Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Cemburu


__ADS_3

Di mobil.


"Vina, kamu sebenarnya sakit apa sih? kenapa sering lemas gitu dan gak bisa berlama-lama di bawah sinar matahari?"


"Vina itu gak bisa kecapean dikit, langsung lemas. Vina juga maag yang mungkin hampir kronis saking parahnya, sekarang tipes," ucapku melihat Raka.


Raka hanya mendengar ku yang memberi tau tentang penyakit yang dirasakan saat ini.


"Kalau kamu penyakit nya apa ka?" tanyaku.


Raka menoleh ke arah ku, "aku ada 1 penyakit dan gak ada obatnya," ucapan Raka mengagetkan ku.


"Hah?" Aku menutup mulut dan mataku berkaca-kaca.


"Raka, kamu-" aku memegang tangan Raka.


Hahahhaha


Raka malah tertawa, padahal aku sudah ingin menangis.


"Kenapa ketawa coba?" ucapku cemberut.


"Kan aku belum bilang, penyakit nya apa."


"Emang apa penyakit kamu, yang gak ada obat nya?"


"Penyakit nya emang 1, 1 Raka ganteng cuma milik Vina, 1 cuma sayang sama Vina dan 1 yang akan selalu jaga Vina. Itu gak ada obatnya, valid no debat," cengengesan.


Aku memanyunkan bibirku. "Udah gak usah manyun gitu, aku gemes."


"Au ah gelap," aku memalingkan wajahku ke pintu mobil.


"Tuan putri nya Raka, jangan marah dong," ucapnya mengelus kepala ku.


Aku malah menangis, "hiks"


"Lah Vina, kamu kenapa?" tanyanya menghentikan mobilnya.


"Vina, kenapa nangis hm?" ucapnya memegang wajahku.


"Hiks Vina gak suka Raka ngomong gitu, Vina takut Raka ninggalin Vina, hiks." Raka menarik ku ke dalam pelukannya.


"Uluulu sayang udah ya, maaf. Aku gak bakal ngomong gitu lagi."


'Tapi aku gak tau, sampai kapan aku bisa bertahan vin.'


"Udah jangan nangis lagi!" Aku melepas pelukan Raka.


"Janji jangan pernah tinggalin Vina." Aku menatap Raka sambil pinky promise mengaitkan jari kelingking sambil mengikrarkan janji.


"Iya janji," Raka tersenyum menerima jari kelingking dan menautkan nya, sambil menguyel pipiku.


"Kita makan siang dulu ya."


"Boleh."


"Kok kamu makin chubby sih, gemesh."


"Hah? berarti secara tidak langsung kamu ngatain Vina gendutan?"


'haduhh salah ngomong'


"Bukan sayang, maksud aku itu kamu makin lucu."


"Bener Vina gak gendut?"

__ADS_1


"Ya kan kamu emang gak gendut, cuma chubby aja, aku gemes pengen nyubit terus," ucap Raka mencubit lagi pipiku.


"Rakaaaa..... kata mama dulu, kalau pipi sering di cubit itu, bakal gak doyan makan."


"Haha lucu banget kamu, kan itu kalau masih bayi, itupun mitos juga sayang."


"Tau lah, kalah mulu Vina."


Raka terkekeh dan melajukan lagi mobilnya menuju tempat makan.


Tak berapa lama mobil Raka sampai di tempat makan.


"Ayo turun! apa mau aku gendong sampai ke dalam."


Aku langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam, untuk memesan makanan.


"Cahaya," panggil seseorang.


Aku dan Raka berbalik ternyata ada 2 orang dan itu adalah kak Adit dengan seorang wanita di samping nya.


"Kak Adit."


"Adit,"


ucapku dan Raka bersamaan.


"Kalian makan disini?" tanyanya aku melirik seseorang di samping nya.


'Berarti kak Adit sudah melupakan aku sepenuh nya Alhamdulillah'


'Aku tau dit, lu masih cinta sama vina'


Karena Raka melihat pandangan mata Adit padaku.


"Dia-


"Kenalin aku Reva, pacar Adit," ucapnya mengulurkan tangannya.


"Oh pacar kak Adit, aku Vina," jawabku menerima uluran tangan Reva.


"Kita gabung disini aja dit, boleh kan?" ucap Reva menatap ku dan Raka.


"Kita cari tempat lain aja re."


"Gak apa kok dit, Kita gak masalah, gabung aja." Kak Adit menatap ku, aku mengalihkan tatapan ku dengan menunduk.


"Raka, aku ke toilet bentar ya?"


"Iya, mau aku antar?"


"Gak usah, aku sendiri aja," ucapku beranjak lalu pergi ke toilet.


"Kalian udah lama pacaran ya?" tanya Reva pada Raka.


"Kita udah tunangan, gak pacaran," jawab Raka menatap Adit yang langsung berubah.


"Lucu banget Vina, dia cantik," ujar Reva.


"Iya dia cantik." Bukan Raka yang menjawab namun Adit.


Raka dan Reva menatap intens Adit yang mengatakan aku cantik.


"Kenapa lihat nya gitu kalian, emang gue salah ngomong?"


Tak lama aku kembali ke meja. "Maaf ya, lama."

__ADS_1


Raka tersenyum, "Gak apa kok." Karena pesanan sudah datang, kita berempat makan.


Kak Adit selalu menatap ku, saat aku sedang makan.


"Kamu gak pakek sambel Vin, enak loh ini cobain," Reva akan menyendok kan sambal terasi ke piring ku, namun di hentikan.


"Cahaya gak bisa makan sambal terasi re," jawab Adit.


"Kok kamu tau dit?"


"Aku-


"Vina dulu yang kasi tau kak Adit."


"Oh gitu, berarti kalian juga pernah makan bareng?" tanya Reva membuat sendok yang di pegang Raka terlepas.


"Maaf, gue ke toilet dulu," beranjak dari kursi dan pergi.


"Raka," aku memanggilnya namun Raka tetap berjalan menuju toilet.


"Kamu apaan sih re," ucap Adit merasa tidak enak.


"Yah kan aku nanya doang." Aku gak tau mau ngomong apa, Raka marah atau tidak, itu yang aku pikirkan saat ini.


...°~°...


Di dalam toilet Raka di depan cermin, meninju dinding di depannya.


"Aku gak tau kenapa aku begitu lemah dan mudah cemburu, saat Adit begitu memperlihatkan, kalau dia masih ada rasa sama Vina," ucapnya dengan pantulan wajahnya.


Raka mencuci mukanya dan keluar kembali.


Raka berjalan mendekat, ke arah meja yang tadi kita tempati.


"Kamu udah makannya?" tanya nya.


"Iya, Vina udah kenyang."


"Kalau makannya udah, kita langsung pulang aja ya?"


"Iya udah ayo."


"Kok cepat Vin, baru juga ngobrol bentar," ucap Reva.


"Nanti bisa ngobrol lagi kok sama aku, kapan aja kalau kamu mau kerumah, nanya aja alamat aku sama kak Adit."


"Oh iya deh nanti ya, senang bisa kenal sama kamu."


"Aku juga re."


Aku dan Raka pergi setelah membayar semua tagihan bill nya.


Kak Adit dan Reva menatap kepergian ku dan Raka.


Aku tidak tau, apa Raka sedang marah atau dia hanya tidak mau memperlihatkan kemarahan nya.


Jangan lupa like vote komen


Just call me chinggu oke 😉


annyeong 🤗


.


.

__ADS_1


__ADS_2