
Di jam istirahat sekolah.
"Vin, gimana hubungan kamu sama Raka itu?" tanya Naya.
Aku menghela nafas panjang (hufhhh). "Vina gak tau nay, dia cuek tapi perhatian, kadang juga nyakitin hati banget ngomong nya. Jadi pusing Vina," ucapku mengingat Raka yang kadang baik dan gak.
"Raka itu suka sama kamu vin, cuma dia gengsi aja, buktinya dia perhatian sama kamu," balas Nina.
"Gak juga sih menurut aku nin, soalnya, perhatian juga perbuatan biasa, manusiawi lah."
"Vina gak tau sih, Raka suka atau gak. Tapi gak yakin gitu, ucapan nya aja nyakitin mulu."
Tak lama kita ngobrol, bel sekolah berbunyi. Kita bertiga masuk ke dalam kelas. Proses belajar mengajar berlangsung, hingga akhirnya selesai dan waktu nya pulang.
Aku Naya dan Nina keluar dari kelas, ternyata ada yang sudah menunggu ku disana.
"Kak Vina, ibu Sri nyuruh aku untuk kasi tau ke kak Vina, disuruh ke gudang," ucap dekel menyampaikan bahwa aku disuruh ibu Sri ke gudang.
"Hah? gudang." Terkejut kita bertiga,
ngapain juga ibu Sri nyuruh ke gudang pikirku.
"Gak tau kak, mungkin beres-beres," jawabnya.
"Makasih ya."
Lalu pergi meninggalkan aku dan teman-teman.
"Naya Nina, kalian duluan ya, Vina mau temui ibu Sri dulu." Aku menyuruh Naya dan Nina pulang duluan, soalnya pasti lama kalau beres-beres.
"Gak apa kita temenin, iya kan nin?" ujar naya.
__ADS_1
"Iya Vin, kita temenin," balas Nina.
"Gak usah, kalian duluan aja, kan aku yang di panggil ibu Sri."
"yaudah deh, kamu yakin gak apa kita tinggal?" tanya Naya.
Aku membalasnya dengan mengangguk.
Setelah Naya dan Nina pergi ke parkiran, aku langsung menuju gudang, untuk menemui ibu Sri.
Aku mencoba mengetuk pintu gudang, "Ibu Sri, ini Vina," ucapku sambil mengetuk pintu gudang.
Aku memegang gagang pintu, ternyata tidak terkunci.
'oh mungkin ibu Sri udah di dalam.' batinku
Aku membuka pintu itu, dan masuk sambil memanggil ibu Sri.
"Kenapa kotor banget nih gudang." Aku mengibas-ngibas di depan wajah ku.
Aku mendengar suara, ada seseorang yang menutup pintu nya dari luar. Yang tadinya terbuka, sekarang sudah terkunci rapat.
"Woy siapa itu, hey buka pintunya."
"Tolong buka pintunya disini kotor, buka pintunya aku takut."
"Hiks Vina takut, mama papa ila, tolong Vina." Aku menangis memanggil keluarga ku.
"Vina alergi debu tolong," ucapku sedikit lemah dengan udara yang kurang disana.
Hacccihhh hacccihhh....
__ADS_1
Aku bersin-bersin, dan pusing.
"TOLONG... bu-kain pin-tunya, vi-na mau ke-luar," ucapku sudah lemah.
Aku menangis disitu, melepas kerudung ku, sambil bernafas lewat mulut.
Aku merasa sangat lemah sampai malam hari, aku masih di dalam gudang itu, sendiri.
Tanpa ada udara masuk, dadaku sesak, dan mimisan.
Dari luar seperti ada seseorang yang mendobrak pintu, aku melihat seperti bayangan hitam, disinari cahaya terang dari belakang. Hingga aku mengira ia adalah malaikat Izrail.
"Malaikat Izrail, Vina masih mau hidup, jangan buat Vina mati. Tapi kalau mau di bantu keluar dari gudang ini gak apa," ucapku sambil merentangkan tangan.
Bayangan itu mendekati ku, memasangkan kerudung ku asal, dan menggendong ku keluar.
"Malaikat, apa aku berdosa, rambut ku dilihat olehmu?" tanyaku lemah di dalam gendongannya.
Bayangan itu terus berjalan keluar dari sekolah, hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.
Like n favorit biar selalu dapat notif dari karya author terus.
annyeong 🤗
.
.
.
bersambung 💃💃💃
__ADS_1