Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Ibu adalah pendengar dan pemberi nasihat yang baik


__ADS_3

Orang tuanya sudah ada di dalam kamar Vina, melihat anaknya itu sedang menonton dan kadang tersenyum melihat tontonannya. Para orang tua saling menatap, seperti tidak terjadi apa-apa dengan Vina. Namun mereka tetap khawatir dengan yang Adit ceritakan, Vina banyak mengalami trauma dari semasa ia kecil dan pindah sekolah. Sampai juga mengalaminya setelah tunangan nya meninggal.


"Vina," ucap mama Dira memanggil Vina. Vina yang merasa di panggil memiringkan ponselnya dan menoleh ke arah pintu.


"Mama." Vina meletakkan ponsel Adit di nakas, dan berusaha duduk. Mama Dira dan mama tia berlari untuk membantu Vina bangun.


Vina menaikkan satu alisnya bingung, kenapa mereka sampai membantunya seperti itu.


"Vina, kamu kenapa nak?" Tanya mama Dira.


"Apa suami kamu ada menyakiti kamu?" Tanya mama tia.


"Kak Adit dimana ma?" Tanya Vina karena ia tidak melihat nya.


"Aku disini, sayang!" Adit baru saja masuk ke kamarnya.


"Oh orang ini yang menyakiti kamu? biar mama yang bantu jewer telinganya." Mama tia menghampiri Adit dan menjewer telinganya.


"Ma, Adit tidak pernah menyakiti istri Adit." Ucap Adit sambil meringis, menahan tangan mamanya.


"Kak Adit tidak pernah menyakiti Vina ma," Vina yang melihat juga merasa ngilu.


"Adit menjaga Cahaya melebihi pada diri Adit sendiri. Adit menyayangi istri Adit ma, mana mungkin Adit menyakitinya." Mama tia dengan pelan melepaskan tangan nya. Setelah lepas dari mama nya, Adit mendekati Vina dan meletakkan tangan istrinya itu di telinganya.


"Kamu saja yang jewer telinga aku, rasanya berbeda jika kamu yang melakukannya." Adit menuntun tangan Vina agar menjewernya.


"Apa maksud kamu? Apa menurutmu saat istri kamu yang menjewer akan terasa lembut?"


"Memang begitu adanya ma, apapun yang istri Adit lakukan akan terasa lembut. Sekalipun dia menampar wajah Adit." Ucap Adit menatap wajah cantik Vina.


"Adit, minggir kamu. Mama dan papa mau melihat Vina, jangan manja-manja saat ada kami disini." Mama Dira menyuruh Adit minggir dan mengambil alih tempat yang tadi di duduki menantunya.


"Mending diluar bikinin kita minum, kalau istri sedang tidak sehat itu buatkan makanan yang enak." Ucap mama tia juga ikut duduk di sebelah besannya.


Vina hanya tertawa melihat suaminya memanyunkan bibir. Adit yang tadinya cemberut karena diusir dari kamarnya sendiri berubah tersenyum saat melihat tawa istrinya. Itu sudah cukup bagi Adit dari semuanya, sekalipun saat ini dirinya tidak memiliki apapun, yang terpenting ia tetap bersama istrinya dan melihat senyum manis itu setiap saat.

__ADS_1


Adit akhirnya membiarkan istrinya di ambil alih orang tua dan mertuanya, ia memasak untuk menyuguhkan makanan yang spesial buat tamu yang spesial juga. ART yang biasa nya dirumah, hanya datang di pagi hari untuk membuat sarapan dan membersihkan rumah.


...******...


Malam ini tidak terasa sunyi, bukan hanya mereka berdua dirumahnya, orang tua Vina menginap di rumah mereka. Namun orang tua Adit pulang di karenakan ada acara di gereja. Sebagai pendeta dan jemaat yang taat, orang tua Adit harus hadir.


Mama Dira kembali ke kamar anaknya untuk mengobrol, Adit juga keluar mengobrol dengan papa mertua.


"Vina, kalau ada sesuatu yang mau kamu ceritakan, cerita saja. Jangan di pendam sendiri, supaya tidak sakit pada diri kamu."


"Tidak ada ma, tidak ada yang ingin Vina ceritakan." Namun ia berkata dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


"Mama tidak memaksa kamu untuk bercerita pada mama, pada suami kamu juga bisa. Asal jangan kamu pendam sendiri."


