
Malam harinya, aku akan menelepon kak Adit, untuk membicarakan tentang kelanjutan hubungan ini. Karena orang tua ku juga tidak mengizinkan aku pacaran, apalagi tau kalau beda keyakinan.
Aku takut mengabari kak Adit, karena kita tidak ada masalah apapun, hanya saja sulit dibicarakan.
Terpaksa, aku harus tetap menelpon kak Adit.
"Halo, kak Adit," ucap ku gugup.
"Halo cantik, tumben nelpon duluan, kangen yah?" tanya nya disertai gelak tawa.
"Kak, Vina mau bicara serius."
"Iya, apa sayang? aku dengerin kok, kalau nikah belum dong, kan kita masih sekolah."
"K-kak, Vina mau kita akhiri hubungan ini," ucapku sesak menahan tangis.
"APA... kamu bercanda kan sayang? ini prank yah? aku gak lagi ulang tahun loh," nada bicara kak Adit masih bergurau.
"Kita berbeda kak, kita gak bisa bersama," ucapku yang tak dapat membendung air mata.
"Cahaya, kita harus ketemu, aku yakin ini bisa kita bicarakan baik-baik." Suara kak Adit mulai berubah.
"Aku minta maaf kak, untuk saat ini aku gak mau ketemu siapapun," ucapku semakin. ðŸ˜
"Kalau kamu ada masalah, kamu bicara sama aku, jangan ambil keputusan sendiri kayak gini." Kak Adit juga mengatur nafasnya serasa sesak.
"Di luar sana, masih banyak wanita yang lebih baik dan lebih cantik dari Vina kak." Aku tak sanggup menahan nya, lalu aku akhiri panggilan telepon nya. Menangis sekencang-kencangnya dengan menutup wajahku dengan bantal.
Aku yakin, kak Adit pasti sangat marah padaku, setelah tenang, aku keluar dari kamar untuk makan malam.
"Kamu kenapa vin?" tanya mama.
"Gak apa kok ma, tadi nonton film sedih banget! sampai gak sadar nangis kuat," jawabku sambil tersenyum.
"Mama tadinya mau ngomong sesuatu sama kamu, karena kamu kan juga udah kelas XI."
Aku menaikkan sebelah alisku, ngomong sesuatu apaan? apa mama udah tau kalau aku punya pacar, pikirku.
"Ngomong apa ma?" tanyaku.
"Nanti aja deh, sekarang waktunya gak tepat."
Aku hanya mengangguk, terserah mama deh mau ngomong apa aja.
Tak lama ada ketukan pintu dari luar.
"Biar ila yang bukain," ucap ila dan mendekati pintu.
"Vina ke kamar ya ma, pa," ucap ku belum menghabiskan makanan.
"Loh, habisin dulu makanan nya Vin," tegur papa.
"Kenyang pa," aku berjalan ke kamar.
Aku merasa sangat ingin menangis lagi, tapi aku coba menahan nya. Untuk apa sih aku tangisi?
Mama mengetuk pintu kamar ku.
"Vina, ada temen kamu kesini," ucap mama.
"Siapa ma?" tanyaku siapa ya?
__ADS_1
"Keluar aja, temui dia cowok." Mama memberi tau agar aku tak lupa mengenakan hijab.
Hufhhh saat ini malas sekali rasanya bertemu dengan siapapun. Aku keluar kamar, tanpa melihat seseorang yang sedang menatap ku.
"CAHAYA" panggil nya
'suara itu dan panggilan itu' batinku
"Kak Adit, ngapain kesini?" tanyaku
"Vina, gak boleh gitu sama nak Adit, dia tamu loh disini," ujar papa.
"Nak Adit, ngomong aja sama Vina, om masuk ya."
Dia mengangguk dan kembali menatapku yang masih berdiri.
"Cahaya, kita bicara di taman dekat sini boleh? gak enak ngomong disini," ucap kak Adit mengajakku ke taman.
"Apa lagi yang mau di bicarakan kak?" tanyaku.
"Please.. sekali ini aja, kalau kamu gak mau bicara sama aku lagi gak apa-apa," ucapnya memohon padaku.
Akhirnya aku mengangguk.
"Aku bawa motor sendiri aja kak." Aku tidak mau lagi boncengan sama kak Adit.
"Tapi cahaya-"
"Pakai motor sendiri? atau gak usah ke taman?" tanyaku memberi pilihan pada kak Adit.
"Baiklah, kalau itu keinginan kamu," ucapnya mengalah.
Lalu kita melajukan motor kita masing-masing.
