
Sebelumnya.
"Apakah tuan putri ini, menerima lamaran tampan ini?"
"Apakah jika aku menolak, kak Adit akan kembali pada keyakinan kak Adit sebelumnya?" Tanya Vina.
"Aku sudah yakin dengan keputusanku. Walaupun kamu menolaknya, aku tetap akan dengan identitas baru ku, cahaya."
Vina kembali menoleh pada makam Raka, seakan meminta jawaban atas lamaran Adit.
"Kalau kamu ingin menolak nya, katakan saja, cahaya! Aku tidak akan memaksanya ataupun marah dengan mu." Ucapnya menatap Vina yang hanya memandang makam Raka.
Vina kembali menatap Adit. "Beri aku waktu kak, hanya tiga hari. Apa kak Adit bisa menunggunya?"
"Apa kamu meragukan ku? Jangankan tiga hari cahaya, sampai aku tua juga akan aku tunggu. Tidak masalah jika kamu ingin aku menunggu hingga nanti." Adit mengatakan nya tanpa ada keraguan dalam ucapan nya pada Vina, ia bersungguh-sungguh untuk menunggunya selama apapun yang Vina inginkan.
"Aku mau pulang kak, sudah lama aku di sini." Vina beranjak dari duduknya.
"Biar aku yang mengantar pulang." Adit menahan tangan Vina.
Vina hanya mengangguk tersenyum, mereka berjalan keluar dari makam. Melajukan motor mereka masing-masing, menuju rumah Vina.
Mereka telah sampai di halaman rumah Vina.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Adit terlebih dahulu. Vina menoleh dan tersenyum ke arah Adit.
"Assalamu'alaikum." Vina juga ikut memberi salam masuk ke dalam rumah, karena pintu nya terbuka.
"Wa'alaikum salam." Orang tua Vina keluar dan juga ila mengikuti dari belakang.
"Kak Adit..." Pekik ila.
"Husst, kenapa teriak segala sih?" Ucap Vina
"Bilang aja tidak boleh teriak nama kak Adit, cemburu yah?"
"Ngapain cemburu?" Ucap Vina melirik Adit.
"Karena aku tidak ada hubungan apa-apa dengan kamu kan?" batin Adit.
Adit ikut tersenyum melihat wanita yang ia cintai itu tertawa seperti itu.
"Baiklah yang sudah tua," ejek ila.
"Yang disini merasa tersinggung." Ucap papa Gilang.
Ila memeluk papa Gilang. "Papa tetap muda, hanya pasangan itu yang tua." Tunjuknya pada Adit dan Vina.
__ADS_1
"Boleh kita ngobrol dulu, jangan hanya berdiri seperti ini. Papa dan mama mau bicara serius."
Vina melirik Adit yang juga meliriknya. Mereka mengangguk menyetujui untuk mendengarkan apa yang akan di bicarakan kedua orang tua Vina.
"Papa mau bicara apa?" Tanya Vina.
"Papa sebenarnya tidak ada hak apapun sama kamu Vin, namun karena menurut papa kamu anak papa, papa akan meluruskan hubungan kalian."
"Maksud papa apa?" tanya Vina tidak mengerti.
Papa Gilang melirik mama Dira sambil menghela nafasnya. "Maksud papa, jika hubungan kalian tidak jelas arahnya kemana, lebih baik perjelas sekarang. Papa ingin dengar keputusan kamu sekarang Vin."
"Pa, Vina-
"Tidak perlu memberi alasan lagi vin, sudah cukup Adit menunggu kamu." Membuat Vina menunduk.
"Om, tante. Adit sudah memberikan waktu cahaya untuk berpikir nya selama tiga hari, jadi kita hanya perlu menunggu jawaban cahaya tiga hari lagi." Adit menatap Vina yang hanya menunduk.
Papa dan mama beralih menatap Vina. "Apa kamu tidak masalah menunggu lagi? walaupun jika misalnya-
"Adit tidak masalah dengan itu, Adit akan tetap menunggu nya sampai cahaya menerima nya." Mata keduanya bertemu, Adit menatap wajah Vina lekat. Tidak akan ada kata membenci apalagi berhenti mencintai.
Papa Gilang dan mama Dira tersenyum mengangguk, sebenarnya terserah keduanya. Namun mereka hanya ingin Vina tidak selalu memberikan harapan pada Adit, jika tidak menyukainya biarkan Adit pergi mencari yang lain. Tapi dari kesungguhan ucapan dan tatapan Adit terhadap Vina, mereka percaya Adit akan selalu menyayangi Vina dan tidak akan menyakiti anak mereka.
__ADS_1
Annyeong love.