
Tiga hari sudah, kini hari dimana Vina akan memberikan jawaban keputusan nya, mau menerima Adit atau menolak lamaran nya.
"Permisi"
"Assalamu'alaikum," ucap orang dari luar sambil memencet bel.
"Siapa ya pa?" Tanya mama.
"Mana papa tahu ma, papa bukan paranormal."
"Ish si papa."
Vina keluar dari kamarnya melihat orang tuanya berdebat, ada tamu bukannya di bukain malah ribut.
"Biar Vina yang buka pintu," ucap Vina keluar untuk membuka pintu masih dengan mukenah nya, karena ia baru saja selesai mengaji.
Vina membuka pintu nya dan terkejut dengan siapa yang bertamu. "Kak Adit."
"Assalamu'alaikum," ucap Adit tersenyum karena melihat wanita nya itu masih dengan mukenah nya.
"Wa-wa'alaikum salam," jawab Vina terkejut dengan Adit yang mengucap salam.
"Apa tante dan om gak di ajak masuk?" Tanya tante tia tersenyum.
"Ah astaghfirullah, maaf tante, om. Mari silahkan masuk," ucap Vina mempersilahkan masuk orang tua Adit.
"Aku gak di suruh masuk?" Tanya Adit mengerucutkan bibirnya.
"Eh?"
"Biarkan saja dia di luar, ayo sayang kita masuk." Mama tia mengajak Vina masuk, diikuti papa antonius di belakang nya.
"Benar nih, gak di ajak masuk?"
"Tante, kak Adit?" Ucapnya melirik ke arah tante tia.
"Manja banget dia, biarkan saja masuk sendiri."
Vina hanya menoleh pada Adit yang masih dengan wajah sedih nya, karena tidak di ajak masuk.
"Selamat malam, bapak, ibu."
__ADS_1
"Selamat malam. Wah ternyata ada tamu rupanya."
"Iya, maaf mengganggu waktu istirahat nya. Malam begini bertamu," ucap papa anton.
"Tidak masalah pak, lagipula kami jam segini masih mengobrol saja, tidak langsung istirahat."
"Ngomong-ngomong, Adit tidak ikut kemari?" Tanya papa Gilang. Vina yang baru keluar membuat minum melihat ke arah pintu sudah tidak ada Adit disana.
"Kami bersama Adit, dia sedang cari angin di luar." Mama tia tersenyum pada Vina.
"Biar Vina yang suruh kak Adit masuk," ucap Vina tersenyum lalu kembali keluar.
Vina melihat Adit duduk sambil tangan nya bersedekap. "Yakin di luar aja? Gak mau masuk?"
Adit menoleh pada Vina sambil mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.
"Kalau gak mau yaudah aku masuk yah?"
"Cahaya," rengeknya.
"Yakin kayak gini mau nikah?" Tanya Vina mengejek.
"Kamu terima aku?" Tanya Adit mendekati Vina.
"Mau," jawab Adit cepat dan memegang tangan Vina. Namun dengan cepat Vina menjauhkan tangannya.
"Bukan mahram. Kalau gak mau masuk gak apa, aku bilang sama orang-orang di dalam, kalau kak Adit gak mau nikah." Vina berbalik, namun Adit lebih dulu menyerobot masuk.
Vina hanya menggeleng tersenyum.
"Kenapa sih lari-lari dit? kita lagi di rumah orang loh." Papa menatap Adit yang hanya cengengesan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada-
"Ada hantu?"
"Ada bidadari tak bersayap," ucap Adit membuat pipi Vina merona mendengarnya. Para orang tua hanya menggelengkan kepalanya.
"Duduk dulu nak, kita bicara serius."
"Kami kemari, hanya ingin mendengar jawaban dari Cahaya eh maksud saya Vina. Jika sudah yes, saya akan melamarkan nya secara resmi." Mereka semua memandang Vina.
__ADS_1
"Bagaimana nak, apa kamu sudah ada keputusan?" Tanya papa Gilang.
"Vina-
Sebelum melanjutkan ucapannya Vina menatap wajah orang-orang yang nampak serius, ia ingin tertawa dengan wajah nya terutama Adit, yang ia lihat nampak memohon.
Akhirnya Vina tertawa, ia tidak tahan untuk tidak tertawa dengan wajah-wajah tegang di depannya itu.
"Kenapa malah tertawa? apa ada yang lucu?" Tanya tante Tia langsung dijawab gelengan kepala oleh Vina.
"Vina hanya ingin tertawa, kenapa wajah kalian semua begitu tegang."
"Kami hanya ingin tahu jawaban kamu."
Vina menarik nafasnya pelan.
"Bismillah"
"Vina tidak bisa," jawab Vina membuat orang terkejut. Apalagi Adit yang sangat kecewa dengan jawaban Vina.
"Kenapa vin?" tanya mama Dira.
"Iya nak, kenapa?" tanya tante Tia yang melihat anaknya menunduk.
Vina hanya tersenyum lucu dengan Adit yang menunduk tanpa ada kata yang keluar.
"Vina tidak bisa menolaknya tante," ucap Vina tersenyum dan itu sontak membuat Adit mendongakkan lagi kepalanya menatap wajah Vina lekat.
"Coba ulangi sekali lagi?" pinta Adit.
"Aku tidak bisa menolaknya."
"Coba sekali lagi?"
Vina memandang malas ke arah Adit. "Tante, om. Seperti nya kak Adit tidak mau aku menerimanya."
"Aaa... yes makasih..." Adit mendekati Vina dan hampir saja memeluknya.
"Eh, bukan mahram." Ucap semua orang tua, lalu Adit tidak jadi memeluk nya, padahal berapa senti lagi mereka berpelukan.
Adit tersenyum dan kembali ke tempat duduk nya, tidak masalah jika tidak bisa memeluk nya saat ini, yang terpenting dirinya telah di terima.
__ADS_1
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.