Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Pesan dari Raka


__ADS_3

"Istri dan calon anak anda, alhamdulillah selamat."


"Alhamdulillah." Semua orang berucap syukur bahwa keduanya selamat.


"Alhamdulillah sekali, karena anda membawanya tepat waktu."


"Terima kasih dok," ucap Adit tersenyum


"Tapi, karena kandungan istri anda masih sangat muda dan rentan keguguran, butuh sangat ekstra istirahat. Karena kandungan nya saat ini masih sangat lemah."


"Pasti dok, apa kami boleh melihat keadaan istri saya dok?"


"Kondisi istri anda sangat lemah, akibat benturan pada bagian belakang. Saat ini masih tidak sadarkan diri"


Mereka semua kembali shock, karena Vina masih tidak sadarkan diri.


"Tapi kami bisa menjenguknya kan, dok?"


"Boleh saja, tapi hanya boleh satu orang."


"Baik dok."


"Saya permisi." Dokter itu tersenyum membungkuk sedikit, lalu berlalu pergi dari luar ruangan Vina.


"Pa, Vina lagi-lagi tidak sadarkan diri pa. Mama takut kejadian seperti dulu terjadi, bagaimana kalau Vina kembali trauma?"


"Tenanglah ma, tidak akan terjadi apa-apa dengan Vina."


"Em, kalau mama yang mau lihat Cahaya dulu gak apa, Adit setelah mama aja." Mama Dira menoleh kearah Adit yang juga meneteskan air matanya.


"Kamu aja dit, mama dan papa belakangan aja."


"Kalau gitu Adit masuk ya," ucap Adit membuat semuanya mengangguk.


Di dalam ruang rawat Vina, Adit melihat istrinya berbaring di atas brankar seperti saat menahan rasa penyakit leukimia nya dulu. Adit juga ikut merasakan rasa sakit bagai ribuan panah yang menancap di seluruh tubuhnya, melihat istri tersayang nya yang juga separuh nafas hidupnya kini tidak bisa memanjakan nya. Air mata yang terus menetes di pipinya, tak mampu ia bendung.


Adit menghampiri Vina dan memegang tangan istrinya itu dengan kedua tangannya. "Sayang, jangan siksa aku seperti ini, hiks. Jangan terlalu lama menutup mata, aku akan mencoba tidak manja lagi saat kamu terbangun, tapi tidak janji. Tapi untuk sekarang aku mohon! Demi anak kita yang ada di dalam sini." Adit mengelus perut Vina.


Adit merasakan pilu, jika saja ia bisa menggantikan posisi istri nya saat ini yang berbaring di atas brankar, ia akan melakukan nya.


"Sayang, kamu dengar kan? Aku tidak akan biarkan kamu merasakan sakit lagi, tidak akan biarkan orang lain menyakiti kamu. Aku minta maaf, tidak bisa menjaga kamu dan calon anak kita dengan baik. Aku tidak bisa untuk berjanji akan selalu melindungimu, tapi aku akan berusaha untuk selalu menjaga kamu." Adit hanya mampu menangis, ia tidak bisa membuat istrinya terbangun lebih cepat. Adit selalu menyalahkan dirinya yang tak mampu menjaga Vina.


...******...


"Vina" ucap seseorang memanggil Vina.


Vina yang merasa dirinya di panggil menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Kamu siapa?" Tanya Vina yang hanya ada cahaya di depannya, ia tidak bisa melihat orang tersebut.

__ADS_1


"Kamu tidak mengenalku vin?" Tanyanya membuat Vina berpikir untuk mengingat suara itu.


"Aku seseorang yang pernah mengisi hari-hari indah mu dulu vin."


"Raka?" Tebak Vina


"Iya, aku Raka."


"Benarkah kamu Raka?"


"Iya vin."


"Aku kangen banget sama kamu ka, aku selalu meminta kamu ajak aku pergi. Tapi kenapa kamu tidak pernah membawaku ka?"


"Vina, dunia kita beda vin. Aku juga ingin hidup sama kamu, tapi aku gak bisa untuk keras kepala, kalau bahagia kamu sebenarnya bukan sama aku vin."


"Apa maksud kamu ka? Aku bahagia sama kamu. Kamu tahu? Waktu kamu pergi tinggalin aku untuk selama-lamanya aku rasanya juga ingin ikut kamu ka, tapi kamu ragu sama cinta aku?"


