
"Ra-raka." Aku terkejut dengan kedatangan Raka yang tiba-tiba.
"Ini jaketnya aku balikin, biar dia pakai jaket aku aja," Raka melepas jaketnya.
"Ayo ke mobil cepat." Raka mengajak ku cepat ke mobil.
"Raka, tolong bawain belanjaan Vina," ucapku menyerahkan 1 kantong kresek besar, dan Raka meraih nya.
"Kamu tuh nyusahin banget, tau gak!" ucapnya.
Aku melirik Dimas yang menatapku.
"Dimas makasih ya tisu nya, aku pulang dulu," ucapku pamit pada Dimas.
"Iya Vin, semoga kita bisa ketemu lagi," jawab nya tersenyum padaku.
"Kamu mau pulang, apa gak? kalau gak, aku tinggal ya," Raka menatap tajam ke arah ku.
Aku menelan salivaku, dengan susah payah. Lalu mendekati Raka yang membawa payung.
Kita berjalan menuju mobil, dimana mobilnya di parkir tak jauh dari situ.
Di mobil
"Raka," ucapku menghadap Raka.
"Hm.." pelit kata
"Makasih ya ka, udah jemput Vina," ucapku tersenyum ke arahnya.
"PD banget sih! aku cuma lewat sekitar sini tadi. Jadi lihat kamu duduk disitu, kasian juga ada cewek jelek di sana, takut digangguin om-om. Apalagi takut tante Dira nungguin."
"Bisa gak Raka, kalau ngomong jangan nyakitin hati orang," ucapku berkaca-kaca, hidung Alhamdulillah lebih baik.
"Cuma kamu doang yang aku SAKITI," ucapnya jelas tanpa beban.
Aku hanya menatap Raka sekilas, lalu menatap kosong ke depan.
Di perjalanan, tak ada yang berucap dari kita berdua. Sunyi, sepi, dan hanya suara hujan dan deru mobil saat ini.
Ucapan Raka sama seperti beberapa tahun yang lalu, yang kudengar dari mulut teman-teman sekolah ku.
Tak terasa, mobil Raka sudah terparkir di depan rumah.
Mama sudah menungguku di sana.
Aku turun dengan membawa belanjaan ku.
"Vina kamu gak pa-pa kan?" tanya mama khawatir padaku.
"Vina gak pa-pa ma," jawabku.
Aku melihat Raka turun menghampiri mama, mencium punggung tangan mama.
"Nak Raka, makasih sudah antar Vina pulang," ucap mama pada Raka.
"Iya tante, sama-sama, Raka pulang dulu ya udah malam," ucap Raka.
"Gak masuk dulu nak?" mama mengajak raka masuk.
"Lain kali aja tante, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam," jawab aku dan mama melihat kepergian nya.
Setelah mobil Raka menjauh dari pandangan, aku dan mama masuk ke dalam rumah.
"Kamu gak apa kan Vin? masih mimisan ya?" tanya mama.
"Udah gak ngalir lagi kok ma," jawabku pada mama.
"Mama takut, terjadi apa yang dokter katakan dulu."
flashback on
"D, apa anak saya ada penyakit serius?" tanya mama.
"Saya belum memastikan nya benar atau tidak buk, karena pemeriksaan awal saya menunjukkan, bahwa anak ibu mengidap leukimia," ucap dokter.
"Kanker jaringan pembentuk darah yang menghambat kemampuan tubuh melawan infeksi.
__ADS_1
Leukemia adalah kanker jaringan pembentuk darah, termasuk tulang sumsum. Ada banyak jenisnya, seperti leukemia limfoblastik akut, leukemia mieloid akut, dan leukemia limfositik kronis."
Demam dan menggigil.
Tubuh terasa lelah dan rasa lelah tidak hilang meski sudah beristirahat.
Berat badan turun drastis.
Gejala anemia.
Bintik merah pada kulit.
Mimisan.
Tubuh mudah memar.
Keringan berlebihan (terutama pada malam hari).
