Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Main catur


__ADS_3

"Lu ngapain kesini dit? kan gue bawa motor sendiri," ucap kak Hendri.


"PD banget lu hen, gue kesini bukan ketemu lu."


"Terus lu ngapain kesini? gak langsung pulang aja." Kak Hendri heran, tidak biasanya Adit ke sekolah.


"Yah jemput cewek gue lah," ucapnya.


"Siapa cewek lu disekolah ini?" tanya kak Hendri.


"Cahaya" ucapnya singkat.


"Cahaya?" kak Hendri bingung siapa cahaya.


"Iya namanya DEVINA CAHAYA," ucap Adit lagi dengan keras.


deg


'ternyata Vina pacaran sama Adit" batinnya


"Nah itu dia cahaya, cahaya." Kak Adit memanggil Vina, kak Hendri juga ikut menoleh ke arah nya.


"Kenapa kak?" tanya Vina.


"Cahaya, aku yang antar kamu pulang ya," ucap kak Adit.


"Gak usah kak, Vina bawa motor sendiri kok."


Vina melihat kak Hendri mendekat.


"Apa bener Vin, kamu pacaran sama Adit?" tanya Hendri.


"Lah kak Adit bohongin kak Hendri ya?"


"Sayang, kamu kan memang udah jadi pacar aku."


"Hah? kapan?" tanyanya heran.


"Aduh cahaya, tadi pagi di taman," jawabnya


membuat Vina semakin bingung, bukannya tadi pagi hanya gombalin Vina aja, mana ada nembak.


"Gak kak Adit, kita gak pacaran, aku duluan ya," ucapnya berlalu ke motor.


"Vina."


"Cahaya."


Vina tetap tidak memperdulikan keduanya dengan tetap berjalan dan melajukan motor.


"Ya tuhan, kenapa jadi gini sih. Kalau di sekolah pada benci sama aku gimana? secara mereka berdua sahabatan, sama-sama OSIS juga, incaran banyak siswi di sekolah," ucap Vina di atas motor.


"CAHAYA..." teriaknya dari belakang. Vina melihat dari kaca spion, ada seseorang yang mengikuti nya, tapi yang panggil cahaya cuma satu orang.


"Kak Adit? ngapain lagi sih, aku harus ngebut." Namun yah tetap kak Adit yang menang, ia mencegah dengan motor nya di depan.


"Astaghfirullah, kenapa sih kak?" tanya Vina.


"Cahaya, aku cuma mau antar kamu pulang, itu aja."


"hufffhh... yaudah boleh deh, tapi papa nya Vina itu seram loh, kumis tebal dan menakutkan," ucapnya menakuti kak Adit.

__ADS_1


'aku yakin pasti kak Adit takut' lirihnya


"Gak apa, lebih tertantang, kan nanti bisa makin dekat juga," jawabnya.


'hah? kenapa gak takut sih' batin nya lagi


Tanpa berkata lagi Vina melajukan kembali motornya, tak lama sudah berada di depan rumah.


"Makasih ya kak," ucapnya.


"Harusnya aku yang makasih, bisa tau rumah kamu."


"Vin, kamu udah pulang," ucap papa dari dalam.


"Eh papa, assalamualaikum." Mencium tangan papa, Adit pun turun ikut menyalami tangan papa.


"Loh ini siapa?" tanya papa.


"Kenalin om pa-


"Namanya kak Adit pa, teman Vina dari SMA bawari," ucap Vina memotong ucapan Adit.


Bisa-bisanya dia mau bilang pacar nya.


"Hm yaudah Vin, ajak masuk dong," ucap papa.


"Kak Adit ada urusan katanya pa, iya kan kak?" ucap Vina mengedipkan mata.


"Lah kata siapa, gak ada kok om."


What....


"Gimana kalau temani om main catur, kamu bisa kan main catur?" tanya papa.


"Eh cahaya, gini-gini aku bisa loh main catur, gampang itu mah," ucapnya sambil menjentikkan jarinya.


"Ih terserah, aku masuk ya pa."


"Jangan lupa, bawain cemilan buat Adit."


"pa-


"Vina," ucap papa.


"Iya baiklah tuan," ucap Vina membungkuk.


Hahahahha


Setelah Vina masuk, kak Adit dan papa bermain catur sambil mengobrol.


"Tadi cahaya gak bolehin aku nganterin dia om, cuma aku maksa. Terus dia bilang kalau om itu seram, dan kumisnya tebal, mungkin biar Adit takut," ucap kak Adit.


"Menurut kamu, om gimana?" tanya papa.


Sebelum Adit menjawab, mama keluar bawa cemilan.


"Lah ma, kok bukan Vina yang bawa."


"Iya, tadi Vina bilang papa mau cemilan, yaudah mama bawain," jawab mama.


Papa menggelengkan kepalanya, "Hadeh anak itu."

__ADS_1


"Ini siapa pa?" tanya mama.


"Ini temannya Vina, namanya Adit." Memberi tahu nama Adit.


"Hai tante." Adit melambaikan tangannya pada mama.


"Iya hai, kalau gitu lanjut mainnya, tante masuk dulu."


Adit dan papa mengangguk.


"Ternyata, mama nya Vina masih muda ya om," ucap Adit.


"Kamu suka sama istri om?" papa menatap Adit tajam.


Adit menelan salivanya dengan susah payah.


'benar kata cahaya'


Hahahha


Papa menertawakan komuk Adit, yang seperti takut.


"Mama Vina masih 40 tahun, dan om udah 48," ucap papa.


"Masih awet muda banget berarti," ucap Adit.


Papa mengangguk.


Ila keluar, untuk menemui papa diluar.


"Pa, ila minta beliin eskrim," ucap nya.


"Bentar ya, papa main bentar," jawab papa.


"Maunya sekarang."


"Ajak kak Vina aja ya," bujuk papa.


"Mau nya sama papa." Ila merengek.


"Skak mat," ucap Adit mengakhiri permainan catur.


"Yah, papa kalah deh."


"Ini adiknya Cahaya ya om?" tanya kak Adit.


"Iya, ini paling manja," jawab papa sambil mencubit pipi ila.


"Namanya siapa dek?" tanya Adit.


"Mikaila sinar Ramadhani," Lirihnya menjawab pertanyaan kak Adit.


"Sinar? kakak nya cahaya, wah terang banget rumah ini om," ucap Adit disertai gelak tawa oleh kedua nya.


Tak lama Adit berpamitan pada papa, Vina memang sengaja untuk tidak keluar, agar dia cepat pulang. Tapi cepat juga akrab sama papa, pikirnya.


.


.


.

__ADS_1


bersambung 💃💃💃


__ADS_2