
Papa David dan ila terlihat sedih dengan keadaan Vina saat ini, namun Adit lebih menyedihkan dengan penampilan yang tidak se-rapi biasanya. Adit selalu berharap Vina dapat sehat lebih cepat seperti sebelumnya. Apapun yang diinginkan Vina akan ia kabulkan, asalkan tidak meminta dirinya untuk menjauhinya. Karena Adit tidak sanggup jika itu yang diinginkan Vina.
Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan wanita yang ia cintai sejak dirinya sekolah dan sebentar lagi dirinya akan selesai pendidikan.
"Kak Adit, tidak apa jika kak Adit tidak kerumah menjenguk ila. Lagi pula disini ada papa dan Reno, jadi ila tidak apa kak," ucap ila pada Adit yang terlihat lemas dari kantor papa nya.
"Tidak apa, kakak juga senang bisa lihat kamu disini. Kak Adit juga ingin cepat tahu keadaan Cahaya, bagaimana jika tiba-tiba ada kabar dari Cahaya, kan kakak gak tahu." Ila mengerti orang yang di depannya saat ini begitu mencintai kakaknya. Jadi terserah saja jika Adit ingin menunggu nya, walaupun tidak pasti seperti ini.
"Apa kamu ingin sesuatu? kalau ingin sesuatu katakan pada kakak?" tanya Adit. Ia tidak ingin adik dari wanita yang ia cintai kekurangan sesuatu, walaupun ila mampu membelinya. Namun tidak salah menurutnya jika ia yang mencukupi keinginan ila.
"Ila tidak ingin apapun kak. Kak Adit istirahat saja dulu, nanti kalau ada berita lagi dari papa ataupun mama, ila kasih tahu kak Adit."
"Kakak baik-baik saja, tidak apa kakak menemani kamu disini."
Ila hanya bisa menghela nafas pelan mendengar jawaban dari Adit. "Baiklah! terserah kak Adit saja."
Adit mengacak rambut ila sambil tersenyum, membuat ila mengerucutkan bibirnya tak suka. "Kak Adit, kenapa sih rambut ila diacak-acak?"
"Suka aja gitu, kamu walaupun gak mirip kakak kamu, tapi bisa mengobati rasa rindu kak Adit untuk Cahaya."
"Memangnya ila dengan kak Vina gak mirip kak?
Adit memegang dagunya seraya berpikir, ila dan Vina mirip atau tidak. "Kak Adit mikirnya lama."
"Kalau gak lama, bukan mikir namanya sayang."
"Idih, panggil sayang itu cukup sama satu wanita, jangan ke semua wanita." Ila juga sudah mengerti dengan pasangan yang tidak setia, ia tidak suka jika seseorang sudah memiliki pasangan, masih suka merayu yang lain.
"Lah, kakak kan sayang sama kamu dan Cahaya aja la, bukan wanita lain."
"Iya maksud ila itu, cukup kak Vina saja."
__ADS_1
"Kakak sayang sama kamu sebagai adik, berbeda dengan kakak kamu."
"Kalau kak Vina sebagai apa di hati kak Adit?" tanya ila penasaran dengan jawaban Adit.
"Sebagai calon istri," jawab Adit cepat sambil tersenyum.
"Wah kak Vina dengar sendiri kan, kalau kak Adit calon suami kak Vina." Ternyata sedari tadi ila menghubungkan panggilan video dengan mama nya di luar negeri.
"Hah?" beo Adit bingung.
Ila mengarahkan Video call nya pada Adit. Vina tersenyum lemah disana menatap Adit.
"Cahaya," panggil Adit menatap Vina dengan tatapan rindu.
Vina tersenyum, "Halo kak Adit, apa kabar?"
"Baik, sangat baik. Bagaimana dengan kamu disana? apa kamu sudah lebih baik?"
Vina terkekeh di seberang sana, "Aku sudah lebih baik kak, disini. Kak Adit harus tahan disana dekat dengan orang ngeselin, Banyakin stok sabar nya."
"Lah, dikira ila bikin orang kesel apa? orang ila disini tuh nenangin kak Adit disini yang lagi rin-
Ucapan ila terpotong karena Adit menutup mulutnya.
"Rin apa la?" tanya Vina penasaran.
"Rin-rincian, iya rincian skripsi. Karena masih bingung dengan skripsi yang di buat, jadi ila itu nenangin aku."
"Iya, aku tahu kok kak Adit bohong."
"Aku bohong kok- eh maksudnya gak bohong. Iya kan ila?"
__ADS_1
"Nggak tuh," ila sengaja buat Adit gelagapan ketahuan rindu dengan kakaknya.
"Gak bisa banget diajak kerja sama nih anak," batin Adit.
"Kak Adit mah gak bisa bohongin aku."
"Iya, aku bohong. Sebenarnya aku rindu sama kamu." Adit akhirnya jujur jika dirinya merindukan Vina.
Vina tersenyum Adit akhirnya berkata jujur dengannya. "Kak Adit, Vina tutup dulu yah? soalnya aku mau masuk, sambil telepon jalankan kursi rodanya susah."
"Coba aja aku ikut, biar aku aja yang dorong."
"Vina masih bisa jalan sebenarnya kak, hanya saja pengen cari angin keluar sendiri, jadi pakai kursi roda deh."
Adit kembali terlihat sedih, karena akan menutup telepon nya.
"Kenapa mukanya gitu?" tanya Vina.
"Jangan tutup dulu yah?" Adit memohon pada Vina.
"Uweekkk...." Ila yang melihat ekspresi wajah Adit, pura-pura muntah.
"Ih sirik aja nih bocah."
"Tadi sayang, sekarang bocah. Oke fine, thank you."
Vina dan Adit tertawa dengan ucapan ila. Setelah itu mereka memutuskan sambungan telepon nya, walaupun sebentar namun sudah sedikit mengobati rasa rindu Adit pada Vina.
"Terima kasih telah menjadi penyemangat dalam hidupku."
"Rindu ini tidak akan pernah terobati sebelum aku bertemu dengan mu."
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.