
Hari pertunangan Dimas dan Naya lebih dulu, namun hari pernikahan lebih dulu Hendry dan Nina. Mereka lebih di percepat satu bulan setelah Hendry datang kerumah Nina. Karena sudah di sepakati oleh orang tua mereka, bahwa akan menikah sebulan setelah di lamar. Di takutkan juga bentrok dengan acara pernikahan Dimas dan Naya. Nina dan Hendry tidak ingin jika terlalu dekat dengan pernikahan sahabatnya, akan sibuk masing-masing jika pernikahan mereka dekat. Kalau jauh jarak acaranya seperti ini, menurut mereka lebih tenang untuk sahabat nya hadir dan saling membantu.
"Dit, gue degdegan nih. Waktu lo nikah gimana dit?" Tanya Hendry yang mondar-mandir melepas pasang kopiahnya yang sudah rapih.
"Biasa aja tuh, gue santai dan cepat ingin menikahi Cahaya." Padahal dirinya juga dag-dig-dug tak karuan, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Namun setelah melihat istrinya Adit tersenyum dan tenang.
"Masa sih lo santai? Kok gue rada gak yakin ya. Harusnya kalau ada keinginan pengen cepat banget dah kebelet, pasti degdegan juga dong."
"Maka dari itu hen, mungkin Adit pengen cepat Vina jadi istrinya. Jadi santai saja pas mau nikah." Ucap Dimas yang menjawab Hendry.
"Lo kan juga belum nikah, mana tahu gimana rasanya dim. Gue baru ngerasain sekarang nih gelisah."
"Lo pikirin aja ini sebagai tantangan yang sangat mudah, dan pikirin kalau Nina akan secepat menjadi istri lo." Adit membangun menenangkan Hendry.
"Mudah gigi lo, ini banyak orang dit. Ada kolega papa dan juga papa nya Nina. Gue gak bisa se santai yang lo bilang."
"Sekarang kan masih akad, gak ada teman kantor papa lo datang."
"Orang lain sama aja banyak."
"Kalau gitu, sekarang lo pikirin gimana caranya malam pertama lo aman." Ucap Dimas pada Hendry, membuat Adit dan Hendry langsung melotot dan melihat Dimas.
"Wah bahaya, lo ternyata gak sepolos yang gue kira dim. Lo harus cepat nikah dim sama Naya."
"Iya, gue takut terjadi apa-apa sama Naya."
"Yang harusnya kalian khawatirkan itu gue, Naya pelatih beladiri, mana mungkin terjadi apa-apa sama dia. Gimana kalau gue di pukul sampai bonyok, dan bisa aja tulang gue hancur. Pernikahan nya malah di batalkan juga sama Naya."
"Ide bagus tuh dim, kalau lo mau lepas dari Naya."
"Gue sama Naya udah mau nikah, dengan gampangnya lo bilang begitu. Gue takut koit duluan sebelum nikah dan merasakan nikmat dunia hen. Lo jangan ngasih ide yang macam-macam."
__ADS_1
"Gue saranin aja setelah gue sah dengan Nina, lo juga nikahin Naya, dim. Karena otak lo udah tidak bersih lagi, harus di cuci." Ucapnya duduk di sebelah Adit dan Dimas.
"Otak lo juga perlu di cuci hen, biar sama-sama bersih."
"Parah lo, dit. Gue cuma kasihan dengan Naya kalau otak suaminya nanti sangat kotor."
"Gue juga kasihan dengan Nina, kalau otak suami juga tidak bersih."
Mereka yang mengobrol sambil membuat Hendry tenang, di tempat lain juga sama degdegan dengan acara akad yang akan segera dimulai. Mungkin setelah pesta pernikahan baru mereka akan tenang tidak merasa tegang.
"Kamu kenapa sih nin, dari tadi nepuk-nepuk bantal?" Tanya Naya pada Nina yang nampak gelisah.
