Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Syukuran di kantor


__ADS_3

"Hari ini kamu berangkat sendiri ya, sayang? Aku mau langsung ke kantor ada meeting, gak bisa antar kamu dulu ke kampus." Ucap Adit mengambil tas nya.


"Kak Adit tenang aja, aku sudah punya teman yang mau antar jemput aku." Jawab Vina tersenyum mengantar Adit keluar.


Adit yang mendengar itu langsung berbalik, ia baru ingat kalau Vina ada yang mengantar nya kemarin.


"Laki-laki yang kemarin?" Tanya Adit menyelidik. Vina tidak ada menyangkal, ia tersenyum dan mengangguk.


"Sayang, ayo berangkat sekarang! Aku saja yang antar kamu ke kampus."


"Aku belum siap-siap, bukannya kak Adit ada meeting, harus cepat ke kantor?"


"Aku bisa menunggu nya, yang terpenting kamu jangan sama laki-laki kemarin." Adit tidak mau istrinya di bonceng laki-laki lain.


Baru Vina di dorong Adit untuk masuk ke dalam rumah, ponsel Adit berdering. "Kamu cepat siap-siap, aku angkat telepon dulu." Namun Vina tidak langsung pergi, ia ingin tahu siapa yang menelepon. Bukan curiga wanita lain yang menelepon, tapi ia yakin itu dari kantor.


"Halo hen," ucap Adit menatap Vina di depannya.


"Lu dimana dit, meeting akan segera dimulai."


"Gue mau antar istri gue ke kampus."


"Gak bisa dit, lo harus cepat ke kantor. Gimana kalau nanti mereka membatalkan kerja sama ini, untung nya lumayan besar dit kalau sampai lo bisa kerja sama dengan perusahaan ini."


"Lo gak bisa gitu handle dulu?"


"Gak bisa dit, harus lo langsung." Adit langsung mematikan ponselnya. Kembali menatap Vina di depannya.


"Sayang," ucap Adit.


"Tidak masalah kak, aku ngerti kak Adit sibuk."


"Masalah buat aku, kalau kamu sampai diantar laki-laki kemarin." Ponsel Adit kembali berdering, menampilkan nama Hendri di layar nya.


"Apaan sih ni bocah."


"Aku gak apa, kak Adit berangkat aja. Nanti kalau jam makan siang aku ke kantor."


"Janji ya?"


"Tapi diantar dimas."


"Tuh kan, aku gak mau anak kita lebih kenal dengan laki-laki itu. Aku ayah nya, tapi ibu nya dekat laki-laki lain." Vina hanya tertawa menanggapi ucapan Adit. Bagaimana mungkin seperti itu, dapat ilmu dari mana suaminya pikirnya.


"Diantar dimas itu hanya meminta bantuan, tapi kan cinta nya aku hanya untuk kak Adit." Adit yang tadinya cemberut, langsung tersenyum mendengar ucapan dari istrinya.


Ponsel Adit terus berbunyi, Hendri yang tak ada hentinya menghubungi Adit.

__ADS_1


"Aku janji! Jam makan siang nanti, langsung ke kantor kak Adit meluncur."


"Janji ya!" Vina menautkan jari kelingking nya dengan jari yang Adit ulurkan.


"Iya, janji."


"Lagian ini orang ngapain sih nelpon terus."


"Sini biar aku aja yang angkat telepon nya, aku mau bilang kalau kak Adit sudah mau berangkat."


"Sayang, aku gak mau kamu ngomong sama laki-laki lain. Terserah kamu bilang aku posesif atau gimana, yang terpenting itu aku tunjukkan karena aku sayang sama kamu." Vina tertawa mengelus wajah Adit.


"Kak Adit sekarang berangkat, aku juga mau siap-siap ke kampus."


"Jangan minta bonceng dia yah, kamu bawa motor atau mobil sendiri."


"Aku lagi ngidam di boncengin Dimas." Vina sengaja membuat Adit cemberut.


"Sudahlah, makan siang di kantor, aku tunggu!" Adit langsung mengecup bibir Vina sekilas, setelah itu langsung berlari karena sudah terlambat.


Vina menggelengkan kepalanya, dan masuk ke dalam rumah untuk bersiap berangkat ke kampus.


...******...


"Selamat ulang tahun ya vin, aku sama Nina tadi malam gak bisa ke rumah kamu."


"Tapi untuk kado, aku udah siapin yang spesial untuk kamu."


