Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Stadium akhir


__ADS_3

Sebelumnya...


"Permisi," ucap seseorang membuat mereka semua kembali menoleh.


Keluarga Vina dan Raka yang berada disana, mengingat orang yang baru saja datang. Namun sepertinya mereka tidak mengenal orang itu,


"Maaf, mencari siapa?" tanya papa Gilang ramah.


Kedua orang itu menatap Adit, yang hanya melihat orang-orang di depannya itu kebingungan.


"Om, tante. Mereka adalah orang tua Adit," ucap Adit. Lalu orang tua Adit menatap kembali ke arah mereka dengan menampilkan senyuman nya.


Papa dan mama Vina saling pandang, selama pacaran dulu anaknya belum pernah mengenalkan mereka.


"Maaf, jika kedatangan kami malah membuat ibu dan bapak terganggu. Perkenalkan saya Antonius Raymond dan ini istri saya Christia, kami orang tua Adit Raymond."


Papa Gilang tersenyum menatap orang tua Adit, "Tidak mengganggu sama sekali pak, kami malah senang. Berarti banyak orang yang akan mendoakan Vina."


"Saya Gilang, papa Vina. Dan ini mamanya Dira."


Orang tua Adit mengangguk tersenyum, "bagaimana keadaan nya sekarang pak?" tanya mama Tia.

__ADS_1


Semua orang disana hanya terdiam, mereka juga belum tahu bagaimana keadaan Vina saat ini.


Dokter keluar dari ruang periksa, melihat banyak sekali orang di luar.


"Bagaimana dengan keadaan pac- eh Cahaya dok?" tanya Adit. Karena dirinya yang paling dekat dengan pintu.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya papa dan mama yang sejak tadi sudah mulai kembali berkaca-kaca.


Keluarga Raka dan juga orang tua Adit, hanya menunggu jawaban dari dokter.


Dokter nampak menghela nafas nya panjang, "Saya sebenarnya sudah lama mengatakan, jika sebaiknya Vina therapy, namun Vina selalu menolaknya. Saat ini penyakitnya sudah menjalar ke bagian hati, paru-paru dan pembuluh otak nya, sehingga selalu membuat Vina merasa lelah. Seperti sekarang ini, mimisan dan merasa pusing, lalu tidak sadarkan diri."


"Dokter, saya mohon selamatkan anak saya." Mama Dira memohon agar dokter dapat menyembuhkan penyakit Vina.


Adit tidak sanggup lagi untuk berkata, hatinya hancur, berdiri pun ia serasa tak mampu, sesak rasanya mendengar ucapan dokter. Wanita yang ia cintai akan meninggalkan nya untuk selama-lamanya.


"Aku juga tidak sanggup, jika hidup tanpa kamu, Cahaya" batin Adit menangis.


Orang tua Adit menatap anaknya sedih, mereka tahu anaknya itu sangat mencintai Vina. Namun ini keinginan Vina untuk pergi secepatnya.


"Apa kami bisa melihat Vina dok?"

__ADS_1


"Silahkan. Saya permisi," ucap dokter itu tersenyum.


Mereka semua masuk ke dalam ruang rawat Vina, melihat gadis itu terbaring lemah di atas brankar dengan bantuan alat oksigen. Hanya bunyi monitor yang terdengar.


Adit berdampingan dengan orang tuanya, ia tidak mampu menahan air matanya.


"Ma, Cahaya." Mama Tia mengusap lembut rambut Adit, ia juga tidak tahu harus berbuat apa.


Keluarga Raka juga sama, mereka hanya diam tidak mampu untuk berkata lagi. Wanita yang di titipkan Raka agar mereka dapat menjaganya dengan baik, malah akan menyusul nya.


"Vina, mama dan papa disini nak. Kamu cepat sadar," ucap mama Dira memegang tangan Vina.


"Papa juga disini Vina, cepat sadar nak." Tidak ada jawaban ataupun pergerakan dari yang di ajak bicara, Vina hanya terbaring lemah tanpa ada tanda-tanda untuk membuka matanya.


"Cahaya, ayo bangun!" lirih Adit yang hanya mampu di dengar papa dan mamanya.


Papa dan mama Adit hanya mampu mengelus anaknya. Begitu pula dengan orang tua Raka dan kakaknya, mereka hanya mampu saling menguatkan.


"Aku tidak akan mampu bertahan lama di dunia ini, tanpa dirimu Raka."


"Aku tidak sanggup melihat mu menderita, cahaya."

__ADS_1


FYI : Kenapa semua bisa masuk ruang rawat Vina? Jawabannya, karena rumah sakit itu milik othor.


Salam dari othor, selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.


__ADS_2