"Apa kamu punya hutang yang belum di bayar? Atau kebelet?" Vina menatap nya seperti itu, Nina seperti sedang menahan sesuatu.
"Kenapa kamu mikirnya aku kebelet sih Vin, aku tuh nahan gelisah dan malu untuk ketemu orang banyak."
"Malu apa sih nin, kamu nunduk aja jangan lihat orang."
"Maka dari itu aku saranin jangan lihat tamu, duduk dan nunduk aja ketika akad nanti. Nanti malam itu lebih banyak tamu kolega kantor yang datang, lebih banyak dari yang akad nin."
"Iya nin, nanti malam kamu lebih malu kalau sekarang hanya sedikit tamu kamu sudah malu."
"Gak tahu kenapa degdegan gitu, aku takut nanti di depan gemetaran dan mukul pak penghulu." Ucapnya membuat kedua sahabatnya menggelengkan kepalanya.
"Kalau sampai kamu begitu, siap-siap aja gak jadi nikah dan kamu akan ada di jeruji besi." Naya menakuti Nina supaya tidak berbuat macam-macam nanti saat akad. Bisa saja Nina benar-benar melakukan nya pada pak penghulu. Karena Nina yang sudah di ucap terkadang di lakukan.
"Jangan macam-macam nin, nanti kamu gak jadi nikah loh." Vina santai mengobrol dengan sahabat nya di dalam kamar bertiga, karena baby Devan sedang bersama orang tuanya.
"Kalian jangan do'ain begitu dong, nanti kalau gak jadi nikah beneran gimana?"
"Bukan do'ain nin, kita hanya tidak ingin kamu melakukan hal yang akan membuat kamu malu."
"Iya, makasih udah ingetin aku. Insya Allah gak akan terjadi, aku hanya ingin menikah kali ini semoga tidak terjadi apa-apa." Do'a Nina untuk kelancaran proses akad.
__ADS_1
"Aamiin..." Vina dan Naya mengaminkan do'a Nina. Mereka mengobrol santai setelah nya, untuk lebih membuat Nina rileks dan terlupa dengan kegelisahan hatinya.
...******...
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Hendry Dwicahyo dengan putri saya Nina waliza dengan maskawin berupa emas logam mulia 20 gram dengan uang 50 juta beserta saham perusahaan 10 persen dibayar tunai." Papa Nina menyebutkan semua yang di berikan Hendry pada Nina, Hendry memang anak dari orang yang juga memiliki perusahaan, namun bekerja sebagai sekretaris di perusahaan sahabat nya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nina waliza binti Abdul Aziz dengan maskawin tersebut tunai." Hendry juga melafazkan dengan satu tarikan dan cepat. Ia sudah tidak begitu gemetar seperti saat di kamar tadi bersama sahabatnya, ketika tahu yang menikahkan papa dari Nina. Hendry sudah dekat dengan papa Nina, jadi sudah santai jika berjabat tangan dengan papa mertua nya.
Papa Nina melirik penghulu di sebelah nya, apa sudah sah atau belum.
"Bagaimana saksi, sah?"
"SAH"
"SAH"
"SAH"
"Alhamdulillah." Akhirnya papa Nina melepaskan jabatan tangan nya dengan Hendry, ia mengikuti penghulu yang mengangkat tangannya seraya berdoa atas terlaksananya akad nikah kali ini.
"Baarakallahu laka wabarakoa 'alaika wajma'a bainakumaa fii khoir"
Artinya, “Semoga Allah memberikan berkah untukmu, semoga Allah memberi berkah padamu dan menghimpun kalian berdua (sebagai suami istri) dalam kebaikan.”
Semua orang ikut mendoakan pernikahan yang sakral antara Hendry dan Nina, begitu juga dengan sahabat nya semua. Farhan dan Reva beserta keluarga nya juga di undang di akad dan di acara pesta nanti malam, karena om Dirga papa dari almarhum Raka adalah teman kantor papa nya Hendry.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
@istimariellaahmad98
See you...
__ADS_1