Mudah terkena infeksi.
Muncul benjolan di leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening.
Perut terasa tidak nyaman akibat organ hati dan limpa membengkak.
Gejala yang lebih berat dapat dialami penderita apabila sel kanker menyumbat pembuluh darah organ tertentu. Gejala yang dapat muncul meliputi:
Sakit kepala hebat
Mual dan muntah
Otot hilang kendali
Nyeri tulang
Linglung
Kejang
Kapan harus ke dokter
Segera periksakan diri ke dokter jika muncul gejala, seperti demam berulang dan berkepanjangan atau mimisan. Gejala leukemia sering kali menyerupai gejala penyakit infeksi lain, misalnya flu. Pemeriksaan perlu dilakukan untuk mendeteksi dini kemungkinan kanker dan mencegah perkembangan penyakit.
"Pengobatan leukemia membutuhkan waktu yang cukup panjang. Rutin berkonsultasi dengan dokter selama pengobatan, bahkan hingga selesai pengobatan. Hal ini dilakukan agar perkembangan penyakit selalu terpantau oleh dokter." ucap dokter lagi
Penyakit leukemia disebabkan oleh kelainan sel darah putih di dalam tubuh dan tumbuh secara tidak terkendali. Belum diketahui penyebab pasti dari perubahan yang terjadi, namun beberapa faktor berikut ini diduga dapat meningkatkan risiko terkena leukemia. Faktor risiko yang dimaksud meliputi:
Memiliki anggota keluarga yang pernah menderita leukemia.
Menderita kelainan genetika, seperti Down Syndrome.
Menderita kelainan darah, seperti sindrom mielodisplasia.
Memiliki kebiasaan merokok.
Pernah menjalani pengobatan kanker dengan kemoterapi atau radioterapi.
Bekerja di lingkungan yang terpapar bahan kimia, misalnya benzena.
Jenis Leukemia
Leukemia dapat bersifat kronis dan akut. Pada leukemia kronis, sel kanker berkembang secara perlahan dan gejala awal yang muncul biasanya tergolong sangat ringan. Sementara pada leukemia akut, perkembangan sel kanker terjadi sangat cepat dan gejala yang muncul dapat memburuk dalam waktu singkat. Leukemia akut lebih berbahaya dibandingkan leukemia kronis.
Berdasarkan jenis sel darah putih yang terlibat, leukemia terbagi menjadi empat jenis utama, yaitu:
Leukemia limfoblastik akut
Acute lymphoblastic leukemia (ALL) atau leukemia limfoblastik akut terjadi ketika sumsum tulang terlalu banyak memproduksi sel darah putih jenis limfosit yang belum matang atau limfoblas.
Leukemia limfositik kronis
Chronic lymphocytic leukemia (CLL) atau leukemia limfositik kronis terjadi ketika sumsum tulang terlalu banyak memproduksi limfosit yang tidak normal dan secara perlahan menyebabkan kanker.
Leukemia mieloblastik akut
Acute myeloblastic leukemia (AML) atau leukemia mieloblastik akut terjadi ketika sumsum tulang terlalu banyak memproduksi sel mieloid yang tidak matang atau mieloblas.
Leukemia mielositik kronis
Chronic myelocytic leukemia (CML) atau leukemia mielositik kronis terjadi ketika sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel mieloid yang matang.
__ADS_1
Selain keempat jenis leukemia tadi, ada beberapa jenis leukemia lain yang jarang terjadi, di antaranya:
Leukemia sel rambut (hairy cell leukemia).
Leukemia mielomonositik kronis (chronic myelomonocytic leukemia).
Leukemia promielositik akut (promyelocytic acute leukemia).
Leukemia limfositik granular besar (large granular lymphocytic leukemia).
Juvenile myelomonocytic leukemia, yaitu jenis leukemia mielomonositik yang menyerang anak usia di bawah 6 tahun.
