
Perawat dan dokter memberikan alat bantu pernapasan (oksigen). Setelah dirasa aku tenang mereka keluar.
"Keluarga pasien dimana?" ucap dokter menanyakan keluarga ku.
"Saya tunangan nya dok."
"Kita temannya dok."
"Orang tua pasien dimana?" tanya dokter.
"Tadi mamanya pulang dulu sebentar dok, kita yang menjaga Vina di dalam," ucap Naya.
"Saya hanya ingin memberi tau, pasien baru sadarkan diri, jadi jangan dulu membebani pikiran nya! sehingga nantinya bisa membuat pasien jadi drop kembali." Dokter memberi tau pada mereka, agar tidak membebani pikiran ku.
"Baik dok," ucap mereka.
"Apa saya sudah bisa melihatnya dok?" tanya Raka.
"Maaf! kalau bisa biar pasien istirahat dulu," ujarnya agar tidak terganggu.
"Kalau sudah mengerti, saya permisi." Dokter meninggalkan mereka.
Raka mendekat ke kaca, melihat ku dari luar ruang aku di rawat.
'vin, cepat sembuh! aku juga akan cari tau sendiri, siapa yang sudah kunci kamu di gudang.' batin Raka
Raka berbalik dan langsung pergi tanpa berpamitan, pada kak Hendri, Naya dan Nina.
Mereka hanya menatap kepergian Raka.
"Aku juga langsung ke kampus ya! Naya,Nina," ucapnya. Namun Naya dan Nina tak menghiraukan kak Hendri.
__ADS_1
Kak Hendri juga pergi dari sana, menuju keluar untuk kembali ke kampus.
"Aku tau nay, Vina pasti masih cinta sama kak Adit. Tapi dia tidak akan mau kembali lagi! karena perbedaan keyakinan," ucap Nina pada Naya.
"Aku juga tau nin, seperti nya Raka udah cinta sama Vina, buktinya aja dia tadi ngakuin ke dokter, kalau Vina tunangannya, apalagi tadi wajah nya kelihatan khawatir banget," jawab Naya.
"Iya nay, tapi dia belum ngungkapin perasaannya! jadi Vina bingung sama Raka," balas Nina.
Mereka masih membicarakan, tentang aku dan Raka. Sampai mama dan papa serta orang tua Raka datang.
"Kenapa kalian diluar? kenapa tidak di dalam?" tanya mama.
Naya dan Nina bingung jawabnya.
"Em anu tante Vina anu-
"Anu tante hm Vina, kenapa kalian jadi gitu ngomong nya," ucap mama.
Mama dan mama Raka menutup mulutnya, tak percaya. Padahal tadi aku yang di tinggal sudah baik-baik saja.
"Kok bisa, ada apa?" tanya papa.
Sebelum menjawab pertanyaan, mereka saling menatap. Lalu mulai menceritakan sesuatu yang membuat aku sesak, dan drop lagi.
"Mama yakin pa, Vina masih trauma dengan kejadian dia waktu di kunci di gudang hiks," ucap mama menyenderkan kepalanya ke papa.
"Iya ma, kita cari tau siapa yang sudah mengunci Vina di gudang."
'mereka mengira karena di gudang, padahal karena bahas kak Adit.'
"Sabar buk, kita pasti tau nanti siapa yang sudah mengunci Vina."
__ADS_1
"Iya pak buk, biar di bantu sama Raka," timpal om dirga.
Mama dan papa mengangguk.
Naya dan Nina yang berada di situ, merasa sedikit takut dengan keluarga Vina. Namun mereka harus tetap terlihat biasa, bisa-bisa mereka yang di tuduh.
Tak lama dari itu, Nina dan Naya berpamitan untuk pulang.
Hingga malam tiba mama dan mama Raka menunggu ku dari luar.
Papa dan papa nya Raka pulang.
"Buk maaf merepotkan, sampai ibu ikut menunggu di rumah sakit seperti ini," ucap mama pada tante ria.
Tante ria tersenyum, "saya senang, bisa menunggu Vina sampai sadar lagi buk," ucapnya menepuk-nepuk pelan pundak mama.
"Apa Vina belum sadarkan diri?" ucap seseorang berdiri di dekat mama dan tante ria.
Mama dan tante ria menoleh ke arah orang itu.
annyeong 🤗
Jan lupa like vote komen.
.
.
.
bersambung 💃💃💃
__ADS_1