Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Aunti pecah bulu jagung


__ADS_3

"Ponakan aku cantik banget, mirip sekali sama aunti nya." Celetuk Ila yang menganggap dirinya mirip dengan anak Vina dan Adit.


"Dari mana miripnya? Anak kakak itu tampan seperti ayahnya ini, bukan sama aunti pecah." Ledek Adit membandingkan dengan tulisan yang tertera di ember anti pecah.


"Jangan dengarkan ayah kamu ya, sayang. Aunti yang ini sangat cantik bandingannya di atas no drop no bocor apalagi pecah." Ucapnya sambil menggendong ponakan nya yang masih bayi.


"Jangan kamu cuci pikiran anak kakak ya, masa gak boleh dengar ucapan ayahnya." Orang tua mereka yang ada disana hanya menggelengkan kepalanya, kakak adik ipar itu selalu saja beradu jika bertemu.


"Bukan tidak boleh mendengar ucapan ayahnya, tapi jika ayahnya meledek aunti nya tidak usah di dengar."


"Itu sama saja kamu mencuci nya."


"Bagus dong kak, biar bersih. Iya 'kan sayang?" Ucapnya sambil melihat bayi mungil di pangkuannya.


"Sudah-sudah kalian ini, berisik. Kalau mau ribut keluar sana, cucu mama nanti bangun dan menangis. Ibu nya belum bangun. Kalian mau menyusui nya?"


Adit dan ila menggelengkan kepalanya, Adit kembali menatap Vina yang sedari menggenggam tangan istrinya itu. Adit terus berada di samping nya, ia membiarkan keluarganya saja yang menggendong anaknya, karena dirinya juga sudah menggendongnya.


Tak berapa lama Vina terbangun, ia melihat sekitar yang ia lihat pertama adalah Adit, suaminya.


"Kak Adit," ucapnya. Adit yang menatap keluarganya sedang mengobrol terkejut saat Vina memanggilnya.


"Sayang, kamu sudah bangun? Bagaimana, ada yang sakit? Aku panggil dokter ya?" Adit terus mengkhawatirkan istrinya, ia takut jika Vina merasakan sakit.


"Kak Adit, aku gak apa kok. Dimana anak kita kak?" Tanya nya sambil melihat sisi ranjangnya.


"Itu sama aunti pecah." Adit menunjuk ila yang sedang memangku anaknya.


"Aunti pecah?" Adit membantu istrinya meninggikan tempat tidurnya di bagian atas. Orang tua dan mertuanya serta ila membawa anaknya mendekat ke arah Vina.


Ila memberikan ponakan nya itu pada kakak nya, sambil melirik Adit tajam. "Kak Vina, ila di bilang aunti pecah sama suami hello kitty kakak ini." Adu nya pada Vina.


Vina mengelus wajah anaknya lembut, sambil tersenyum dengan yang di adukan oleh adiknya.


"Bukannya itu memang panggilan untuk kalian masing-masing? Iya kan sayang?" Ucapnya mengecup dahi anaknya.

__ADS_1


"Biar Vina menyusui anaknya, kasihan kelaparan."


"Kita keluar dulu, nanti lanjut lagi kalau kamu sudah selesai menyusui."


"Iya sayang, sepertinya anak kamu sudah sangat lapar." Mertua serta orang tua nya akan keluar, agar Vina menyusui anaknaya terlebih dahulu.


"Iya ma."


"Ayo keluar semuanya!" Ajak mama Dira dan mama tia, agar semuanya keluar.


"Adit suaminya, jadi akan tetap disini menemani Cahaya." Adit tidak ingin meninggalkan Vina, ia akan melihat bagaimana anaknya itu menyusu pada istrinya. Oh Adit yang sangat pecemburu.


"Baiklah, jaga anak dan istri kamu. Kalau ada apa-apa panggil kami diluar" Adit dan Vina mengangguk. Ila yang akan keluar menjulurkan lidahnya pada Adit.


"Aunti pecah bulu jagung." Ucapan Adit membuat Ila yang akan keluar kembali menoleh. Adit mengatakan itu karena rambut adik iparnya itu berwarna kuning keemasan di bagian bawahnya, sedangkan diatasnya berwarna graygreen. Entah apa konsep dari rambut adik iparnya itu.


