Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Penganggu


__ADS_3

"Vina, mau aku antar pulang?" Tawaran seseorang yang langsung membuat Vina menoleh.


"Dimas!" Vina melihat Dimas yang sedang tersenyum ke arahnya, kali ini ia menunggu jemputan Adit yang sudah janjian siang ini akan makan bersama.


"Kamu jalan kaki, vin? Suami kamu gak ada jemput kamu?" Tanya Dimas turun dari motornya sambil membuka helm. Seperti sebelumnya, Dimas masih mengendarai motor, walaupun dirinya anak dari pengusaha.


"Aku lagi nunggu di jemput, udah janjian untuk makan siang."


"Biar aku aja yang antar, kamu telepon suami kamu suruh tunggu di tempat makan."


"Terima kasih dim, aku nunggu kak Adit disini aja! Sebentar lagi pasti juga sampai. Kalau kamu mau jalan duluan, silahkan!" Vina tersenyum menatap Dimas, ia mencoba untuk tetap biasa saja.


"Aku temani kamu disini, takut nya ada orang yang bakal ganggu kamu kalau sendirian." Dimas yang duduk di sebelah nya, membuat Vina gelisah. Ia takut suaminya tiba-tiba datang.


"Orang nya kan di samping aku ini."


Benar saja, Dimas yang terus saja mengajak Vina agar mengobrol dengan nya, ada mobil yang baru saja berhenti di depan mereka.


Adit langsung keluar dari mobil, ia sudah melihat istrinya di temani Dimas. Seseorang yang tidak Adit sukai baru-baru ini, karena menurutnya adalah pengganggu di rumah tangga nya.


"Sayang, maaf aku telat. Ayo kita berangkat sekarang."


"Tidak masalah kak, aku juga baru keluar." Vina berdiri menyambut tangan yang mengulur di depannya.


"Selamat siang, bapak Adit raymond." Dimas menyapa Adit, ia bangun dari duduk nya.


"Siang."


"Lain kali, jangan biarkan istri anda menunggu lama. Banyak yang akan menemani atau mengantarnya untuk jalan-jalan, tanpa menunggu lagi kedatangan anda." Ucap Dimas tersenyum miring.


Adit sudah mulai naik pitam mendengar ucapan Dimas. "Tidak perlu begitu formal di luar kantor, aku juga berterima kasih karena kamu sudah mau merepotkan diri untuk menemani istri ku. Ayo sayang!" Adit membawa Vina ke mobil nya, tanpa berpamitan lagi pada Dimas. Adit membukakan pintu untuk sang istri, lalu menoleh kembali ke arah Dimas sambil menurunkan kaca mata hitamnya, Adit masuk dan melajukan mobilnya.


"Sialan." Dimas menatap tajam mobil Adit yang sudah menjauh dari hadapannya. Ia pun pergi untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


...******...


"Kamu mau makan apa kak?" Tanya Vina yang melihat buku menu.


"Harusnya aku yang bertanya, kamu mau makan apa?"


"Kak Adit itu masih pemilih sama makanan, sekarang kak Adit belum seperti biasanya yang apa aja bisa makan."


"Pengertian banget sih," ucap Adit mencubit pipi sang istri gemas.


"Padahal aku yang mau ngidam, tapi malah kak Adit yang kebagian. Harusnya kan memang ibu hamil yang ngerasain."


"Aku malah bersyukur alhamdulillah, karena kamu tidak merasakan nya. Kalau kamu yang merasakan ini, aku akan kasihan sama kamu. Gimana kalau nanti pipi kamu ini gak chubby lagi, karena gak mau makan."


"Aku juga kasihan sama kak Adit, untuk keadaan aku kurus atau gemuk tidak masalah. Bukankah memang ibu hamil kebanyakan mengalami nya?"


"Iya sayang, tapi yang jadi masalah lagi, kamu mengalami kehamilan simpatik, dimana suami kamu ini yang merasakan semua yang di rasakan ibu hamil pada umumnya."


