Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Kembali kerumah


__ADS_3

Vina sudah boleh di bawa pulang bersama baby dev, semua keluarga nya menyambutnya dirumah beserta sahabat-sahabat nya. Vina dibantu oleh ila mendorong kursi rodanya, sedangkan Adit tak hentinya mencium baby dev di gendongannya.


"Cucu papa setelah ini bisa sesak nafas." Ucap papa Anton.


Semuanya menatap papa Anton, karena tidak mengerti dengan yang di ucapkan papa Adit itu.


"Apa dokter ada mengatakan sesuatu? Hingga papa mengatakan bahwa baby dev sesak nafas?" Tanya Adit pada papanya, ia takut terlewatkan bertemu dengan dokter sampai tidak menyampaikan jika semisal anaknya itu mempunyai penyakit sejak dini.


"Bukan karena penyakit atau semacamnya, tapi karena papanya. Lihat saja sendiri kelakuan Adit pada anaknya." Papa Anton menyuruh yang lain untuk memperhatikan Adit yang terus mengecup pipi anaknya.


"Kenapa sekarang jadi memperhatikan Adit? Gemas sekali dengan pipinya yang sangat lembut ini. Coba deh perhatikan tangan dan kaki nya yang mungil, sangat gemas seperti ibunya."


"Eh tolong yah, ponakan aunty yang masih mungil itu jangan disiksa dengan ciuman yang akan membuatnya tidak nyaman. Cium saja ibunya." Ucap Ila.


"Hey bulu jagung, sudah aku jadwal antara ibu dan anaknya. Siang anaknya, kalau malam baru ibunya." Adit mengedipkan satu matanya pada Vina.


"Jangan macem-macem! Selama empat puluh hari kedepan, mama dan mertua kamu yang akan menemani istri kamu tidur. Jadi kamu harus tidur di ruang tamu." Mama Tia sengaja akan menemani menantunya, ia tidak percaya dengan anaknya itu yang di takutkan akan macam-macam dengan Vina.


"Weh apaan ma, jangan pisahin kamar Adit sama Cahaya ma. Adit gak bisa tidur tanpa istri Adit ma." Adit menghampiri mama dan mertuanya memohon agar tidak memisahkan dirinya dan Vina.


Mama tia mengambil baby dev dari gendongan Adit. "Boleh kan kita pisahin ayah dan ibu kamu dulu, sayang?" Tanya nya pada baby dev.


Baby Devan tersenyum sambil memeletkan lidahnya, ia seperti meledek ayahnya yang sedang memohon pada nenek dan oma nya.


"Lihat kan? Anak kamu saja senang jika kalian pisah kamar untuk sementara." Mama tia tersenyum dan mencium baby Devan.


Karena tidak berhasil memohon pada mama nya, kini Adit beralih duduk di sebelah istrinya. "Sayang, bilang sama mereka kalau kamu tidak bisa tidur tanpa aku."


"Kata siapa? Aku bisa kok tidur tanpa kak Adit." Ucap Vina membuat semuanya tertawa.


"Sayang, jangan seperti itu jawabnya." Sedikit memelankan suaranya.


"Bukannya kamu tidak bisa tidur tanpa aku di samping kamu?" Ucap Adit mengedipkan sebelah matanya. Namun sepertinya istrinya seperti pura-pura tidak mengerti dengan kode yang di berikan suaminya itu.


Vina memegang wajah Adit, dan meniupnya. Vina mengira jika suaminya itu sedang kelilipan, sejak tadi hanya mengedipkan mata.


"Sayang, kenapa mata aku di tiup?" Tanya Adit melepas tangan Vina dari wajahnya.


"Bukannya kak Adit sedang kelilipan? Aku membantu nya untuk meniup kotoran yang ada di dalam mata kak Adit."

__ADS_1


"Kamu baik sekali vin, Adit memang sedari tadi kelilipan. Kamu istri yang sangat pengertian." Ucap papa Gilang membuat sahabat-sahabat nya ikut tertawa.


"Sayang," rengek Adit tanpa malu di depan orang tua dan sahabatnya.


"Kasihan sekali baby dev, ayah nya masih seperti anak kecil." Ucap Hendry yang malu sendiri dengan tingkah Adit.


"Diam lo hen, gue bicara sama istri gue."


"Kak Adit memang masih seperti anak kecil, beda sama kak Hendry." Ucap Nina yang membela pacarnya.