Vina tiba-tiba memeluk mamanya dan menangis. Mama Dira membiarkan anaknya itu menangis di pelukannya, sambil di elusnya rambut sang anak. Ia akan menunggu sampai anaknya benar-benar tenang.


Tak lama Vina melepas pelukannya, dan menatap mama nya. "Ma,"


"Iya sayang." Di belainya wajah Vina.


"Kamu belum bisa cerita sayang, nangis dulu keluarkan semua air mata yang menurut kamu itu beban. Mama selalu ada buat kamu, jangan sedih nak." Mama Dira kembali menarik Vina kedalam pelukannya, agar Vina puas dengan tangisnya dulu, baru ia akan menyuruh anaknya itu bercerita.


Setelah tenang Vina melepas lagi pelukannya. "Sudah selesai?" Tanya mama Dira yang diangguki oleh Vina.


"Vina takut ma," ucap Vina dengan sisa isakan tangis.


Dira tidak sekalipun ada niat untuk bertanya, mengapa anaknya itu merasa takut.


"Vina takut, Vera mantan kak Adit menyakiti Vina dan calon anak Vina."


"Vina sudah cukup mendapatkan perlakuan tidak baik selama ini, jangan sampai anak yang ada di dalam kandungan Vina ini ikut merasakan sakit ibunya. Vina gak mau!"


"Kamu percaya sama Allah nak?" Tanya mama Dira


"Tentu Vina percaya."

__ADS_1


"Lalu apa yang kamu ragukan? Allah tidak akan menguji hambanya melainkan dengan kesanggupannya. Allah tahu kamu mampu melewati ini semua, buktinya kamu sudah sampai sekarang ini, sampai di titik ini. Bersama suami kamu yang selalu mendukung kamu. Bagaimana kamu bisa takut dengan sesama manusia? Vina anak mama itu berani, walaupun cengeng namun kamu tidak boleh menyerah."


"Vina hanya takut kak Adit berubah, berpaling pada Reva dan meninggalkan Vina dengan anak Vina, ma." Adit sedari tadi di luar pintu kamar, mendengar apa yang istrinya takutkan. Ingin sekali masuk dan berbicara pada istrinya, namun papa mertuanya menggelengkan kepala supaya Vina berbicara dulu dengan mama nya.


"Apa Adit terlihat memberi ruang pada mantannya?" Vina menggeleng


"Apa Adit menutupi hubungan kalian di hadapannya?" Vina menjawab dengan kembali menggelengkan kepalanya.


"Adit menyayangi kamu melebihi menyayangi dirinya sendiri, mama percayakan semuanya sama Adit, vin. Papa juga percaya bahwa Adit bisa membahagiakan kamu, lebih dari yang kita berikan selama ini untuk kamu."


"Sekarang jangan pikirkan itu semua, kamu harus banyak istirahat. Jangan sedih! calon anak kamu butuh ibu nya yang ceria tidak selalu menangis seperti ini." Mama Dira menghapus air mata Vina yang tersisa di pipinya.


"Mama juga akan istirahat, besok pagi mama sudah harus pulang ke rumah. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk cerita dengan suami kamu. Kalian harus saling terbuka, jangan ada yang di rahasiakan."


"Iya ma, makasih ma."


"Sama-sama sayang, kamu istirahat ya. Mama akan suruh suami kamu masuk."


"Jangan dulu ma, nanti Vina kelihatan kalau habis nangis."


"Tidak terlihat kalau habis menangis, kamu boleh juga jadi artis vin." Mama Dira tertawa menatap anaknya.


"Mama"


"Yasudah, mama keluar dulu ya! kamu istirahat. Selamat tidur, sayang." Mama Dira mencium kening Vina.


"Iya, mama juga." Mama Dira membantu Vina menarik selimutnya sampai ke dada, mengubah lampu menjadi lampu tidur, setelah itu baru ia keluar.


Mama Dira keluar, dan menemukan dua laki-laki yang sedang mendekatkan telinganya ke pintu, mereka menatapnya disana. "Apa lihat-lihat mama seperti itu? Cantik? Makasih. Mama sedang tidak punya uang koin, permisi bapak-bapak penguping." Mama Dira meninggalkan Adit dan papa Gilang yang terkejut, mereka juga ketahuan sedang menguping.


Jangan lupa gabung di grup bebu sayang, namanya TBD bukan TBC yah 🤭


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


See you...

__ADS_1


__ADS_2