"Aku juga udah siapin kado yang sangat spesial untuk kamu."


"Kalian gak ngasi kado juga aku udah senang, karena kalian selalu menjadi sahabat aku dan menerima aku sejak masuk sekolah." Nina dan Naya memeluk Vina, mereka bertiga sama-sama saling menyayangi satu sama lain.


"Gimana kalau kalian ikut aku ke kantor kak Adit? Ada kak Hendri juga kan disana, jadi kalian gak bakal canggung kalau cuma ada aku dan kak Adit."


"Kalo aku sih yes, karena aku mau lihat karyawan kak Adit yang muda-muda dan ganteng."


"Aku juga mau ikut sih, tapi gimana yah?"


"Ikut aja lah, ayo!"


Di kantor Adit, mereka langsung masuk dan sebagian karyawan menunduk karena sudah tahu Vina adalah istri pimpinannya.


"Kak Hendri," pekik Vina melambaikan tangan nya pada Hendri yang sedang berjalan ke arahnya.


"Ayo vin, kamu sudah di tunggu Adit diatas."


"Terus kita?" Tanya teman-teman Vina.

__ADS_1


"Kalian ikut aja gak apa, lagian aku juga mau ke atas."


Mereka berempat berjalan menuju lift untuk naik ke ruangan meeting.


"Kenapa kesini kak?" Tanya Vina diangguki teman-temannya.


"Ayo masuk! Adit menunggu di dalam." Vina dan teman nya masuk. Namun mereka terkejut ternyata banyak orang di dalam ruangan itu.


"Sayang, selamat datang." Adit berdiri bersama karyawan dan juga rekan bisnis nya, menyambut istri pimpinan.


"Kak" Vina menatap semua orang dan terhenti di satu orang yang menatapnya sambil tersenyum.


"Dimas," ucap Vina. Adit menatap Dimas yang tersenyum ke arah istrinya.


"Kamu mengenal anak dari rekan bisnis aku, sayang?" Tanya Adit.


"Anak dari rekan bisnis?" Tanya Vina bingung, bukannya dimas salah satu karyawan mini market di dekat rumahnya.


"Perkenalkan semuanya, ini adalah istri saya, Devina cahaya. Disini istri saya juga memiliki saham dua puluh persen dari kantor ini." Adit memperkenalkan Vina, dimas hanya menatap Vina tanpa mengalihkan sedetikpun.


"Salam kenal ibu Vina." Semua yang berkumpul disana menyapa Vina, kecuali Dimas.


Vina mengangguk tersenyum ramah kepada rekan sekaligus karyawan kantor. Dengan sesekali melirik Dimas.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, ibu Vina?" Tanya rekan bisnis Adit, sepertinya itu papa dari Dimas.


"Saya tidak ingat pak, mungkin pernah."


"Kalau tidak salah, anda yang saya tawari pulang bersama saat di mini market. Waktu itu saya mengunjungi Dimas agar pulang, namun dia menolak."


"Hah? Eh maksud saya sepertinya iya, tapi saya waktu itu menunggu jemputan." Vina berusaha tersenyum dari keterkejutannya.


"Pasti yang anda tunggu waktu itu bapak Adit, kalian sungguh pasangan yang sangat serasi." Dimas menggenggam erat tangannya, Adit yang melihat itu memicingkan matanya, apakah Dimas menyukai istrinya.


Vina hanya mengangguk, tangannya sudah di genggam oleh Adit.


"Sekarang bertepatan dengan hari ulang tahun istri saya, dan juga ingin memberitahukan juga pada semuanya, bahwa istri saya sedang mengandung. Jadi ini juga sebagai syukuran kecil-kecilan atas kerja sama perusahaan."


"Wah selamat ya ibu Vina, ini sebagai calon penerus dari bapak Adit." Banyak yang mengucapkan selamat.


"Terima kasih." Vina menyuruh teman-teman nya ikut duduk bersama, agar bisa menikmati makanan yang sudah staff kantor sediakan.


Adit memantau tatapan Dimas pada Vina yang seperti mendamba, terlihat sekali menyukai Vina. Walaupun dirinya sudah memberitahukan bahwa Vina istrinya dan tengah mengandung. Namun tidak mempan bagi orang yang suka dengan yang sudah dimiliki orang lain, ia akan tetap ingin memiliki nya juga.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


See you...

__ADS_1


__ADS_2