menunda marahnya.


"Mana bisa lagi marah di suruh tunda segala, yang ada gak bisa lagi."


"Terserah kak Adit saja, tapi itu siapa kak?"


"Yang mana sih?" Tanya Adit tidak melihat orang yang di kenal.


"Itu, coba di dekat arah masuk." Tunjuk Vina pada satu meja di dekat pintu masuk.


"Reva?" Ucap Adit melihat mantan nya itu disana.


"Pak baskara? Kenapa mereka berdua? Sedang apa mereka?" Tanya Adit terkejut saat orang yang ia kenal adalah pak baskara. Ayah dari Dimas, laki-laki yang menyukai Vina, sekarang bersama Reva mantan pacarnya.


"Apa mereka ada hubungan kak?" Tanya Vina.


Adit menggelengkan kepalanya. "Aku gak tahu, tapi aku melihat mereka terlihat akrab."


Tak berapa lama, saat Vina sambil melanjutkan makan, dan mengajak baby Dev mengobrol. Ternyata Adit melihat ada satu orang lagi yang datang menemui mereka.


"Sayang, itu lihat." Adit menyuruh Vina melihat ke arah meja Reva.


"Dimas?" Vina menatap Adit, begitu juga Adit. Mereka penasaran apa yang mereka bicarakan, apa ini masalah perusahaan atau masalah pribadi. Karena jika perusahaan, Adit akan terbawa juga saat perusahaan milik pak baskara bekerja sama dengan perusahaan milik nya.


"Apa, pak baskara menjodohkan mereka berdua kak?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu sayang. Tapi sepertinya Dimas disitu terlihat marah, apa ya?" Vina menggelengkan kepalanya.


"Perusahaan kita butuh pemimpin baru Dimas. Papa akan pensiun dini, kalau kamu mau menikah dengan Reva. Anak teman bisnis papa."


"Papa jangan paksa Dimas gitu dong, masih ada jalan lain kalau papa ingin pensiun dini. Cukup Dimas jadi pengganti papa, kan selesai." Dimas tidak habis pikir, papanya itu malah menjodohkan nya dengan anak teman bisnis nya.


"Dimas, tidak ada salahnya kita mencoba." Ucap Reva memegang tangan Dimas


Dimas menarik tangan nya, menjauhkan nya dari Reva. "Mencoba apa maksud kamu? Aku gak mau coba-coba, apalagi dengan orang yang tidak aku suka."


"Dimas, papa akan menyerahkan semua perusahaan untuk kamu, asal kamu mau menikah dengan Reva."


"Ambil saja perusahaan papa, Dimas tidak mau. Papa yang selalu memaksa Dimas untuk mengurus perusahaan, padahal Dimas lebih suka bekerja dengan orang lain."


"Sudah punya perusahaan sendiri, kenapa harus bekerja dengan orang lain? Kamu sudah enak seperti ini, Dimas."


"Itu menurut papa, aku bukan satu-satunya anak papa, jadi jangan hanya aku yang di paksa. Kenapa tidak kakak saja yang menikahi dia." Ucap Dimas melirik Reva tidak suka.


"Kakak kamu sudah punya pacar, dan Reva juga hanya memilih kamu. Jadi kamu harus terima saja apa yang sudah di setujui."


"Kenapa tidak papa saja yang menikah dengan Reva? Bukannya papa sudah lama sendiri?" Ucapan Dimas membuat pak baskara naik pitam.


"DIMAS...." Pekik nya membuat semua orang menoleh, termasuk Adit dan juga Vina.


"Mohon maaf semuanya, maaf mengganggu."


"Gimana dong om? Dimas tidak mau menikahi Reva."


"Tenanglah, om akan bujuk Dimas supaya dia menerima perjodohan ini." Ucapnya menenangkan Reva.


Sedangkan Adit dan Vina yang melihat itu bingung, apa yang terjadi dengan mereka? Kenapa seperti nya Dimas terlihat marah.


"Kenapa sih kak?" Tanya Vina.


"Aku juga gak tahu, tapi Dimas seperti nya tidak suka." Vina mengangguk, yang ia lihat Dimas juga begitu.


"Sayang, baby Dev tidur ya?" Tanya Adit mengintip baby Dev.


Vina melihat anaknya memang sudah tertidur, menunggu orang tuanya makan dan mengobrol. Apalagi melihat ayahnya cemburu, mungkin Devan juga lelah, ia memilih tidur saja pikirnya tidak mau ikut campur urusan orang dewasa.


"Dari pada aku pusing mikirin orang tua ku yang sedang makan, apalagi ayahku yang cemburuan, mending bobo tampan." Batin baby Dev, dibantu othor bebu.


"Kamu lanjut aja makannya, aku ke toilet lagi sebentar." Ucap Adit meninggalkan Vina, agar menghabiskan makanannya.


Adit sedang tidak ingin ke toilet, hanya saja ia meminta tolong Hendry untuk mencari tahu tentang rekan bisnis dan juga Dimas anaknya, termasuk Reva mantan pacarnya.


"Gue cuma ingin tahu, apa yang sedang terjadi sampai mereka bertengkar di restoran hen."

__ADS_1


"Akan gue usahakan, gue juga ada sesuatu yang mau gue bilang sama lo, dit. Ini masalah Vina dan sahabat nya yang terjebak di dalam lift." Ucap Hendry memberitahu Adit, bahwa dirinya sudah tahu siapa pelakunya. Lift nya bukan karena macet, tapi ada orang yang sengaja membuat mereka terjebak di dalam sana.


"Siapa hen?" Tanya Adit.


"Gimana kalau kita ketemu di luar?"


"Masalahnya gue lagi ada di luar sama cahaya dan Devan. Besok aja hen, kita ketemu di kantor sekalian bahas semuanya."


"Baiklah, berarti malam ini gue mau nge date dulu sama Nina."


"Iya, terserah lo aja. Tapi jangan sampai lo macam-macam sama Nina, yang ada gue juga kena amukan dari bini gue."


"Elah dit, gue orangnya mah baik."


"Baik itu di akuin, bukan ngakuin." Adit tertawa bersama Hendry di telepon.


"Gue matiin ya hen, soalnya gue lagi di toilet. Nanti bini gue curiga gue ngapain lama disini."


"Palingan di kira main samurai." Ledek Hendry pada sahabatnya.


"Gila aja lo, gak lah ngapain juga."


"Lama banget cuma mau matiin aja, gue aja dah." Hendry langsung memutuskan panggilan telepon nya.


"Gue yang mau matiin, tapi dia yang duluan." Ucap Adit setelah keduluan Hendry yang mematikan panggilan telepon nya.


Adit keluar menemui istri dan anaknya lagi, ia melihat istrinya sedang memainkan ponselnya sambil sesekali melihat anaknya yang sedang di stroller.


"Sayang," ucap Adit.


Vina menoleh menatap suaminya sudah selesai dari toilet.


"Kenapa lama? Kak Adit sakit perut, atau yang lain?"


"Yang lain apa sayang?"


"Aku gak tahu, tapi mungkin ada yang lain."


"Hanya kebelet dikit, tapi sudah tidak sakit perut lagi." Vina mengangguk lalu mengajak suaminya itu pulang, ia kasian melihat anaknya yang tertidur di stroller.


Akhirnya mereka pulang setelah makan dan sudah tentu telah membayar tagihan bill.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2