Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Ikut bahagia


__ADS_3

Hari ini Adit akan ke rumah Vina lagi, ia sudah siap-siap di kamarnya untuk segera berangkat. Saat ini Vina prioritas utama bagi Adit, dirinya begitu mencintai Vina.


"Kamu mau kemana dit? udah rapi banget," tanya mama Tia yang baru saja ke kamar anaknya.


"Biasa ma, mau ketemu cahaya," jawabnya tersenyum sambil menyisir rambutnya.


"Kamu balikan sama cahaya?" tanya mama Tia.


Adit menggeleng kan kepalanya, "Adit cuma mau temani dia, supaya gak selalu murung di kamar nya ma. Semenjak Raka meninggal, Cahaya jarang keluar kamar sekalipun."


"Lalu, kamu rela menemani nya? walaupun tidak mungkin kalian bersatu?"


Adit mengangguk, mendekati mama Tia, "Adit sangat rela ma, asal bisa dekat dengan Cahaya."


"Adit, mama kasian dengan kamu nak. Kalau kamu ingin mendekati cahaya, hilangkan rasa cinta kamu terhadap nya, agar tidak semakin sakit," ucap mama Tia yang kasihan dengan sang anak.


"Adit bahagia ma, dari dulu semenjak Adit dan cahaya gak ada hubungan lagi, Adit berharap masih bisa selalu dekat dengan Cahaya. Tapi saat bersama Raka dulu, cahaya selalu menjauh. Ini kesempatan Adit sekarang bisa dekat dengan Cahaya, walaupun hanya sebagai teman."


Mama Tia menghela nafas pelan, "Mama hanya tidak mau kamu merasa sakit, saat berharap pada Cahaya."


"Adit menyayangi Cahaya ma, sekarang penyakit nya sudah menyebar ke seluruh tubuh nya. Mama nya pernah cerita sama Adit, memohon untuk membuat cahaya selalu bahagia."


Mama Tia menutup mulutnya, ia tidak menyangka Vina memiliki penyakit.


"Sebenarnya, cahaya sudah memiliki penyakit sejak pacaran dengan Adit dulu ma. Tapi dia selalu mengatakan itu hanya alergi biasa."


"Lalu, kenapa tidak segera di sembuhkan? cepat sebelum terlambat."


"Cahaya tidak mau ma, dia selalu menolak pengobatan apapun. Yang dia inginkan saat ini hanya jalan-jalan, cahaya ingin menghabiskan waktunya yang sebentar disini bersama Adit, dan bisa secepatnya menyusul Raka," ucap Adit berkaca-kaca.


"Kamu yang sabar nak, kamu harus selalu semangati cahaya, agar dia mau sembuh dan menerima bahwa Raka sudah tiada."


"Semua orang sudah mencoba membujuk nya ma, tapi itu percuma. Sekarang di pikiran cahaya itu hanya kematian," Adit meneteskan air mata nya, mengingat wanita yang dicintainya hanya menginginkan kematian, agar secepatnya menyusul Raka.


"Kamu jangan sedih nak, cahaya harus melihat orang di sekelilingnya itu bahagia, agar dia ikut bahagia." Adit mengangguk menghapus air matanya.

__ADS_1


Ponsel Adit berdering, ia mengambil nya melihat siapa yang menelepon.


"Cahaya sudah nelpon ma."


"Yasudah angkat dulu."


"Halo, kak Adit. Gak mau ketemu aku lagi ya? kak Adit marah ya sama aku, karena ganggu waktu kak Adit?"


"Cahaya gak gitu, aku kesana sekarang."


"Hiks, maaf ya kak, aku selalu mengganggu ketenangan kak Adit, dan selalu menyuruh kak Adit untuk kerumah."


Adit dan mama Tia saling pandang, mereka bingung Vina tiba-tiba menangis.


"Cahaya cengeng ma, dia dari dulu suka nangis, tapi lucu," bisiknya pada mama Tia.


"Kak Adit, ngapain bisik-bisik aku gak denger."


"Namanya juga bisik-bisik ngomongin dia, masa iya di bilang," lirih Adit tak terdengar lagi oleh Vina.


"Kenapa diam aja sih kak, ngomong dong. Mau kesini atau gak? kalau gak aku mogok semua. Jangan lagi temui aku kesini." Vina langsung mengakhiri panggilan telepon nya sepihak.


"Mama gak tau. Lagian kamu juga, di tanyain malah bisik-bisik," mama Tia memukul lengan anaknya lembut.


"Terus Adit harus apa ma?"


"Menurut mama sih tidur, supaya cahaya makin marah dan bersedih."


"Ya ampun harusnya Adit berangkat ma, bye." Adit beranjak dan pergi cepat keluar untuk segera menuju rumah Vina.


"Kasihan Adit, dia tidak masalah merasa sakit, asal selalu dekat dengan orang yang dia sayang."


...******...


Adit telah sampai di depan rumah Vina, ia buru-buru mengetuk pintu rumah nya.

__ADS_1


"Iya sebentar."


"Halo, cantik. Kakak kamu ada?" tanya Adit pada ila yang membuka pintu.


"Tadi kak Vina keluar, katanya nungguin kak Adit. Tapi kak Adit gak datang-datang, jadi kak Vina ngambek masuk lagi ke kamarnya."


"Kak Adit minta maaf, tapi boleh kan kakak masuk temui kakak kamu?"


"Oh iya ternyata masih diluar, ila kira kita sedang duduk."


Adit tersenyum mendengar ila, ternyata kakak dan adik sama, pikirnya.


Ila mengajak Adit untuk mengetuk pintu kamar Vina, namun tetap tidak di buka.


"Maaf nak Adit, Vina selalu membuat repot nak Adit," ucap mama Dira tidak enak dengan Adit, yang selalu di repotkan oleh Vina.


"Tidak masalah tante, Adit sendiri yang mau."


"Cahaya, aku udah datang, kita jalan-jalan yuk! nanti sekalian ke makam dulu."


Vina dari dalam kamar tersenyum, lalu beranjak dan membuka pintu kamar nya.


"Bener ya kak?" Adit mengangguk.


"Tapi makan dulu ya, tadi kamu gak mau makan gara-gara Adit gak mau di ajak jalan-jalan sama kamu."


"Aku mau kok, kamu gak perlu mogok makan, ayo kamu harus makan dulu. Sebelum kita berangkat jalan-jalan."


Adit menunggu Vina makan, ia hanya menatap nya tanpa menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Adit hanya memperhatikan Vina yang sangat lahap, ia mengambilkan tisu untuk mengelap sisa makanan yang ada di bibir Vina.


Vina tersenyum menatap Adit, "makasih kak."


"Kebahagiaan ku saat ini, melihat mu tersenyum, cahaya."


"Aku akan bahagia, melihat orang sekitar ku bahagia. Namun aku memilih untuk menyusul Raka yang ku cintai."

__ADS_1


Chingguya annyeong love.


Jangan lupa istirahat sayang.


__ADS_2