Diagnosis Leukemia
Dokter akan menanyakan gejala yang dialami penderita dan melakukan pemeriksaan fisik. Melalui pemeriksaan fisik, dokter dapat mendeteksi tanda-tanda leukemia yang muncul, seperti memar pada kulit, kulit pucat akibat anemia, serta pembengkakan kelenjar getah bening, hati, dan limpa.
Meski demikian, diagnosis leukemia belum dapat dipastikan hanya dengan pemeriksaan fisik. Karena itu, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis dan jenis leukemia yang dialami penderita. Jenis pemeriksaan yang dilakukan, meliputi:
Tes darah
Tes hitung darah lengkap dilakukan untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Dokter dapat menduga penderita mengalami leukemia jika jumlah sel darah merah atau trombosit rendah dan bentuk sel darah tidak normal.
Aspirasi sumsum tulang
Prosedur aspirasi sumsum tulang dilakukan melalui pengambilan sampel jaringan sumsum tulang belakang dari tulang pinggul dengan menggunakan jarum panjang dan tipis. Sampel ini kemudian diperiksa di laboratorium untuk mendeteksi sel-sel kanker.
Selain tes diagnosis di atas, dokter juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan lain untuk memeriksa kelainan organ akibat leukemia. Jenis tes yang dapat dilakukan adalah:
Tes pemindaian, misalnya USG, CT scan, dan MRI.
Lumbal pungsi.
Tes fungsi hati.
Biopsi limpa.
Pengobatan Leukemia
Dokter spesialis hematologi onkologi (dokter spesialis darah dan kanker) akan menentukan jenis pengobatan yang dilakukan berdasarkan jenis leukemia dan kondisi pasien secara keseluruhan. Berikut ini beberapa metode pengobatan untuk mengatasi leukemia:
Kemoterapi, yaitu metode pengobatan dengan menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Obat dapat berbentuk tablet minum atau suntik infus.
Terapi imun atau imunoterapi, yaitu pemberian obat-obatan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membantu tubuh melawan sel kanker. Jenis obat yang digunakan, misalnya interferon.
Terapi target, yaitu penggunaan obat-obatan untuk menghambat produksi protein yang digunakan sel kanker untuk berkembang. Contoh jenis obat yang bisa digunakan adalah penghambat protein kinase, seperti imatinib.
Radioterapi, yaitu metode pengobatan untuk menghancurkan dan menghentikan pertumbuhan sel kanker dengan menggunakan sinar radiasi berkekuatan tinggi.
Transplantasi sumsum tulang, yaitu prosedur penggantian sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang yang sehat.
Terkadang, prosedur operasi juga dilakukan untuk mengangkat organ limpa (splenectomy) yang membesar. Organ limpa yang membesar dapat memperburuk gejala leukemia yang dialami penderita.
Komplikasi Leukemia
Leukemia dapat menyebabkan komplikasi jika penanganan tidak segera dilakukan. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah:
Perdarahan pada organ tubuh, seperti otak atau paru-paru.
Tubuh rentan terhadap infeksi.
Risiko munculnya jenis kanker darah lain, misalnya limfoma.
Komplikasi juga dapat terjadi akibat tindakan pengobatan yang dilakukan. Berikut ini beberapa komplikasi akibat pengobatan leukemia:
Graft versus host disease, yaitu komplikasi dari transplantasi sumsum tulang.
Anemia hemolitik.
Tumor lysis syndrome (sindrom lisis tumor).
Gangguan fungsi ginjal.
Infertilitas.
Sel kanker muncul kembali setelah penderita menjalani pengobatan.
Anak-anak penderita leukemia juga berisiko mengalami komplikasi akibat pengobatan yang dilakukan. Jenis komplikasi yang dapat terjadi meliputi gangguan sistem saraf pusat, gangguan tumbuh kembang, dan katarak.
Penjelasan dokter jelas dan padat, aku dan mama hanya manggut-manggut mendengar nya.
__ADS_1
Karena ini hanya pemeriksaan fisik, belum tentu yang di sebut dokter, dan yang aku alami adalah ciri-ciri leukimia.
flashback off