Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Merasa risih


__ADS_3

Setelah lulus kuliah, mungkin dari sebagian orang sudah menyiapkan cv untuk melamar pekerjaan. Namun Vina hanya rebahan dan jalan-jalan di sekitar rumahnya, atau main kerumah orang tua nya.


"Vina," panggil seseorang. Vina yang sudah tahu siapa orangnya, karena berada tepat di depan Vina.


Vina hendak berbalik saja dan meninggalkan orang itu, ia tidak ingin ada kesalah pahaman dirinya dan laki-laki lain. Namun saat mengandung seperti ini, berbeda dengan saat dirinya hanya membawa perut yang sedang kenyang. Terasa lebih berat dan berjalan lebih lambat. Tentu saja, di dalam perutnya ada calon anaknya. Sedangkan saat dirinya masih gadis hanya membawa cacing.


Hrrrrr cacing cacing di perut kok bisa bernutrisi? Haha apaan bebu.


Tangan Vina di tahan oleh orang itu. "Vina, kamu kenapa menghindar? Aku hanya ingin bicara sama kamu." Dengan tangan yang masih memegang tangan Vina.


"Ada apa? Bukannya kita tidak sedekat itu?" Tanya Vina sembari mencoba menjauhkan tangannya dari orang itu.


"Memang tidak dekat, tapi kita berteman 'kan?" Kembali dengan memegang tangan Vina.


"Kamu apaan sih dim, lepaskan tangan kamu! Bicara tidak perlu menyentuh tanganku."


"Baiklah, aku minta maaf." Orang itu adalah Dimas, laki-laki yang bekerja di mini market dekat dengan rumahnya, dan ternyata seorang dari anak pemilik perusahaan besar seperti perusahaan Adit. Dimas melepaskan tangannya dari tangan Vina, ia sedikit memberi jarak namun tetap menampilkan senyum manisnya.


"Sebaiknya kita mengobrol sebentar vin, aku hanya ingin mengobrol santai sama kamu."


"Apa kamu tidak sibuk? Atau tidak memiliki pekerjaan? Sehingga bisa ada waktu mengobrol denganku di jam segini." Tanya Vina belum memberi jawaban bahwa dirinya menyetujui tawaran mengobrol dari Dimas.


"Aku hanya sebentar vin, tidak sampai seharian meninggalkan kantor. Lagipula, staff karyawan lain juga bisa mengerjakan nya."


"Lalu, pekerjaan kamu apa? Hanya mengawasi mereka dari jauh? Atau hanya jalan-jalan?"


"Kamu kenapa perhatian sekali sama aku, vin?" Tanya nya tersenyum.


"Hello, perhatian dia bilang?"


"Aku hanya kasihan sama yang lain, sedangkan kamu menerima gaji buta."


"Aku yang memberi gaji pada mereka. Lalu, apa yang perlu aku khawatirkan?"


"Baiklah, aku harus segera pulang dim. Lagian sudah 'kan mengobrolnya?"


Vina risih dengan hadirnya Dimas, Bukan karena tidak menyukai ada teman yang menyapanya. Namun tidak suka dengan sikapnya, yang semakin bergaya dan pamer dengan yang dimilikinya.


"Itu bukan mengobrol santai vin, kamu yang terus bertanya."


"Aku capek dim, kamu gak lihat aku sedang hamil besar? Kita masih bisa mengobrol lewat dm."


"Tapi aku ingin nya mengobrol secara langsung seperti ini vin."

__ADS_1


"Terserah kamu lah dim, aku mau pulang." Vina meninggalkan Dimas, mempercepat langkahnya. Namun flatshoes nya mengenai batu kecil, hingga dirinya hampir saja jatuh. Hampir? Iya hampir. Karena Dimas menangkapnya. Satu momen yang pas jika di abadikan, seperti sepasang suami istri yang sedang berpelukan.


"Astaghfirullah," Ucap Vina menjauh dari Dimas.


"Kamu gak pa-pa vin?" Tanya nya.


"Aku gak pa-pa, makasih." Vina kembali melangkahkan kakinya, berjalan menjauh dari tempat itu tanpa menoleh lagi kearah Dimas. Dimas hanya tersenyum disana melihat Vina yang sudah pergi sembari berkata, "Yes"


Apa maksudnya? Ia terlihat bahagia melihat Vina menjauh. Apa Dimas bahagia karena bisa memeluk Vina? Atau sudah menurun tingkat warasnya.


