Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Ingatan trauma


__ADS_3

"Kamu siapa?" Tanya Vina menatap wanita itu, Vina penasaran dengan wanita di hadapannya.


"Aku?" Ucap wanita itu menunjuk dirinya sendiri, lalu menatap Adit dan tertawa.


"Kamu tidak kenal siapa aku? Oh iya aku ingat, kamu Vina bukan?"


"Kamu tahu siapa aku?"


"Aku baru mengingatnya, kita pernah makan bersama waktu kamu bersama tunangan kamu." Adit menatap Vina dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu?"


"Aku Reva, pacar Adit. Kamu lupa kita pernah kenalan 'kan?" Adit terus menggelengkan kepalanya saat Vina mentapnya.


"Bohong, kita udah putus ya re. Kamu jangan asal bicara sama Cahaya."


"Kamu yang putusin aku, tapi aku tidak menganggap kita udah putus. Aku anggap kita masih pacaran." Reva bergelayut mesra di lengan Adit.


"Kak Adit, apa maksudnya semua ini?" Tanya Vina yang sudah menahan air mata nya.


"Sayang, ini salah paham."


"Sayang?" Tanya Reva menatap keduanya.


"Re, pertama kita sudah lama putus. Kedua kamu jangan sembarangan meluk-meluk aku, apalagi di tempat umum. Ketiga, aku dan Cahaya sudah menikah." Adit berdiri dan duduk di sebelah Vina yang sudah berkaca-kaca.


"APA?!!!!..." Reva membuka lebar mulutnya, ia terlihat syok.


"Bu-bukannya Vina sudah punya tunangan, lalu kenapa bisa menikah dengan kamu?"


"Cahaya adalah mantan pacar aku dulu, sebelum tunangan dengan almarhum Raka."


"Almarhum?"


"Iya, almarhum. Raka sudah satu tahunan meninggal. Waktu aku pacaran dengan kamu itu hanya untuk manas-manasin Cahaya, tapi itu tidak mempan karena mereka di jodohkan."


"Lalu, aku menikah dengan Cahaya saat dia sudah sembuh dari penyakit yang di deritanya selama di tinggal Raka. Aku mencintainya dari dulu sejak kita pacaran hingga saat ini." Ucap Adit menatap istrinya.


"Tapi aku juga cinta sama kamu, dit."


"Maafkan aku re, aku tidak pernah cinta sama kamu."


"Aku tidak bisa kamu giniin dit, aku akan membalas semua perlakuan kamu sama aku."


"Aku hanya ingin kamu mencari laki-laki yang mau terima kamu re."


"Tapi aku tetap maunya kamu. Jika aku tidak bisa miliki kamu, tentunya orang lain juga tidak boleh." Reva menatap tajam kearah Vina.


"Aku mohon, jangan buat keluarga kecil kami berantakan re. Cahaya saat ini sedang mengandung, kemarin kandungannya hampir saja keguguran, itu adalah ulah mama Raka."

__ADS_1


Reva kembali syok, kenapa bisa mama dari Raka ingin mencelakai mantan calon menantu nya.


"Kamu pasti kaget kan? Aku juga begitu awalnya. Cahaya terlalu banyak mengalami hal sulit saat Raka meninggal. Dia harus menahan rasa sakit, dan harus mengalami kritis. Setelah selesai berobat, pulang lagi kesini malah di tuduh membunuh Raka yang memang memiliki kanker sejak lama." Vina memeluk Adit sambil menangis, mengingat lagi saat Raka meninggalkan untuk selamanya.


"A-aku mohon re, jangan ganggu keluarga kami." Adit membalas pelukan istrinya. sambil mencium pucuk kepalanya.


Reva melihat itu meremas ujung bajunya dan mengepal tangannya. Saat ini ia harus kasihan pada mereka, atau pada dirinya sendiri. Reva hanya di jadikan bahan untuk memanas-manasi, tidak di pikirkan perasaan nya oleh Adit.


"Kalian tidak memikirkan perasaan ku, awas kalian." Reva langsung pergi dari meja Adit dan Vina.


"Kak, aku takut kak."


"Sayang, kamu tidak perlu takut ada aku disini." Adit memeluk istrinya erat. Vina terlalu banyak mengalami hal-hal yang membuatnya trauma, saat dirinya diingatkan dengan satu kejadiannya, ia akan mengingat semua yang pernah ia alami.


"Aku mau pulang kak."


"Iya, kita pulang ya. Ayo kita pulang!" Adit meletakkan beberapa lembar uang di meja nya, dan membantu istrinya berdiri.