"Siapa maksudnya?" Tanya ila dengan selidik


"Bukan siapa-siapa, hanya aunti bocor."


"Dasar hello kitty." Adit yang terus seperti itu dengan Ila membuat orang tuanya ikut kembali, karena ila tidak kunjung keluar.


"Kak Adit kalau mau ribut diluar aja, aku mau sama anak aku disini." Ucap Vina yang langsung membuat Adit diam.


"Kenapa gak ribut lagi? Biar aku disini sama anak aku aja."


"Anak kita sayang, bukan anak kamu aja."


"Masih mau bilang aku salah ngomong?" Adit menggelengkan kepalanya.


"Nggak sayang, aku mau disini sama kamu dan anak kita." Ucap Adit memohon pada Vina agar istrinya itu tidak mengusirnya keluar.


"Tolong kunci pintu nya kak, takut tiba-tiba ada yang masuk. Aku mau nyusuin anak kita ini."


"Aku mau juga dong." Ucapnya mengedipkan sebelah matanya. Masih berani ia bertingkah nakal.

__ADS_1


"Mau tutup pintu tetap akan merasakan setelah empat puluh hari, atau ada yang melihat aku menyusui dan tidak merasakan selamanya?" Vina memberikan pilihan.


Adit langsung berdiri menuju pintu untuk segera menguncinya, jika tidak ia kasihan dengan nasib junior nya.


Vina mulai menyusui, ia masih terasa geli dengan anaknya yang menyusu tanpa gigi. Adit gemas melihat anaknya itu menyedot nya secara kuat.


"Apa terasa sakit?" Tanya nya yang membuat Vina menatap suaminya.


"Apa sebelumnya kak Adit berpikir seperti itu? Ini hanya geli saja, berbeda dengan yang dilakukan ayahnya." Ucapan Vina membuat Adit terkekeh, sambil mencubit pipi istrinya dengan lembut.


"Apa kak Adit sudah menentukan nama untuk anak kita?" Tanya Vina, karena mereka belum sama sekali menentukan nama yang pas untuk baby boy yang baru lahir ini.


"Apa kamu ada saran? Kita mungkin bisa menggabungkan nama kita dan marga raymond di belakangnya."


Vina berpikir, nama apa yang cocok jika namanya dan nama Adit disatukan. Apa Ana? Atau Via? Dea? Ah itu nama anak cewek. Lalu apa yang cocok nama untuk anaknya?


"Huruf a dulu, atau d dulu sesuai nama kita?"


"Terserah kamu saja sayang, mungkin kamu lebih paham dengan nama dan memiliki arti yang bagus."


"Devan Adhitama raymond, artinya pemberani dan sangat tampan. Supaya dia tumbuh dengan berani dan bijaksana, serta wajah yang sangat tampan ini tidak akan membuatnya berbesar hati, dia akan menjadi anak yang baik dan sholeh."


"Bagus sekali, aku setuju saja. Karena aku percaya dengan apa yang kamu katakan, tentu saja akan seperti ayahnya ini." Adit mencium pipi anaknya, namun mengenai kulit kenyal Vina disana.


"Modus banget pura-pura nyium baby dev." Adit hanya menyengir menampilkan deretan gigi putihnya. Cling, silau man.


"Sekalian dong udah lama juga, sekitar dua hari."


"Apalagi empat puluh hari, yakin mampu?"


"Jangankan empat puluh hari, setahun juga aku bisa asalkan selalu dekat dengan kalian berdua. Kalian adalah hadiah terindah dari Allah untuk ayah." Adit meneteskan air matanya sambil mengelus dua orang tersayangnya bergantian.


Vina juga bahagia, bisa bersama Adit dan juga baby dev. Ia ikut meneteskan air mata bahagia nya, bahagia sudah lahir anak pertama nya yang akan menjadi penerang dan pelengkap di keluarga kecilnya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...

__ADS_1


Jangan lupa baca cerpen bebu semoga bermanfaat, bergabung dengan grup bebu juga ya.


See you...


__ADS_2