
Sebelumnya...
"Halo, kak Adit." Ucap Naya dengan nada cemas nya, setelah sambungan ponselnya terhubung.
"Ada apa nay? Dimana Cahaya?" tanya Adit.
"Kak, kak Adit cepat ke mall kak."
"Ada apa sih nay? Cepat jangan bertele-tele ada apa dengan Cahaya?" Adit sudah khawatir dengan Vina.
"Sakit," lirih Vina yang cukup terdengar di telinga Adit.
Nina merampas telepon yang ada di tangan Naya, karena melihat sahabat nya itu tidak cepat memberi tahu Adit.
"Kak Adit, cepat ke mall kak. Vina jatuh dan sekarang ada darah di bawah badannya."
"Apa? Kenapa bisa terjadi sih? Aku ke sana sekarang." Adit langsung mematikan ponselnya dan dengan cepat keluar ruangan untuk segera menemui istrinya.
Hendri juga ikut menemani Adit ke mall, ia tidak ingin sahabat nya itu menyetir sendiri.
Adit dan hendri sudah sampai di mall, untung saja mall yang mereka datangi dekat dengan kantor Adit, mereka cepat berlari untuk mencari keberadaan Vina. Mereka melihat ada banyak orang berkerumun, ia yakin istrinya ada disana.
"Permisi, permisi." Adit dan hendri menyuruh orang-orang menyingkir.
Adit melihat Vina yang sudah lemah, ia juga melihat darah di bawah Vina. "Sayang."
"Kak Adit, sakit kak." Ucap Vina sambil meringis.
"Kenapa bisa seperti ini? Ayo kita kerumah sakit." Adit meneteskan air matanya, ia tidak peduli dengan orang di sekitar nya. Yang terpenting kali ini adalah keselamatan istri dan calon buah hati nya.
"Hen, lu yang nyetir. Gue di belakang sama Cahaya." Hendri membukakan pintu mobil untuk Adit dan Vina.
Hendri langsung masuk ke dalam mobil nya untuk menuju rumah sakit, tanpa menjawab ucapan Adit.
Naya dan Nina juga ikut menangis, namun mereka mencoba untuk tenang dan mengikuti mobil Adit yang menuju rumah sakit.
Di mobil, Adit berusaha untuk tetap membuat Vina selalu terjaga. Ia mengelap keringat yang ada di wajah istri nya.
"Sayang, jangan tidur ya. Hiks, tolong kamu harus kuat dengan calon anak kita." Hendri menatap dari kaca mobil, ia kembali merasakan kesedihan sahabatnya itu.
"Sakit kak, selamatkan calon- anak kita kak." Vina berucap begitu lirih, sampai Adit hampir tidak mendengar nya.
__ADS_1
"Iya sayang, sebentar lagi kita sampai rumah sakit ya."
"Cepat nyetir nya hen! Jangan lelet mirip keong." Adit menyuruh Hendri lebih mempercepat laju mobilnya.
Tak lama mobil mereka sudah sampai di parkiran mobil, Hendri dengan cepat membantu Adit membuka pintu mobil dan berlari untuk meminta tandu dorong rumah sakit.
"Sayang bertahan," ucap Adit mengikuti tandu dorong itu berlari. Vina yang sudah sedari tadi menahan sakit tidak mampu lagi, ia tidak sadarkan diri.
"Cepat tolong istri saya, dan selamatkan calon anak kami." Adit memohon pada dokter agar menyelamatkan nyawa keduanya.
"Baik pak, anda tunggu disini! Biarkan kami untuk menangani pasien." Dokter dan suster masuk untuk secepatnya memberi pertolongan pada Vina. Adit yang hampir terduduk di bantu Hendri agar tetap berdiri.
Naya dan Nina takut melihat Adit, ia tidak berani mendekat. Mereka berdua mengingat kejadian dulu saat Vina di sekap di dalam gedung oleh Dea.
Adit melihat Naya dan Nina, lalu menghampiri keduanya. Hendri juga mengikuti Adit takut terjadi sesuatu dengan sahabat Vina. Karena emosi Adit dari dulu tidak dapat di kontrol.