Saat di mobil, Vina hanya terdiam menatap kosong dari kaca mobil. Adit langsung melajukannya agar cepat sampai di rumah.


...******...


Adit membantu Vina berbaring di ranjang, ia membantu melepaskan hijab yang di kenakan istrinya.


"Sayang, aku keluar sebentar ya. Kalau butuh sesuatu panggil saja, aku tidak akan kemana-mana."


"As- Eh ma, halo." Sudah tersambung dengan mamanya Adit hendak mengucap salam, namun ingat bahwa orang tuanya adalah non muslim.


"Halo, ada apa dit?"


"Ma, tolong kerumah ma. Adit bingung mau cerita sama siapa," ucap Adit bingung dengan situasi kali ini.


"Ada apa? Tenang dulu, cerita sama mama."


"Mama kesini aja, ini tentang Cahaya ma."


"Kenapa? Ada apa dengan menantu mama?"


"Tolong kesini, Adit jelaskan disini."


"Kamu apain istri kamu dit? Astaga, awas sampai terjadi sesuatu dengan menantu mama."


"Tidak-


Tut tut...


Panggilan nya sudah di putuskan, mama tia sudah mematikan ponselnya lebih dulu.


"Belum juga selesai ngomong, sudah di matiin aja sama mama."

__ADS_1


Adit berjalan ke kamarnya untuk melihat istrinya sedang apa.


Adit masuk ke dalam kamarnya tidak terlihat istrinya di ranjang, tapi Adit mendengar ada suara tangisan disana.


"Sayang," panggil Adit mencari istrinya. Vina duduk di samping ranjang dengan wajah yang di telungkupkan diantara paha dan tangan nya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Adit khawatir dan memeluk istrinya.


Vina semakin mengeraskan suara tangisnya, entah kenapa ia merasa takut saat ini.


"Sayang jangan seperti ini, ayo bangun!" Bukannya bangun, Vina memeluk Adit dengan erat.


"Aku takut kak, hiks hiks."


"Tenang ya, mama sebentar lagi kesini. Kamu berbaring di ranjang dulu ya." Vina mengangguk dan mau untuk berbaring lagi di ranjang nya.


"Jangan tinggalin aku sendiri kak."


"Aku bukain pintu dulu, nanti kalau mama datang tidak perlu aku kesana." Vina mengangguk sambil memejamkan matanya.


"Kamu jangan tutup mata, kamu nonton aja ya." Adit mencari ponsel Vina, namun tidak terlihat diletakkan dimana. Akhirnya ia memberikan ponsel miliknya, agar istrinya tidak merasa sepi.


Adit menutup pintu kamarnya sambil melirik lagi istrinya benar-benar menonton atau tidak. Setelah terlihat sudah aman, Adit keluar untuk membuka pintu. Tapi baru ia melihat keluar, sudah ada dua mobil masuk ke pekarangan rumahnya, sekalian ia menyambut kedatangan orang tua dan mertuanya.


"Sudah datang ma?"


"Mama sudah datang sama papa, sekalian bawa mertua kamu. Biar aja anak ini dimarahi. Mana menantu mama?"


"Ma, jangan ribut dulu. Cahaya baru saja tenang, ia sejak tadi menangis ketakutan."


"Maksudnya apa dit?" Tanya Mama Dira.


"Kita masuk dulu, Adit cerita dulu sebentar setelah itu kita sama-sama lihat Cahaya di kamar."


Setelah masuk, Adit menceritakan semuanya yang terjadi sampai membuat istrinya kembali ketakutan.


"Kamu tahu akibatnya sekarang? Istri kamu yang merasakan. Papa tidak mau tahu, jika terjadi apa-apa dengan Cahaya dan calon cucu papa, kamu yang papa habisi." Papa Anton marah saat mendengar itu.


"Maaf, Adit harus membuka lagi kenangan buruk yang dirasakan Cahaya dulu." Adit menunduk, tidak menyadari keluarga nya sudah masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan istrinya.


"Adit benar-benar menyesal, tapi Adit janji akan menjaga-


Adit mendongak, namun terkejutnya sudah tidak ada siapa-siapa. "Hah? Kemana? Adit akan menjaga istri dan calon anak Adit." Adit menyusul keluarganya masuk, bagaimana bisa tidak sadar bahwa dirinya sudah ditinggal sendirian diluar.


Sekarang sudah ada grup untuk yang mau bergabung silahkan, kita saling sharing.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


See you...

__ADS_1


__ADS_2