
Setelah selesai sholat maghrib di rumah Raka, keluarga Raka dan aku makan malam bersama.
"Vina makan yang banyak, nih biar cepat gemuk," ucap tante ria menambahkan ayam lagi di piring ku.
"Makasih tante," ucapku tersenyum.
Raka melirik ke arah ku, aku hanya melihat nya lalu melanjutkan makanku.
"Di bilang gendut mama gak pa-pa, tapi kalau gue yang bilang habis lah gue."
"Raka kamu kenapa liatin Vina begitu?" ucap tante ria.
"Gak apa ma, suka aja liat Vina makan banyak," jawabnya tertawa langsung aku balas dengan tatapan tajam, ia langsung menunduk.
"Maksudnya apa liat Vina suka makan banyak? biar gendut ya ka?" tanya Farhan sengaja buat Raka kesal.
"Apaan sih kak, gak gitu juga maksudnya," melirik Vina yang makan. Raka jadi serba salah yang akhirnya takut dirinya yang kena.
"Bukan maksud nya begitu, tapi itu yang di maksud," sambung kak Shena.
"Kenapa keluarga ini selalu memojokkan hamba ya Allah, kamu jangan dengerin ucapan mereka ya vin, kamu pasti percaya sama aku kan?" tanya Raka padaku.
"Nggak," jawabku singkat menggeleng kan kepala sambil tetap makan.
puffhhh mereka semua menatap Raka yang cemberut sambil menahan tawanya.
"Kalian jahat kepadaku," ucapnya lebay.
"Udah selesai kan dulu makan kalian, baru nanti ngobrol lagi," ucap om Dirga.
Semuanya kembali memakan makanan nya, Raka yang sesekali melirik ku, aku menyadari itu. Namun tetap saja aku tidak memperdulikan nya.
Pura-pura marah boleh kali ya?
Setelah selesai makan malam kita semua ngobrol bersama di ruang tamu.
"Vina udah mau pulang belom?" tanya Raka.
"Baru juga selesai makan ka."
"Kamu gimana sih dek, biasanya yang pengen cepet pulang itu ceweknya, ini malah diajak pulang," ucap kak Shena.
"Gak apa sih, kak Farhan aja yang antar nanti Vin," sahut Farhan.
"Eh apaan tunangan nya masih disini, oke? kecuali Raka gak ada baru kak Farhan yang antar," ucap Raka tak terima jika tunangan nya itu ingin di antar kakaknya.
__ADS_1
"Udah lah Farhan suka banget deh godain adek nya, nanti papa kasi tau pacar kamu baru tau, kalau kamu suka sama tunangan adek kamu sendiri" papa ikut menimpali
"Bagus dong lagian Vina cantik kok, Farhan gak rugi malahan untung, iya kan Vin?"
"Hah?" karena dari tadi aku hanya mendengar mereka mengobrol jadi pas di tanya sedikit bingung.
"Iya kak," jawabku membuat semuanya tertawa kecuali Raka.
"Aku salah jawab ya?"
"Gak salah sih tapi itu buat tunangan kamu jadi makin jelek Vin, lihat aja tuh mukanya," kak Shena menunjuk Raka.
Aku menoleh kearah Raka yang cemberut.
"Kamu kenapa sih?" tanyaku melihat Raka.
"Ih kamu masih nanya aku kenapa? ya karena kamu milih kak Farhan dari pada aku."
"Kapan aku bilang nya?"
"Ya Allah, kenapa dia se lemot itu."
"Raka"
"Adek"
"Apaan?"
"Kamu ngomong apa tadi?"
"Lah kan di dalam hati kenapa kalian dengar."
Semuanya menatap ke arah ku, aku kembali bingung dengan tatapan mereka, Raka terlihat panik.
"Kenapa semuanya menatap Vina seperti itu?" tanyaku mengernyitkan dahi bingung.
"Kamu gak marah sama Raka?"
"Kenapa harus marah kak?"
"Kamu wanita luar biasa, aku semakin yakin pilihan ku tepat," ucap kak Farhan.
"Yang ini Raka melarang keras, ayo baku hantam kita."
"Raka gak boleh tau ajak berantem kak Farhan," ucapku menatap Raka.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi belain dia coba? ya tuhan hamba salah server di keluarga ini."
"Sayang udah malam ayo pulang yuk, kalau gak mau pulang aku nikahin sekarang," ancam Raka.
"Iya ayo kita pulang," ucapku cepat.
"Uhhu kita seperti suami istri beneran," ucapnya beranjak dari kursi sambil melirik kak Farhan.
"Istri juga bisa di tikung ya," sahut Farhan.
"Mama sama papa kenapa diam saja coba Vina mau diambil."
"Vina nya juga gak apa sih dek."
Raka langsung keluar menunggu Vina di mobil.
"Om tante kak Shena kak Farhan, Vina pamit ya udah malam."
"Iya sayang, sering-sering ya kamu kesini kan ada kak Shena sama tante walaupun Raka jarang balik."
"Iya tante pasti, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Mereka menatap ku sampai tidak terlihat di balik pintu.
"Vina lucu banget sih," ucap Farhan.
"Jangan bilang kamu suka beneran?" tanya papa.
"Kagum aja dengan kelucuan dan imut nya pa."
"Shena duluan yang bogem kak Farhan."
"Ngeri amat," melihat tangan Shena yang memang sering latihan beladiri.
hahhahaha
Capek juga mikir nih ceritanya dah lama banget soalnya gak di lanjut, sakit kemaren jadi gak sempat dan sedikit ada rasa malas.
Malah lanjut bikin cerita baru dan yang lain terbengkalai.
Begitu lah ketika rasa malas sudah muncul, itu sulit untuk melakukan sesuatu.
Jangan lupa like komen dan vote sayang
__ADS_1
Call me chinggu or bebu