"Tentu sayang, mana ada aku seperti anak kecil."


"Kalian berdua anak kecil, aku disini yang sudah bisa buat anak kecil." Jawab Adit membuat Vina di sampingnya melirik tajam.


"Tapi kelakuan juga seperti anak kecil."


"Kelakuan-


Belum sempat ia melanjutkan sudah di potong oleh Vina.


"Masih mau lanjut? Masih mau jawab lagi?" Tanya Vina membuat Adit diam.


Tapi sebelum itu, ia menatap Adit yang merasa bersalah.


"Lanjut lagi, kalau mau pisah kamar sampai dua bulan." Ucapan Vina membuat mata Adit membulat sempurna. Satu bulan saja ia merasa hampa tanpa memeluk istrinya, apalagi di tambah sampai dua bulan.


"Sayang, jangan seperti ini. Ila, biar kak Adit aja yang bantu kakak kamu ke kamar." Ila membiarkan kakak nya di bawa Adit ke kamarnya.


"Orang kalau sudah bucin akut seperti itu, istrinya marah juga tetap di sayang." Ucap papa Gilang yang disetujui oleh papa Anton.


"Jadi maksudnya papa gak sayang? Karena kalau mama marah langsung di tinggal."


"Iya jeng, berbeda dengan Adit yang bucin dan sangat pengertian." Mama tia juga mengiyakan  apa yang di katakan mama Dira.


Papa Gilang dan papa Anton saling pandang, mereka hanya berbicara tentang orang yang bucin, tapi kenapa malah mereka sekarang yang di libatkan.


Ila dan sahabat-sahabat kakak nya, ia mengajak mereka untuk mengobrol agar tidak mendengar percakapan orang tua nya. Akhirnya mereka asik dengan obrolan masing-masing, tanpa menghiraukan orang tua yang juga sedang menyelesaikan masalah nya.


...******...

__ADS_1


"Sayang, kamu istirahat aja kalau sudah selesai memberi asi. Biar aku saja yang menjaga baby dev."


"Tidak perlu, aku masih bisa menjaganya." Jawab Vina menidurkan baby Devan di box bayi, dengan cepat Adit membantunya.


"Sayang, aku minta maaf. Aku tidak apa kalau harus pisah kamar, tapi jangan lama-lama. Jangan ketus juga sama aku, aku cuma gak mau jauh dari kamu." Ucap Adit memeluk Vina setelah meletakkan anaknya di sana.


"Siapa yang marah? Aku gak ada marah sama kak Adit." Jawab Vina sambil mengelus bahu suaminya itu.


Baby Devan yang di dalam box bayi menangis, entah cemburu dengan ayahnya yang sedang memeluk ibunya. Atau ikut terharu.


"Cup cup sayang, kenapa nangis hm?" Adit mengambil anaknya itu dengan hati-hati dari box bayi, ia tidak ingin istrinya yang menaruh nya di box bayi, karena takut belum kuat. Vina yang melihat suaminya menggendong baby Dev kembali ke ranjang, sambil melihatnya dari sana.


"Kamu cemburu ya, lihat ayah peluk ibu? Masih kecil jangan cemburu ya sayang, ibu cuma milik ayah." Adit membawa baby dev ke dekat Vina.


"Ibu milik kalian berdua, jangan jadikan ibu bahan rebutan. Kalian adalah kesayangan ibu." Baby dev tersenyum, seperti mengetahui apa yang ibunya katakan.


"Lucunya kamu sayang."


"Lebih lucu kamu." Jawab Adit.


"Anak siapa ini? Wah anak siapa?" Tanya Vina seperti ibu-ibu pada umumnya sambil tertawa.


"Baru juga semingguan melahirkan sudah lupa dengan anak sendiri." Vina terus saja mengajak baby dev bermain. Namun Adit merasa mencium bau tak sedap di dekatnya.


"Sayang, kamu kentut ya?" Tanya nya pada Vina.


"Siapa yang kentut sih kak? Yang sering kentut sembarangan itu kak Adit."


"Tapi kok bau ya?" Tanya nya, lalu menyadari bahwa anaknya yang belum pup.


"Sayang," rengek nya merasa tangannya hangat.


Vina hanya tertawa menatap Adit yang harus membersihkan anaknya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain.


IG : @istimariellaahmad98

__ADS_1


See you...


__ADS_2