Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Kepergian raka


__ADS_3

Kondisi Raka bukan semakin membaik, saat ini malah makin memburuk.


Vina yang saat ini masih dirumah, di telpon keluarga Raka untuk segera ke rumah sakit.


"Ma, pa, Vina mau kerumah sakit, kondisi Raka memburuk sekarang," Vina sudah mulai menangis.


"Tidak! kita semua akan kesana, kamu juga tidak bisa berkendara seperti ini Vin."


Vina mengangguk menanggapi, ia cepat buru-buru ke mobil, ila juga ikut kesana.


"Pa, ayo cepat pa, Vina mau lihat Raka."


"Sabar nak, kita akan cepat melihat Raka di rumah sakit." Vina menangis di mobil, ila ngerti kakaknya itu takut sekali kehilangan Raka, Raka adalah orang yang menguatkan Vina.


Tak lama tiba di rumah sakit, Vina langsung berlari untuk menuju ruangan Raka tanpa menunggu orang tuanya, papa dan mama bertanya ruangan Raka karena sudah di tinggal Vina.


"Tante, om, kak Farhan, kak Shena, dimana Raka? hiks." Vina di peluk kak Shena yang juga menangis disana.


"Sayang tenanglah, Raka masih di dalam di periksa dokter, jantung nya melemah ia kembali sulit untuk bernafas," om Dirga menjelaskan itu.


"Ra-raka," Vina merosot dari pelukan Shena.


"Vina," ucapnya semua, orang tua Vina sudah sampai disana


"Raka, ma pa. Vina gak mau kehilangan Raka, hiks" memeluk mama nya.


cklek...


"Dokter, bagaimana keadaan Raka?"


"Bagaimana keadaan anak saya dok?


"Keadaan adik saya bagaimana dok?"


"Raka ingin bicara pada kalian semua, tapi tolong jangan terlalu mendekat, agar masih bisa menghirup oksigen nya, dan tidak membahayakan pasien."


"Baik, dok."


Semua orang masuk untuk melihat Raka.

__ADS_1


"Raka," ucap Vina mendekat ke arah Raka, sedangkan yang lain hanya berdiri sedikit memberi jarak.


"Vina," tersenyum lemah.


"Hiks Raka bertahan demi aku, aku mohon jangan tinggalin aku," ucap Vina dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Maafin aku Vin, waktuku tidak banyak, kamu harus tetap bahagia disini," jawabnya membuat Vina menggeleng.


"Vina gak mau, tolong jangan paksa Vina bahagia, tanpa kamu. hiks" menggenggam erat tangan Raka.


"Aku gak bisa lagi jaga kamu Vin, aku gak kuat, aku harus pergi," Raka sudah tersengal-sengal.


"Kalau kamu pergi aku akan ikut, aku tidak mau sendiri disini."


"Banyak orang yang sayang sama kamu Vin, tolong jangan biarkan aku melihat kamu dari jauh sedih."


"Aku yang sedih jauh dari kamu, tolong bawa aku pergi." Semuanya yang melihat itu menangis.


"Kamu jangan nangis Vina, aku gak suka kamu sedih," ucap Raka mengusap air mata Vina lemah.


"Aku gak akan nangis, asal kamu tetap disini atau bawa aku pergi bersama kamu," ucapnya lagi.


Mereka sedikit mendekat, "iya dek?"


"Tolong jaga Vina, aku percaya sama kalian," pintanya lemah.


"Aku gak mau Raka, aku mau nya kamu, kenapa kamu gak denger, kamu gak sayang sama aku yah Raka, hah? hiks" teriak Vina.


"Vina, tenanglah," kak Shena mencoba menenangkan Vina.


"Kak Shena jangan mendekat, aku maunya sama Raka kak," ucapnya memeluk tangan Raka membuat Shena berhenti.


"Vina, waktuku sudah tidak lama lagi, aku mohon bahagia lah disini. Cari pasangan yang bisa bahagiain kamu lebih dari aku," ucapnya sudah tidak kuat menahan sakit sambil batuk darah.


"Raka, cepat panggil dokter!" teriak Vina melihat keluarga nya hanya diam.


"Tidak perlu Vin, ini sudah akhir dari hidupku." Vina menggeleng kan kepalanya.


"Mama, papa, adek minta maaf kalau selalu membuat kalian repot, untuk kak Farhan selalu jaga kak Shena dan mama kak." mama sudah menangis kuat disitu di peluk papa Dirga.

__ADS_1


"Tante Dira, om Gilang, maafin Raka hanya sampai disini untuk jaga Vina."


"Raka jangan ngomong seperti itu," lirih Vina sudah tidak sanggup bicara karena tangisnya


"Ila yang cantik bersinar, jagain cahaya nya kak Raka yah, kakak harus pergi uhuk" darah lagi yang Raka keluar kan.


Ila mengangguk cepat.


"Vina mendekat lah" Vina mendekat ke arah Raka


Raka mengecup kening Vina untuk terakhir kalinya.


"Aku mencintaimu, Devina cahaya."


"Aku juga mencintaimu, Raka."


"Jangan sedih lagi Vin, aku mohon jangan pikirin aku, sekarang aku tidak akan ngerasa sakit lagi," Raka tersenyum sambil menutup matanya perlahan.


"RAKA...." teriaknya semua orang.


Tinnnnnnnnnn suara monitor detak jantung sudah lurus.


"Dokter," kak Farhan memanggil dokter.


"Maaf pak, Raka sudah pergi," ucap dokter setelah memeriksa.


"Tidak, Raka jangan pergi! tolong jangan pergi hiks" Vina melihat pisau yang berada di atas meja di dekat buah, ia langsung mengambil nya dan mengarahkan itu di denyut nadi.


Srettt


"VINA," teriak nya lagi semua orang, terkejut dengan tindakan Vina.


Perawat membawa Vina ke ruang rawat, sedangkan Raka akan di pindah ke kamar mayat.


"Jangan pernah bersedih atas kepergian ku, kamu tetaplah bahagia walau tanpa ku" Raka


"Jangan harap aku tidak bersedih atas kepergian mu, aku akan merana tanpa mu" Vina


Selalu dukung othor bebu sayang.

__ADS_1


Chingguya annyeong love


__ADS_2