"Sudah dit, lo mau ngapain?" Tanya Hendri.
"Gue cuma mau tanya hen, kenapa bisa terjadi seperti ini? Apa mereka berdua tidak menjaga nya, sesuai apa yang gue bilang." Hendri menatap Naya dan Nina yang seperti ketakutan.
"Maaf kak. Kita gak tahu kalau ini akan terjadi. Di mall tadi tiba-tiba aja ada mama nya Raka." Adit menggenggam tangan nya erat.
"Tiba-tiba tante ria menyenggol Vina yang hampir saja terjatuh, tapi untung dengan cepat kita membantunya. Vina tetap menyapanya dengan senyuman, namun tante ria mengatakan mempunyai masalah besar dengan Vina. Lalu, dia mengatakan Vina yang membunuh Raka."
"Wanita tua itu masih saja mengganggu Cahaya."
"Tapi yang membuat Vina seperti itu, Vina seperti menantang tante ria kak."
"Maksud kamu?"
"Tante ria mengatakan anak yang di kandung Vina bukan anak kak Adit, tapi anak dari orang lain. Itu yang membuat Vina berani untuk membela diri kak, Vina bilang bahwa jika tante ria menuduh membunuh Raka ia masih terima, tapi kalau masalah anak nya yang di tuduh bukan anak kak Adit, Vina akan melawan."
Adit seperti naik pitam, ia mengepal kedua tangan nya kuat. Matanya mulai memerah.
"Sabar dit, kamu belum memberi kabar orang tua sama mertua kamu. Mereka juga harus tahu kalau istri kamu masuk rumah sakit."
Adit lalu merogoh saku nya dan berbalik agak menjauh dari teman-temannya, untuk mengabari orang tua dan mertuanya.
...******...
"Adit, gimana dengan Vina dan calon bayi nya?" Tanya mama tia dan mama dira yang baru saja datang.
__ADS_1
"Adit gak tahu ma, dari tadi dokter di dalam lama sekali, entah apa yang di lakukan nya selama itu."
"Kenapa bisa seperti ini nak?" Tanya mama dira yang sudah menangis.
Lalu Adit menceritakan semua nya yang terjadi, seperti yang ia ketahui dari Naya dan Nina. Sahabat Vina itu mengangguk dengan apa yang di ceritakan Adit memang sangat detail seperti yang mereka ucapkan tadi.
"Kenapa mbak Ria begitu kejam, ia juga seorang perempuan dan mempunyai anak perempuan. tapi kenapa setega itu pada Vina."
"Sabar ma, kita doakan semoga Vina dan calon bayi nya selamat."
"Lalu, dimana mbak ria sekarang?" Adit dan hendri yang juga tidak tahu melirik Naya dan Nina.
"Tadi ada beberapa orang yang membawanya ke kantor keamanan disana, untuk di laporkan ke kantor polisi."
"Ya Allah, semoga mbak ria sadar dengan perbuatan nya yang salah."
Lama menunggu dokter keluar, akhirnya keluar juga.
Adit dan keluarga nya yang sedari tadi menunggu, menghampiri dokter yang baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan istri dan calon anak saya dok?"
"Bagaimana keadaan anak dan calon cucu saya dok?"
"Bagaimana keadaan menantu dan calon cucu saya dok?"
"Bagaimana keadaan sahabat dan calon anaknya dok?"
Pertanyaan yang sama di ajukan ke dokter yang baru saja keluar, ia juga bingung apa yang mau ia jawab.
"Kenapa dokter diam saja, gimana keadaan istri saya?" Tanya Adit yang melihat dokter hanya diam melihat kearah mereka.
"Saya akan jawab, tapi karena kalian seperti mendesak dan tidak berhenti bertanya. Saya bingung mau bicara apa."
"Baiklah, kami minta maaf dok."
Setelah semuanya tenang, dokter baru siap untuk menjawab. "Istri dan calon anak anda-"
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.
See you...
__ADS_1