Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Sibuk


__ADS_3

Malam hari, aku di rumah terasa bosan, ingin rasanya jalan-jalan menghirup udara dingin.


"Apa aku telepon Raka aja ya, mau gak ya kalau aku ajak keluar."


"Coba dulu deh," aku mencoba menghubungi Raka, namun tak ada jawaban.


Hingga tiga kali aku menghubungi nya ia baru mengangkatnya.


"Halo sayang," ucapnya menjawab telepon dari ku.


"Kamu dimana? kenapa baru angkat telepon Vina?" tanya ku.


"Maaf, ini aku lagi ada tugas kelompok, jadi aku baru angkat."


"Vina kira gak sibuk, Vina mau ajak keluar, Vina bosan di rumah."


"Nanti ya, atau gak besok, gimana?"


"Ya udah deh, maaf ya. Vina ganggu, assalamu'alaikum."


"Say-


tut tut


Aku mematikan sambungan telepon nya.


Hufhhh aku menghela nafas, dan membaringkan badanku ke ranjang.


Ponselku berdering, aku melihat ternyata Raka yang menelepon. Aku tidak mengangkat nya, lanjut memejamkan mataku.


Beberapa kali Raka menelepon, karena aku tak kunjung mengangkatnya, Raka tidak lagi menghubungiku.


"Gak apa deh, aku tidur awal aja malam ini, eh sholat dulu, lagian Raka kan ada tugas gak mungkin kesini." Aku beranjak ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan setelah itu sholat isya'.


Selesai melaksanakan sholat isya' aku men silent ponsel ku, lalu menutupi seluruh tubuh ku dengan selimut.


Beberapa menit saja aku sudah terlelap.


Sekitar jam 08:00pm.


"Kak Vina," ila memanggilku dari luar.


"Vina," papa dan mama juga memanggilku sambil mengetuk pintu kamar.


"Raka, tadi kamu ada telepon dia gak?"


"Terakhir Vina ajak jalan Raka, cuma tadi masih ada tugas kelompok."


"Apa Vina ngambek ya? coba kamu telepon lagi," Raka mencoba meneleponku lagi, namun karena sudah aku silent. Jadi, tidak terdengar suara apapun.


"Aduh pa, Vina bak-baik aja kan di dalam?" mama khawatir padaku.


"Tenang dulu ma, sementara panggil Vina lagi, papa mau cari kunci cadangan kamar ini," ucap papa dan mencari kunci.


"Vina," panggil mereka lagi dari luar.


Aku sekilas mendengarnya, "siapa sih?"


"Vina, buka pintunya!" panggil mama.


Aku menguap dan terbangun, "apa sih mama sama ila manggil-manggil."


"Kak Vina," ila memanggilku lagi.


"Iya bentar," aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu.


"Vina, buka pintunya!"


Cklek... (aku membuka pintu kamarku).


"Iya ma, apa sih teriak-teriak, Vina mau tidur. Udah sholat kok, cuma gak ngaji, tapi Vina lupa tadi gak baca do'a." Aku menguap sambil garuk-garuk kepala yang terasa gatal, dan menyender di pintu, tanpa melihat orang di depanku.


"Vina, ini ada Raka loh, kerudung kamu-


"Hah? Raka?" aku langsung membuka mataku lebar.


Raka di depan menatapku, melihat yang ku kenakan setelan baju tidur tanpa hijab.


Aku langsung masuk lagi, dan mengunci pintu.


Papa diluar sepertinya sudah menemukan kunci cadangan yang di carinya.


"Papa telat banget, kak Vina udah keluar, cuma masuk lagi karena ada kak Raka."


Papa mengernyitkan dahinya bingung, "memangnya kenapa kalau ada raka?"


"Vina gak pakek kerudung," ucap mama


Papa langsung melirik Raka.


"Vina, keluar ya! kita tunggu di luar, ada Raka juga."


"Suruh pulang aja pa."


"Vina, gak sopan, gak boleh ngomong gitu! pokoknya keluar, kita tunggu di luar."

__ADS_1


Aku tidak lagi menjawabnya, hanya mengambil kerudung. Karena baju tidurku, celana panjang dan baju lengan panjang.


Aku langsung keluar tanpa mencuci muka, berjalan keruang tamu, tanpa menatap mereka.


Aku mendudukkan tubuhku di kursi.


"Raka, kalian ngobrol aja, kita masuk, ayo il," ucap papa mengajak ila juga.


Setelah papa ama dan ila masuk, Raka duduk di dekat ku.


"Kamu marah ya, sama aku?" tanya nya


Aku memijit pelipisku karena terbangun secara tiba-tiba.


"Gak," ucapku jujur, karena memang aku tidak marah.


"Ayo kalau mau keluar, aku temenin."


"Gak apa kok, bukannya kamu lagi ada tugas kelompok."


"Udah selesai tadi."


"Vina udah malas keluar, kamu pulang udah malam." Aku beranjak dari tempat duduk,


namun tanganku di tahan Raka.


"Hey sayang, kamu marah sama aku ya?"


"Gak Raka, sana pulang! aku udah males."


"Kamu males sama aku?"


"Aku males keluar, jangan cari masalah deh."


"Ya udah, beneran males ya? aku mau pulang," ucapnya beranjak dari tempat duduk.


"Eh kamu mau kemana?" tanyaku.


"Ya pulang lah, kamu kan males keluar, dan gak mau ketemu aku."


"Berhubung kamu udah disini, yaudah ayo."


