
"Kak Adit mau sarapan apa?" Tanya Vina.
"Apa aja." Jawab Adit singkat membuat Vina menaikkan satu alisnya, tidak biasanya suami nya itu menjawab hanya dengan dua kata.
"Aku masak dulu ya," ucap Vina ingin melihat respon Adit.
"Tidak perlu, sudah ada bibi." Vina semakin bingung dengan Adit.
"Sayang, maafkan aku." Adit sambil melirik Vina yang menatapnya.
"Kak Adit kenapa sih? Kayak lagi dapet aja." Vina tertawa melihat Adit yang tidak seperti biasanya.
"Aku lagi gak mau ketawa, aku mau cepat ke kantor." Adit beranjak dari ranjang nya, bisa-bisa kelamaan dengan Vina akan ketahuan.
"Kak Adit, kenapa sih? Aku ada salah sama kakak?" Tanya Vina mengejar Adit.
"Apaan sih kamu lari-lari, kamu itu lagi hamil tahu gak. Kalau sampai anak aku kenapa-napa gimana?"
"Sekarang hanya anak kak Adit yang di khawatirkan? Oke, aku berangkat sendiri ke kampus, gak perlu di antar."
"Mau naik apa kamu ke kampus?" Tanya Adit, ia khawatir terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Kak Adit tenang aja, aku bisa naik motor sendiri atau mobil itu. Ojek juga tidak masalah, lebih aman dan tukang ojek nya juga ganteng-ganteng."
"Aku aja yang antar."
"Tidak perlu kak, jangan khawatirkan anak nya kita akan aman." Vina tersenyum dengan berjalan langsung ke luar.
"Bukan masalah anak kita dan kamu selamat, tapi kamu di bonceng laki-laki lain sayang." Batin Adit frustasi istrinya sudah berjalan ke luar.
"Jangan lupa sarapan di kantor ya, aku juga males makan pagi ini. See you." Vina melambaikan tangannya dari luar.
"Ini ide siapa sih? Kenapa aku yang harus cuekin Cahaya." Orang tua Adit dan juga orang tua Vina menyuruh Adit untuk membuat Vina berpikir apa kesalahan nya hingga sikap Adit dingin.
Entah ide konyol siapa pikir Adit, namun tetap harus di lakukannya.
Adit berjalan keluar memasuki mobilnya, untuk melihat istrinya itu berangkat dengan apa.
"Eh itu siapa? Cahaya dengan siapa?" Adit melihat istrinya di bonceng laki-laki dengan jaket warna hijau, Adit menajamkan penglihatannya apakah itu tetangga nya sendiri atau bukan.
Klakson mobil Adit berbunyi, membuat motor di depannya sedikit minggir. "Halo kak." Vina melambaikan tangannya.
"Itu kakak nya ya?" Tanya nya.
"Oh iya KAKAK aku." Vina sedikit memekik, agar terdengar oleh Adit yang berada di samping motor nya.
"Halo kak, aku mau antar ke kampusnya, jadi aman." Vina tersenyum mendengar tukang ojek nya mengatakan itu, untung juga bisa buat Adit semakin panas karena abang ojek nya masih seumuran dengan mereka.
"Gue bukan kakak nya, turunin gak lo." Adit sudah emosi, istrinya di bonceng laki-laki yang masih muda, apalagi ini bisa menjadi saingan karena bukan hanya muda, namun juga tampan.
"Maaf kak udah telat, ayo cepat gas!!!" Vina mengangkat tangannya ke atas, supaya mas ojek lebih cepat.
"CAHAYA!!!!" Pekik Adit, namun tidak mampan lagi mereka berdua sudah jauh. Mengejar pun percuma karena ia menggunakan mobil, sedangkan mereka menggunakan motor yang pastinya lebih cepat.
Adit memukul stir mobilnya, ia harusnya tidak melakukan ide konyol ini.
Adit yang sedang di lampu merah merasa sangat panas, padahal matahari saja baru akan mulai terasa. Ada panggilan masuk di mobilnya, Adit mengatur nafasnya sejenak sebelum mengangkatnya.
"Halo ma," ucap Adit.
"Halo sayang, gimana reaksi istri kamu? Dia nangis atau gimana?" Tanya mama Tia yang juga ada mama Dira disana.
__ADS_1
"Bukan Cahaya yang nangis, tapi Adit."
"Loh kenapa?"
"Gara-gara Adit cuekin dia dan bilang hanya khawatir sama kandungannya, dia memilih di antar laki-laki lain ma."
"Bagus, berarti rencana kita berhasil."
"Berhasil apanya? Astaghfirullah, ide siapa ini? Kenapa buat Adit sengsara."
"Bukan sengsara sayang, tapi malapetaka." Mama tia dan mama Dira yang di seberang telepon tertawa.
"Gimana kalau Adit di blacklist jadi suami? Terus di ganti orang tadi sebagai ayah?"
"Kamu ini ada-ada aja dit, Vina tidak seperti itu mama pastikan. Kamu tetap dengan rencana awal kita saja."
"Iya betul. Ingat! jangan telat pulangnya."
"Lah gimana? Cahaya kan pulang lebih dulu dari pada Adit."