Kak Adit sengaja mencari tempat yang agak jauh dari orang, biar lebih enak ngobrol nya.
"Cahaya duduk dulu, aku mau ngomong."
"Apa yang mau kak Adit katakan?" tanyaku tak mau melihat ke arah nya, karena aku sudah menahan rasa sesak dan menahan tangis.
"Cahaya, apa benar yang kamu bicarakan di telpon tadi?" tanya nya.
"Kak Adit tau kan, kita berbeda. Aku hanya ingin kak Adit cari seseorang yang sama seperti kak Adit, di luar sana atau di taman ini mungkin, wanita yang lebih cantik-
Kak Adit menempelkan jari telunjuk nya dibibir ku, agar tidak lagi melanjutkan ucapanku.
"Aku gak mau wanita lain, sayang. Aku hanya mau kamu." Mata kak Adit mulai berkaca-kaca
"Kita beda keyakinan kak." Aku sudah tak bisa menahan air mata yang sudah dari tadi ingin mengalir.
"Aku bisa pindah ke agama kamu, demi kamu," jawabnya.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Gak bisa kak, aku gak mau kak Adit pindah agama hanya demi aku. Gimana perasaan orang tua kak Adit, apa mereka akan setuju?" ucapku.
Kak Adit diam tanpa merespon.
"Kak Adit gak bisa jawab kan?" tanya ku.
"Cahaya..."
__ADS_1
"Aku pulang duluan ya kak, angin mulai kuat mau hujan, udah malam juga."
"Sebentar cahaya, aku mohon kita jalani dulu hubungan kita."
Aku pusing, hidungku mulai mengeluarkan darah (mimisan).
"Astaga cahaya kamu mimisan, aku lupa kamu alergi dingin," ucapnya dan melepas jaketnya untuk menghangatkan tubuh ku.
"Aku gak apa kak ini udah biasa. Vina pulang ya" ucapku melepas jaket yang kak adit berikan.
"Ayo aku antar ya." Kak Adit memegang tangan ku.
"Aku bisa pulang sendiri kak, lagian kan Vina kesini bawa motor." Aku melepas tangan kak Adit.
"TIDAK TERIMA PENOLAKAN," menekan ucapannya.
Udara semakin dingin, jika terus berdebat, bisa-bisa pingsan di tempat.
Kak Adit mengiringi perjalanan menuju rumah dengan motor nya, ia mengantar sampai depan rumah.
"Makasih ya kak," ucapku berbalik untuk masuk.
"Cahaya, kamu gak apa-apa kan? aku khawatir sama kamu," lagi-lagi kak Adit memegang wajah ku.
"Jangan seperti ini kak, kita udah gak ada hubungan lagi, jadi biasakan jangan perhatian sama vina dari sekarang," ucapku tersenyum pada kak Adit.
Aku melihat kak Adit menangis di depanku.
"Aku gak mau kita putus cahaya. Aku cuma mau kamu, beri aku kesempatan," ucapnya.
"Kak Adit itu gak buat kesalahan apa-apa, jadi gak perlu ada kesempatan apa-apa juga. Karena ini masalah dari kita berdua yang berbeda keyakinan! aku mohon terima keputusan aku kak. Cari yang lebih baik dari Vina dan berkeyakinan sama dengan kak Adit." Aku kembali mengeluarkan bulir bening dan juga mimisan yang kembali mengalir.
Kak Adit menangis melihat ku lemah, ia mengelap mimisan ku dengan tangan nya, dan mengusap rambutnya kasar.
'ya tuhan sekarang aku harus berbuat apa? apa keputusan ku sudah benar' batinku
"Kamu masuk istirahat ya, kamu hanya butuh istirahat saja besok kita bicara lagi."
"Aku harap tidak ada lagi yang harus kita bicarakan kak, karena ini sudah berakhir."
"DEVINA CAHAYA.."
"ADIT RAYMOND." Aku tak kalah meninggikan suara dengan menyebut nama lengkapnya.
arghhhh....
Kak Adit berbalik menuju motor nya dan melajukannya cepat.
Aku kembali dengan tangisan tersedu-sedu.
"Ya Allah ini tidak adil. Kami saling mencintai, tapi kenapa? di pisahkan dengan satu hal yang tak bisa kami terjang, kenapa harus tuhan yang harus jadi pilihan?" aku merasa tuhan tak adil padaku, membuat 2 insan berbeda keyakinan saling mencintai, namun tak dipersatukan.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Di luar rumah semakin gelap dan dingin, aku masuk ke dalam rumah.
.
.
.
__ADS_1
bersambung 💃💃💃