
"Dari hasil urine tadi dan pemeriksaan saya, kamu infeksi di saluran kemih, kamu pasti sering nahan buang air kecil. Saya resepkan obat nanti, tapi sebaiknya kamu di rawat inap! karena, bisa jadi beberapa hari akan terasa sakit di bagian perut, walaupun sedang berbaring, dan sulit berdiri."
"Raka, Vina pulang aja ya," pintaku.
"Tapi sebaiknya disini aja, kalau ada apa-apa bisa langsung di tangani." Aku langsung terdiam karena yang di katakan Raka ada benernya, karena perutku juga sangat sakit.
"Mari saya antar ke ruang rawat," ucap perawat yang ada disana.
"Terima kasih ya dok," ucap Raka dan aku tersenyum.
Dokter itu membalas nya dengan mengangguk.
Raka mendorong kursi roda ku, keluar dari ruang periksa.
Teman-teman masih menunggu dan Raka di luar.
"Gimana hasilnya?" tanya mereka.
Hufffhh Raka menghela nafas panjang. Aku hanya menunduk, karena akan menginap lagi di rumah sakit.
"Jangan bilang- (ucap Nina terhenti, dan menutup mulutnya).
Naya menyenggol lengan Nina.
"Beneran kan apa yang gue bilang tadi," ucap temen Raka.
"kapan kalian melakukan? atau bukan sama Raka?" tanya nya lagi.
"Jadi maksud kalian Vina hamil?" ucap Nina.
"Ya sepertinya."
"Gue belum ngomong, kalian udah ambil kesimpulan sendiri. Main nyerocos aja."
"Terus apa hasilnya?"
__ADS_1
"Vina infeksi saluran kemih, jadi dia mengalami muntah-muntah dan sakit di bagian perutnya, hingga sulit juga berjalan," jelas Raka.
"O" ucap mereka ber o ria.
"Ayo! kasian mbak nya," ucap perawat.
Lalu Raka kembali mendorong kursi roda ku ke ruang rawat inap.
Perutku sangat sakit, untuk berdiri saja harus bongkok, tidak bisa berdiri tegap.
"Ayo Vin, aku bantu."
"Vina bisa kok," aku memegangi perutku sambil meringis kesakitan.
Raka tetap membantuku ke brankar.
"Kalian pulang aja, Vina telepon mama sama ila biar kesini."
"Iya, kalian balik lagi aja ke kampus, gue yang jagain Vina."
"Kalau gitu, kita balik duluan ya Vin, semoga cepat sembuh."
"Aku sama nina juga mau balik Vin, nebeng sama mereka teman-teman Raka.
Aku mengangguk pada mereka.
Setelah Naya Nina dan juga teman-teman Raka keluar, aku menatap Raka.
"Kenapa gak ikut mereka pulang?"
"Aku kan mau jagain kamu, kamu gak suka aku jagain? kalau gak suka, yaudah aku pulang."
"Bukan gitu maksud Vina, kamu jangan marah dulu, Vina hanya merasa selalu nyusahin kamu, apalagi Vina yakin diluar sana gak akan ada yang mau ngurusin pasangan nya yang penyakitan," ucapku lalu menunduk berkaca-kaca.
Raka memegang tanganku, "lihat Raka! aku tuh udah sering banget bilang sama kamu kan? kamu itu segalanya bagi Raka, diluar sana juga pasti banyak yang jagain pasangannya, ataupun tidak, ya terserah mereka. Kamu jangan pernah merasa nyusahin aku, aku selalu ada buat kamu," ucapnya membuat aku menangis dan memeluk Raka.
__ADS_1
"hiks makasih, karena kamu selalu ada buat Vina," Raka mengelus lembut kepalaku.
"Jika misalnya nanti aku sudah tidak lagi bisa menjagamu, tolong! jangan menangis, aku tidak suka melihat kamu sedih Vin."
"Gak! kamu udah janji, hiks akan jaga Vina terus. Jadi, jangan tinggalin Vina hiks," ucapku makin menangis dan memeluk Raka erat.
"Tuh kan kenapa malah tambah nangis nya, udah dong."
aww
Aku merasa perutku sakit lagi, aku melepas pelukannya.
"Raka, tolong telepon mama suruh kesini," aku meringis kesakitan.
"Kamu gak apa kan? aku panggil dokter ya?"
"Gak usah, Vina mau baring aja."
"Yaudah, aku telepon tante Dira dulu, biar kesini sama mama juga, kamu istirahat aja," ucap Raka.
Aku mengangguk sambil menahan sakit yang amat sangat di bagian perut.
Raka selalu di dekat ku sambil menelpon mama dan keluarganya.
Jangan lupa like vote komen
Just call me chinggu (teman) oke 😉
Annyeong 🤗
.
.
.
__ADS_1