Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Botak


__ADS_3

Aku dan Raka menuju mobil, dari barbershop tadi. Raka membukakan pintu mobil.


"Makasih," ucapku pada Raka yang tersenyum.


"Mau kemana Kita setelah ini?"


"Kamu maunya kemana?"


Aku berpikir sejenak, "kemana ya?"


"Makan dulu ya, eh tadi kan kamu udah makan sama Adit."


"Aku tadi makannya dikit, jadi sekarang lapar lagi."


"Ya udah kita cari makan dulu ya," ucapnya menghidupkan mesin mobil.


Aku mematikan mesin mobil nya, "eh tunggu, rambut kamu tadi di potong gimana? aku mau lihat," aku menyentuh topi Raka ingin membuka nya.


Namun Raka menghentikan nya.


"Eits tunggu dulu!"


"Kenapa?" tanyaku.


"Ini harus ada persetujuan dari aku dan kamu, intinya kedua belah pihak dulu. Emm apa ya? (Raka terlihat berpikir) Oh iya perjanjian."


"Hah? apaan sih perjanjian apa?"


"Perjanjian nya, kamu jangan marah dan jangan kaget."


"Ih apaan coba, Vina gak pernah ya."


"Iya gak pernah," ucapnya males.


'Tapi maki-maki gue kalau lagi dapet' Batin Raka


"Cepet dong Vina mau lihat."


"Jangan buru-buru dong, sabar. Janji juga gak marah."


"Tergantung gimana dulu."


"Yaudah gak jadi ya?"


"Iya, jadi gak marah kok."

__ADS_1


"Siap yah, 1 2 3," Raka membuka topi nya pelan.


Aku menganga dan membelalakkan mataku.


"Udah gak usah terpesona gitu," ucap Raka tertawa.


"Astaghfirullah," ucapku mendekat kan tanganku ke kepala Raka.


"Kenapa sayang, ganteng kan?" tanyanya.


"Ya Allah, kenapa rambut nya diginiin?" aku memegang kepalanya.


"Di giniin gimana? ini udah gak ada rambut nya Vin."


"Astaghfirullah, iya kok- kok bisa di botakin gini loh," aku sampai gak bisa berkata apa-apa.


"Ya kan kalau aku botak gini, gak ada yang suka sama aku, jadi kamu gak cemburu lagi."


Aku menghela nafas panjang, "astaghfirullah Raka."


"Iya kenapa? tapi bagus sih kamu jadi ngucap, ber istighfar gini."


"Ih apaan sih."


"Tadi di awal perjanjian apa? gak akan marah kan?"


"Iya maaf, aku kan hanya ingin menjaga perasaan kamu."


"Ya Allah astaghfirullah," aku memijit pelipisku.


"Iya makasih kalau buat jaga perasaan aku," ucapku lagi.


"Maaf loh Vin, jangan marah!"


"Iya"


"Devina cahaya yang cantik, Raka bumi dirgantara mau minta maaf, karena tidak izin dulu sama kamu untuk botakin rambut aku tadi," Raka memegang tangan ku.


"Iya, udah ayo berangkat! aku jadi makin laper, mau kalau kamu yang aku makan?"


"Uh ngeri kali," ucapnya cengengesan, membuatku ikut tertawa.


Raka terkadang ngeselin, nyebelin, tapi kadang juga sering bertingkah konyol, membuat aku tertawa terbahak-bahak.


Aku suka dengan caranya yang memperlakukan aku dengan baik, treat me like a queen.

__ADS_1


Di perjalanan.


"Tadi itu siapa?"


"Yang mana?" tanyaku bingung.


"Yang tadi di barbershop duduk deket kamu, pas aku lagi botakin rambut."


Aku mengingat kembali tadi, dengan siapa.


"Oh Dimas."


"Dimas? kek gak pernah dengar nama itu, cuma gak asing sih."


"Itu loh Dimas, yang waktu kamu jemput aku di minimarket dekat rumah," ucapku


Raka mencoba mengingat nya.


"Oh yang waktu hujan malam, kamu gak bawa motor?" Aku mengangguk.


"Iya pokoknya waktu itu kamu marah gak mau jemput aku, karena kamu bilang bukan supir aku."


"Maaf deh, kan waktu itu aku gak suka sama kamu ceritanya. Sebenarnya aku udah suka, dari pertama aku sama mama dan papa kerumah kamu."


"Jadi kamu udah suka dari waktu pertama kerumah? bahwa kita di jodohin?"


"Bukan karena kita di jodohin sih, awalnya aku nolak, cuma pas lihat kamu dan ngobrol sama kamu di luar, ngasih sapu tangan waktu kamu mimisan, aku suka sama kamu."


"Tapi kenapa, keliatan nya perlakuan kamu ke aku, dingin banget."


"Aku malu untuk langsung ungkapin perasaan waktu itu," ucapnya menatap ku.


"Yaelah sok jaim"


Raka tertawa mendengar itu. Ia memang pura-pura bersifat cuek, padahal sudah suka sama aku.


Jangan lupa like vote komen


Just call me chinggu (teman) oke 😉


Annyeong 🤗


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2