"Vina, kamu memang begitu sedih saat kehilangan ku, tapi disaat itu juga bahagia nya tiba kan?"


"Maksud kamu?"


"Adit. Laki-laki yang juga jadi teman aku sebelum aku meninggal, dia selalu ada untuk kamu vin, selalu bisa untuk buat kamu tertawa saat bersama Adit. Kamu dengar suara itu?"


"Sayang, bangun! Jangan terlalu lama tidurnya."


"Kamu dengar itu suara siapa?"


"Dia begitu menyayangi kamu, lebih dari aku vin. Aku tahu Adit manja sama kamu, tapi dia adalah laki-laki yang akan selalu menjaga kamu vin."


"Kamu juga harus ingat, ada buah cinta kalian di perut kamu."


"Raka," ucap Vina lirih


"Aku bahagia disini bisa lihat kamu dan Adit akan segera mempunyai anak. Tapi satu yang mau aku pinta sama kamu, tolong maafkan mama aku vin, mama begitu kehilangan anaknya, mama belum bisa mengikhlaskan kalau aku sudah pergi."


"Aku minta maaf untuk semua janji yang akan membuatmu bahagia, aku juga minta maaf atas perlakuan mama."


"Satu lagi pesan ku vin, tolong sampaikan pada keluarga ku bahwa aku disini sangat baik, tanpa kekurangan satu apapun."


"Raka."


"Kamu kembali sama Adit vin, kasihan suami kamu itu sangat manja dia begitu cengeng."


"Aku mau ikut kamu ka."


"Pergi vin, disini bukan tempat kamu."


"Sayang."

__ADS_1


"Kak Adit," ucap Vina mengelus perutnya.


"Sayang, bangun!"


"Raka."


"RAKA..." Vina terbangun, ia melihat Adit yang berada di dekatnya sedang menangis menatap kearahnya.


"Sayang, kamu kenapa? Hiks Maafkan aku."


"Kak Adit, aku kenapa?"


"Kamu tiba-tiba keringat dingin, dan menangis."


"Raka, tadi aku ketemu Raka kak."


"Apakah dia baik-baik saja?" Vina mengangguk dan bercerita apa yang dikatakan Raka.


"Ternyata benar yang dikatakan Raka, bahwa suami aku ini sangat cengeng."


"Aku memang sangat cengeng, kalau kamu tidak ingin aku menangis. Jangan seperti ini lagi." Adit hanya meminta Vina tidak akan seperti ini, yang terbaring di rumah sakit.


"Benar? Tidak manja dan tidak cengeng?"


"Tidak janji, bisa mungkin waktunya hanya berlaku untuk sementara."


"Ada masa berlaku nya juga ya?"


"Iya dong cantik."


"Bagaimana dengan permintaan Raka?"


"Kita bicarakan nanti setelah kamu lebih sehat." Sebenarnya Adit tidak ingin jika yang membuat istrinya celaka bebas dari sel. Namun untuk menghargai permintaan teman nya yang sudah tiada, ia akan mencoba berdamai dan mengatakan pada orang tuanya, bahwa mereka sudah memaafkan tante ria.


"Kak Adit sudah makan?" Tanya Vina melihat suaminya itu, ia yakin kalau Adit belum makan.


"Sudah." Namun mulut dan perut tidak sejalan, bersamaan dengan ia berucap cacing juga menancap di sudut perut. Seolah mengatakan bahwa di dalam sana juga membutuhkan asupan makanan dari sang pemilik perut kosong itu.


"Kak Adit mulai berbohong ya? Aku gak suka ada kebohongan."


"Sayang, maaf. Iya aku belum makan, aku hanya ingin makan saat kamu sudah mau makan." Adit memegang tangan Vina, agar istrinya tidak marah.


"Sekarang aku sudah lapar, kak."


"Aku akan siapkan makanan nya dulu, tadi mama membawakan makanan." Vina menangguk tersenyum.


Mereka makan bersama, sekarang Adit yang menyuapkan makanan pada Vina dan dirinya sendiri. Untuk saat ini ia akan melupakan sifat manja nya selama sementara saja.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...

__ADS_1


See you...


__ADS_2