"Mungkin di luar sana banyak yang ingin mengalami seperti kamu, tapi kamu malah tidak senang."


"Bukan tidak senang, tapi hanya bertanya. Kenapa tidak aku aja?"


Adit mengelus kepala Vina, ia tidak mau berdebat dengan istrinya. "Sekarang kita pesan makan dulu, setelah itu kita makan dan aku antar kamu ke kampus."


"Aku mau langsung pulang aja kak, antar kerumah aja ya?"


"Iya, kalau bisa kamu kuliah dari rumah aja."


"Aku gak mau kak, sepi banget kalau dirumah tiap hari apalagi di tinggal kak Adit ke kantor."


"Kalau misalnya kamu mau aku terus dirumah, bisa aja. Kamu tinggal bilang sama papa anton, kalau kamu mengidam aku tidak boleh kerja."


"Kamu ada-ada aja, emang ada seperti itu? Nanti papa marah sama aku." Vina sambil menulis apa yang akan ia pesan.

__ADS_1


"Papa sama mama tidak akan marah sama kamu, kamu itu satu-satunya menantu di rumah. Berarti menantu kesayangan mama dan papa."


"Memangnya kak Adit sudah bosan kerja di kantor? Nanti aku kasih tahu papa kalau kak Adit suruh pecat aja." Vina tertawa saat dirinya mengatakan akan memberi tahu sang mertua, bahwa suaminya itu sudah bosan kerja di kantor.


"Itu mah aku yang di marahi papa bukan kamu, lagian mana ada aku di pecat dari kantor."


"Bisa aja kalau kak Adit di pecat, terus aku sebagai pengganti." Vina terkekeh geli ketika dirinya akan menggantikan sang suami di kantor.


"Boleh sayang, semuanya asal buat kamu senang akan aku lakukan." Adit senang melihat Vina tertawa, walaupun ia tahu itu hanya candaan. Tapi seandainya istrinya benar-benar memintanya akan Adit kabulkan.


Adit dan Vina memesan makanan dan minumnya, setelah datang mereka langsung menyantapnya. Terlalu lama dengan obrolan, sampai lupa untuk memesan makanan.


Mereka sangat menikmati makanan yang mereka pesan, sesekali keduanya saling menyuapi dan tersenyum bahagia bisa menjadi pasangan seperti sekarang ini. Tidak hanya saat mereka pacaran dulu, setelah menikah pun akan bertemu dengan yang namanya kerikil kehidupan, yang akan terus menguji cinta mereka berdua.


"Bukankah itu, Adit? Lalu, siapa yang di depannya?" Tanya seseorang yang melihat Adit makan dengan seorang wanita.


"Apa Adit akan senang jika aku sudah kembali? Tapi waktu itu dia sudah memutuskan hubungan denganku, apa aku tidak akan merasa malu jika yang di hadapannya itu pacarnya." Ucapnya yang belum mengetahui bahwa Adit telah menikah.


"Persetan dengan malu, aku akan tetap mengejarnya." Wanita itu berjalan menuju meja Adit dan Vina.


"Siang, apa aku boleh duduk disini, bergabung dengan kalian?" Wanita itu bertanya, apakah boleh dirinya duduk bergabung bersama mereka. Belum sempat Adit atau Vina menjawab, wanita itu sudah lebih dulu duduk di dekat Adit. Vina menghentikan suapan nya, menatap Adit yang hanya diam tidak menolak ada wanita duduk di sampingnya.


"Adit, aku kangen banget sama kamu." Adit masih terkejut dengan wanita yang baru saja datang.


"Apa sebelumnya kita pernah bertemu ya, kenapa sepertinya wajah kamu tidak asing." Wanita itu menatap Vina.


Adit menatap Vina di hadapannya, sambil menggeser sedikit kursinya, agar tidak terjadi salah paham. Tapi wanita dengan tidak tahu malunya juga menggeser mendekat ke Adit.


"Kamu siapa?" Tanya Vina menatap wanita itu, Vina penasaran dengan wanita di hadapannya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


See you...

__ADS_1


__ADS_2