"Tenang, semuanya sudah sesuai rencana. Mungkin yang tidak akan sesuai hati yang sudah berpindah ke hati abang-abang."
"Mama, tanggung jawab kalau sampai Cahaya suka sama abang tadi."
"Itu derita anda bapak Adit. Mama matikan dulu telepon nya, bye."
"Ma- yah, main dimatiin aja. Masalah untuk aku kalau sampai Cahaya marah." Adit sambil melajukan lagi mobilnya agar segera sampai di kantor.
"Kita sudah sampai." Vina sudah sampai dengan selamat sampai ke kampus diantar abang ojek.
"Berapa bang?" Tanya Vina sambil membuka tas nya.
"Loh gak boleh gitu dong, kamu kan kerja aku pelanggan kamu. Jadi memang harus bayar."
"Gimana kalau nanti kamu ada naik motor aku lagi baru bayar? Untuk sekarang gratis aja, tapi bayar nya boleh dengan kenalan, nggak?"
"Hah?" Vina terkejut dengan abangnya yang sudah mengulurkan tangan di hadapannya."
"Ya ampun vin, kamu masih aja." Vina makin terkejut dengan abang nya yang mengetahui namanya.
"K-kamu?"
"Kamu lupa sama aku, vin?" Tanya nya menatap wajah orang itu lekat sambil mengingat.
"Siapa? Aku gak kenal."
"Aku dimas, kita udah tiga kali atau empat kali ketemu vin, aku lupa. Tapi aku masih kenal banget sama kamu."
"Dimas? Kamu dimas yang kerja di mini market dekat rumah?" Vina mengingat lagi wajahnya memang seperti dimas yang ia kenal, namun lebih ke versi yang lebih putih dan tampan.
"Iya, kamu udah ingat?" Tanya nya tersenyum.
"Kamu sekarang jadi ojek?" Tanya Vina tidak enak.
"Aku bukan ojek Vin, kamu lihat sendiri kan jaket aku."
"Hah? Aku kira ojek, ternyata hanya warna nya yang sama. Tapi iya juga sih, tadi kan aku minta tolong antar ke kampus gak pesan lewat aplikasi." Setelah Vina lihat lagi ternyata jaket yang di kenakan dimas bukan lah jaket ojek.
"Maaf ya dim, aku jadi ngerepotin. Terus kamu masih kerja di dekat rumah?"
"Aku hanya bosan di rumah vin, jadi cari kerjaan sementara waktu itu sembari skripsian."
__ADS_1
"Jadi? Kamu kerja dimana sekarang?" Tanya Vina, dimas benar-benar punya banyak kejutan.
"Ada usaha kecil-kecilan sama orang tua aku."
"Semangat ya dim, kalau gitu aku masuk ya."
"Vin, boleh minta nomor kamu gak? Biar bisa call aja nanti kalau kamu butuh apa-apa."
"Boleh sih."
Mereka bertukar nomor, lalu Dimas pergi setelah Vina masuk ke kampus.
...******...
"Vina mau pulang ma, kasian kak Adit sendiri diruumah udah malam."
"Ayo mama sama papa yang antar kamu kesana."
"Vina bisa pulang sendiri ma, gak apa kok."
"Kamu lagi hamil vin, bahaya malam-malam pulang sendiri." Mama Dira dan papa Gilang akan mengantar Vina, akhirnya Vina menyetujui nya di antar oelh mereka.
"Kak Adit kemana? Kenapa rumah gelap gulita seperti ini?" Tanya Vina yang baru saja tiba di rumahnya.
"Mungkin mati lampu, ayo langsung masuk aja."
Vina membuka pintu rumah nya dan masuk untuk menghidupkan lampu, da-
"Happy birthday Devina Cahaya." Ucap mama dan papa Anton, Adit yang di suruh diam tanpa ekspresi mengikuti. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali memeluk dan mencium istrinya.
"Selamat ulang tahun sayang, yang ke dua puluh tiga." Semua orang tua dan mertuanya memberikan ucapan selamat dan juga memeluknya. Namun Adit hanya diam saja.
"Kak Adit, gak mau kasi ucapan atau apa?"
"Malam ini, a-aku mau." Adit sudah tergagap, ia tidak mau mengucapkan ini, tapi orang tua dan mertuanya mendesaknya agar mengatakan itu.
"Apa?"
"A-aku mau kita pisah kamar."
"Oke, itu mau kak Adit yah"
"Nggak sayang, aku gak mau pisah kamar." Rengek Adit.
"Tadi bilang sendiri mau pisah kamar, jadi malam ini tidur nya pisah."
"Ini ide dari mereka sayang, aku gak mau pisah kamar."
"Adit mah, kirain Vina yang gak mau pisah, ini malah dia yang bucin dan manja."
"Ini semua gara-gara ide konyol kalian."
"Mama dan papa semua, Vina ke kamar dulu ya."
"Sayang, kamu dengerin aku." Adit merengek pada Vina mengejarnya seperti meminta mainan pada orang tuanya.
Orang tuanya menertawakan sikap anak dan menantunya yang amat sangat seperti anak kecil saat bersama Vina.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
See you...
__ADS_1