'Malu-malu kucai' batin Raka


"Kamu mau pakai begini?"


"Kamu malu, aku pakai baju tidur jalan sama kamu?"


'Salah lagi gue'


"Yaudah ayo!" menarik tanganku.


Raka tersenyum mengusap kepalaku. "Yaudah sana ganti baju, aku tungguin, 5 menit."


"Oke" aku menyatukan jempol dan jari telunjuk dengan membentuk O.


'Gak yakin 5 menit selesai' batin nya


Aku dengan cepat menuju kamar mengambil baju dan celana.


Tanpa banyak memoles make up, namun aku tetap memakai lipstik.


Aku keluar mengenakan jaket dan masker, untuk jaga-jaga saat udaranya dingin.


5 menit pas aku keluar.


"Taraaaa... Vina udah selesai."


"Astaghfirullah," Raka terkejut melihat ku.


"Kenapa? gak bagus ya?"


"Bukan, maksud aku cepet banget."


"Kan aku cuma mau ganti baju."


"Ya udah ayo!" Raka menggenggam tanganku dan kita keluar.


"Pengen pakai motor gitu kita boncengan, tapi Vina takut alergi."


"Kita pakai mobil aja ya?" ucap Raka dan aku mengangguk.


Aku dan Raka masuk ke mobil. "Kita mau kemana?" tanya Raka sambil memasang seat belt.


"Ke taman dekat sini aja," jawabku.


"Siap tuan putri," balasnya memberi hormat.


Aku terkekeh melihat Raka.


Mobil Raka sudah melaju, menuju taman.


Tak lama mobil nya sudah terparkir di area taman.


Aku dan Raka masuk ke area taman, Raka juga mengenakan masker.

__ADS_1


Namun setelah di taman berdua kita membukanya.


"Kita duduk di CF itu, atau duduk disini aja?" tanya nya.


"Disini aja deh."


Aku dan Raka duduk di kursi taman.


"Kamu kenapa tiba-tiba pengen jalan-jalan keluar?"


"Pengen aja sih, bosan di rumah."


"Apa kangen mau ketemu aku?" tanya nya menyelidik.


"Gak juga, Vina cuma pengen aja keluar."


"Yang bener?"


"Nanti kalau Vina pengen keluar, Vina jalan nya ngajak kak Hendri aja gimana? atau kak Adit?"


"Yah gak gitu juga ih, aku kan bercanda, kenapa serius banget," mencubit pipi ku.


"Jadi selama ini, kamu cuma bercanda in aku, gak serius?" tanya ku pura-pura marah.


"Aaaa sayang, bukan gitu loh."


"Aku mau kamu nyanyi."


"Oke, spesial buat kamu."


Raka menyanyikan lagu untuk ku.


Kita mengobrol dan tertawa bersama setelah Raka selesai menyanyi.


Entah apa seperti nya tidak terlalu dingin, namun aku mimisan, dan aku melihat Raka sesak dan batuk dengan mengeluarkan darah.


Kita sangat bahagia, juga sama-sama merasakan sakit. Aku tidak tau Raka mempunyai penyakit atau tidak, namun ia selalu mengatakan juga memiliki alergi yang sama denganku.


Aku dan Raka langsung ke mobil, Raka memegangi dadanya.


"Raka, kamu gak apa kan?" tanyaku sambil mengelap darah yang ngalir di hidung.


"Aku gak apa kok." Dia mencoba tersenyum, namun langsung hilang memegangi dadanya dan batuk.


"Raka, kamu sakit ya? Vina minta maaf, kenapa kamu gak bilang kalau sakit." Aku menangis menatap Raka, aku tidak memperdulikan mimisan ku.


"Kamu jangan nangis Vin, aku gak suka kamu gini."


"Terus kita gimana? aku telepon seseorang ya, minta bantuan."


"Gak usah, biar sebentar saja begini, aku masih bisa mengantar kamu pulang."


"Tapi kamu sakit, hiks"


Raka yang memegangi dadanya, langsung menatap ku.


"Aku gak apa, kamu tenang ya," ujarnya mengambil tisu dan mengelap mimisan ku.


"Raka, kamu sakit apa? jujur sama Vina? hiks" tanyaku.


"Sayang, jangan nangis gini! aku sedih juga lihat kamu nangis."


"Aku cuma mau tau, kamu sakit apa?"


"Aku udah gak sakit, ayo kita pulang," ucapnya.


'Ya Allah sakit banget dadaku.' batin Raka


Aku mengangguk, Raka langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah ku.


Mobil Raka telah sampai di depan rumah.


"Kamu langsung masuk ya, cuci muka juga oke" ucapnya.


"Iya, kamu juga jangan lupa istirahat."


"Aku boleh gak peluk kamu?" tanyanya


Aku tersenyum mengangguk.


Raka memelukku dengan erat, "aku sayang banget sama kamu Vin," ucapnya.


"Aku juga sayang sama kamu," jawabku membalas pelukan nya.


Raka melepas nya, "sekarang masuk rumah dan langsung ke kamar istirahat, oke?" ucapnya mengelus kepalaku.


Lalu mencium kening ku.


Aku mengangguk, dan turun dari mobil Raka.


Masuk ke dalam rumah setelah mobil Raka melaju meninggalkan pekarangan rumah.


'Ya Allah, aku gak kuat' Batinnya menyetir sambil memegangi dadanya.


Jangan lupa like vote komen

__ADS_1


Just call me chinggu (teman) oke 😉


Annyeong 🤗


__ADS_2