Adit yang sedang bekerja di kantor, memanggil Hendry agar masuk keruangan nya. "Ada apa pak?" Tanya Hendry pada bos nya. Mereka bersahabat, namun saat waktu jam kerja tetap harus profesional.


"Nanti siang saya harus pulang, mungkin tidak kembali lagi ke kantor. Kamu simpan saja berkas yang harus saya kerjakan di meja saya. Sebelum saya pulang mungkin masih ada yang lain? Atau bertanya kenapa saya pulang?"


"Tidak masalah pak, jika anda pulang. Yang terpenting sekarang ada pacar saya bekerja di kantor ini." Jawab Hendry dengan gelak tawa.


"Jangan berani kamu main-main di kantor. Jika ada urusan pribadi itu di luar kantor."


"Baik pak. Masih ada lagi yang mau anda sampaikan?" Tanya Hendry


"Tidak ada. Gue mau pulang sekarang aja deh hen." Adit tiba-tiba merubah ucapan nya, dari yang baku menjadi seperti biasa ia berbicara dengan sahabatnya.


"Tadinya gue udah profesional, eh dia malah lo gue di sini."


"Kaku apaan sih dit, orang udah biasa juga." Hendry menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.


"Gue harus pulang sekarang hen, lo urus kerjaan gue." Adit langsung beranjak dan keluar begitu saja meninggalkan Hendry yang masih bingung.


"Woy, maksud lo apaan coy. Masih belum siang ini masih jam sepuluh. Woy!" Teriak Hendry.


"Ada apa teriak-teriak kak?" Tanya Nina dan Naya yang baru masuk ke ruangan Adit.


"Adit pulang gitu aja, aku yang suruh ngurus kerjaan dia, sayang." Ucapnya pada Nina.


"Sabar sayang, ini aku dan Naya tambahin buat kamu, supaya lebih semangat kerja nya."


"Kita keluar dulu ya, nanti kita makan siang berdua." Nina mengecup jarinya, lalu meniupkannya pada Hendry. Hendry hanya menangkapnya meletakkan di dadanya, sambil memelas.


Naya hanya geleng-geleng melihat pasangan itu, sahabatnya yang seperti itu ternyata bisa menular juga pada Hendry pikirnya. Mereka berdua jadi pasangan yang sefrekuensi.


"Ini bukan semangat, astaghfirullah. Sahabat dan pacar gak ada akhlak." Hendry mengacak rambutnya sedikit frustasi.


...******...

__ADS_1


Adit sudah sampai di depan rumahnya, ia keluar dari mobilnya dan cepat masuk.


"Assalamu'alaikum. Sayang," panggilnya dari luar.


"Sayang,"


"Wa'alaikum salam, ada apa sih kak teriak-teriak?" Tanya Vina berdiri dari duduknya yang sedang menonton tv.


"Sayang..." Panggilnya lagi.


"Iya, aku disini." Vina berjalan menemui suaminya.


Adit melihat istrinya memegang perutnya yang besar, ia tersenyum.


"Kamu baik-baik aja? Apa kamu terluka?" Tanya nya beruntun, membuat Vina menaikkan sebelah alisnya.


"Apa sih kak? Ayo masuk dulu! Kak Adit lapar yah?"


"Tadi kamu jalan kemana?"


"Aku tadi keluar beli jajanan, pengen aja jalan-jalanĀ  pagi. Bosan dirumah terus."


"Kenapa jalan sendiri? Kenapa tidak mengajak mama atau aku juga bisa mengantar kamu."


"Aku bisa sendiri kak, lagian kenapa sih? Tumben juga jam berapa ini udah pulang." Vina memegang tangan Adit dan melihat jam nya.


"Masih jam segini kenapa sudah di rumah? Kak Adit bolos ya?"


Adit tersenyum, mana ada bolos pikirnya.


"Apa ada yang mengganggu kamu saat keluar?" Tanya Adit ingin melihat apa istrinya akan jujur.


Vina menggeleng. "Tidak ada"


Adit merasa kecewa, istrinya membohonginya.


"Tapi tadi aku bertemu Dimas, katanya dia mau ngobrol sama aku." Jawab Vina, dan itu membuat Adit tersenyum menatap istrinya yang semakin membuatnya gemas. Pipinya yang sebelum nya memang sudah chubby, kini lebih dari sebelumnya saat sedang hamil, membuat siapa yang menatapnya akan gemas dan ingin mencubitnya.


Bagaimana bisa Adit tahu? Apa ada paparazi yang ia suruh untuk menjaga Vina? Atau mempunyai indra ke delapan?


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


See you...

__ADS_1


__ADS_2