
Siang hari, Nina dan Naya menjenguk ku di rumah sakit.
"Vin, kamu udah baikan? sumpah kangen tau sama kamu," ucap Nina.
"Iya Vin, berasa ada yang kurang," timpal Naya.
"Kangen bareng ke perpus, sama ke kantin bareng," ujar Nina lagi.
"Terus apalagi?" tanyaku pada mereka.
"Apa lagi ya nin?" tanya naya pada Nina
"Yah apalagi anj... yaudah itu aja," jawab Nina.
"Woy omongan dijaga." Nina langsung mendapat geplakan dari Naya.
"Lama-lama aku kek kertas nay, karena kamu geplak terus," balas Nina memanyunkan bibirnya.
"Kalian pasti aja berantem, dimana-mana," ucapku melihat mereka seperti kucing dan tikus.
tok tok...
Suara ketukan pintu dari luar.
Kita menoleh ke arah pintu, untuk melihat siapa yang datang.
Seseorang itu masuk! membawa parcel buah, dan menaruh nya di meja.
"Gimana keadaan kamu vin?" tanya nya padaku.
"Baik kak," jawabku.
"Apa kalian sudah tau, siapa yang mengunci Vina di gudang?" tanya Hendri yah Hendri yang datang.
Walaupun di tolak cintanya, kak Hendri tetap tidak membenci ku.
"Belum kak, disekolah masih mencari tau, lewat cctv. Siapa yang sudah mengunci Vina di gudang," jawab Naya.
"Menurut aku sih, pasti Dea dan teman-temannya," ucap Nina.
"Jangan suudzan deh nin, cari tau dulu. Kalau beneran Dea pelakunya, biar pihak sekolah yang menghukum nya."
"Iya bener sih kata Vina, tapi Nina ada benernya Vin! siapa lagi di sekolah yang gak suka sama kamu."
"Terus yang mana yang benar sih nay?" Nina juga bingung.
"Keduanya juga masuk akal." Naya memang tau suudzan itu tidak boleh, tapi menuduh yang memang pada sasaran itu juga boleh.
Aku hanya menepuk jidat sambil geleng-geleng.
"Vin, kamu udah makan siang belum, aku potongin buah ya," ucapnya mendekati meja tadi, ada buah yang ia bawa.
__ADS_1
"Gak usah kak," ucap ku.
"Gak apa vin."
Padahal pengen yang pedes-pedes 🤤 kek seblak.
Yah jadi pengen seblak kan lu pada, tapi gua pengen bakso juga mie ayam juga dan dimsum siomay huh panas pedes.
Padahal aku gak bisa makan yang terlalu pedes, lambung gua bermasalah *** bulsh..t.
"Aku suapin ya Vin," ucap kak Hendri.
"Gak perlu kak, Vina bisa sendiri." aAku menolak kak Hendri untuk menyuapiku, mengambil potongan buah yang ia taruh di piring.
Kak Hendri menyerahkan nya pada ku.
"Apa Vina boleh nanya kak?" ucapku bertanya.
"Mau nanya apa vin?" tanya kak Hendri.
"Apa kabar dengan Adit kak?" pertanyaan ku bertepatan dengan seseorang yang masuk.
Kita menoleh lagi ke arah pintu.
Raka menatap ku tajam, aku hanya mampu menelan salivaku dengan susah payah.
"Ra-ka."
"Adit sekarang lebih kurus dari sebelumnya Vin," jawab kak Hendri melanjutkan yang aku tanyakan.
' tapi ngapain Raka marah?'
"Kenapa kalau sekarang?" tanya Raka
Nina dan Naya saling melirik.
"Vi-vina mau makan ka, iya kan Naya Nina?" aku menatap tajam mereka.
"Nah makan."
"Makan ati," lirih Nina.
"Aku kesini cuma bawain ini buat kamu," ucap Raka menyerahkan roti dan bubur serta Snack untuk ku.
"Makasih ya ka." Aku meraih nya.
"Hm." Lama-lama Raka mau nyanyi kek Nisa sabyan hm hm hm hm hm hm hm hm hm hm.
"Mama sama papa nanti kesini, jengukin kamu. Kamu makan sendiri bisa kan, aku balik ke kampus," ucapnya mengambil tas nya lagi yang tadi ditaruh di kursi.
"Raka."
__ADS_1
"Apa hm?" tanya nya.
Ekhemm ekhemmm hati aman.
"Makasih ya Raka, hati-hati di jalan," ucapku tersenyum.
Dia hanya mengangguk. Setelah kepergian nya, aku dan teman-teman kembali mengobrol.
"Apa dia yang buat kamu meninggalkan adit Vin?" tanya kak Hendri.
Aku Naya dan Nina saling menatap.
"Apa harus Vina jelaskan lagi kak?" tanyaku.
"Udah lah kak, gak usah bahas lagi."
"Adit menderita karena kamu tinggalin dia Vin," ucap Hendri.
"Apa kak Hendri mengira Vina gak menderita, Vina hanya ingin melupakan dia kak, apa kurang mengerti lagi? Vina dan Adit gak bisa bersatu kak, kita berbeda keyakinan hiks," ucapku menangis mengingat lagi waktu bersama kak Adit.
Tak ada yang tau sebenarnya Raka belum pergi, ia mendengar pembicaraan mereka.
Huhhhh tiba-tiba aku sesak. "Dokter panggil dokter cepat," ucap Naya.
Mereka bingung dengan ku yang tiba-tiba sesak.
Raka masuk kembali mendengar teriakan temanku.
"Lu apakan Vina bang**t?" ucap Raka pada Hendri memegang kerah bajunya.
"Gue gak ngapa-ngapain," jawabnya.
"Kalian masih sempat berantem disini yah, Vina tolong," ucap Naya melihat dua orang ini masih mau saling baku hantam.
Raka membalikkan badannya, melihat Vina yang sesak.
Tak lama dokter datang menyuruh semuanya keluar.
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Vina, habis lu sama gue," ucap Raka menunjuk wajah Hendri.
"Santai kali bro, gue cuma ngasi tau mantan dia! itupun karena dia yang mau tau kabar mantannya, bukan kemauan gue," jawab Hendri.
aArghhhh... Raka meninju dinding rumah sakit.
'apa kamu masih suka sama mantan kamu vin?'tanya nya di dalam hati
Kadang seseorang memang tidak menunjukkan, bahwa dirinya peduli dan sayang. Tapi dia akan menunjukkan nya, lewat perhatian kecil untuk nya.
.
.
__ADS_1
.
bersambung 💃💃💃