
Adit sebelum berangkat ke kantor mengajak Vina membereskan beberapa pakaian nya untuk di bawa ke rumah baru. Ia secepatnya mengajak Vina pindah agar mereka bisa mandiri menjalani rumah tangga nya.
"Sudah sayang?"
"Sudah kak," jawab Vina yang hanya membawa dua koper dan tas.
"Kamu masukin pakaian kamu semua? Kan nanti bisa ambil lagi kesini." Melihat koper yang akan Vina bawa Adit sedikit terkejut.
"Ini cuma pakaian ke kampus berapa helai aja, sama baju tidur kak."
"Yaudah lumayan lega tiga lemari ini."
"Satu lemari aja belum semua kak, gimana mau lega."
"Hah? Perasaan dulu kita jalan kamu sering bilang gak ada baju."
"Memang banyak kak, tapi pas mau jalan gak ada."
"Kok bisa?"
"Jadi berangkat gak? Kalau gak jadi pindah sekarang aku langsung siap-siap ke kampus aja."
"Eh jadi sayang, ayo keluar!"
"Kamu bawa tas kecil kamu aja, biar aku yang bawa koper-koper kamu keluar."
"Gak apa kak, aku kuat kok." Vina sudah bersiap membawa satu koper, namun Adit menahan nya.
"Mau keluar sekarang, atau bergelut di ranjang?" Adit menaik turunkan alisnya, membuat Vina segera melepas koper yang tadi ia pegang.
"Kenapa sayang? Bantah lagi dong, aku mau cium-cium." Adit memonyongkan bibirnya, Vina langsung berlari keluar.
Adit yang di dalam kamar tertawa melihat istrinya berlari.
"Kenapa lari-lari sih vin?" Tanya mama.
"Mungkin di kejar mas hello kitty ma," celetuk ila.
"Ila," tegur papa karena sudah tahu siapa yang ila maksud.
"Kamu mau kemana dit?" Tanya mama melihat Adit yang membawa dua koper.
"Maaf ma, pa. Adit akan membawa Vina tinggal dirumah yang sudah Adit siapkan sebelum kita menikah."
"Apa tidak terlalu cepat nak? Papa takut kamu tidak dilayani dengan baik jika tinggal hanya berdua, makan dan pakaiannya."
"Itu semua gampang pa, Adit bisa melakukannya sendiri. Lagi pula Adit sudah menyiapkan bibi disana untuk memasak makanan dan beres-beres rumah. Jadi mama dan papa tidak perlu khawatir dengan Cahaya disana, Adit tidak akan membuatnya menderita."
"Bukan masalah nya buat Vina menderita, tapi takut sebaliknya."
"Tidak akan ma, Adit juga siap menderita, yang terpenting itu tetap membuat kita selalu bersama." Adit menatap Vina tersenyum, begitu juga Vina yang selalu di buat terharu dengan perkataan dan perlakuan Adit padanya.
"Papa hanya berharap yang terbaik untuk kalian, apapun permasalahan kalian nanti semoga bisa di selesaikan dengan kepala dingin."
"Disiram air es dong pa?" Tanya ila sambil makan es krim.
__ADS_1
"Ketiban es kamu tuh, pagi-pagi es krim aja yang di makan."
"Ila, kamu kenapa makan es krim? Papa gak mau dengar nanti batuk-batuk merengek."
"Cuma cup kecil kok pa, lagi pengen banget di makan pagi-pagi gini."
"Ila kan masih bocil pa, jelas masih merengek." Adit menertawakan ila begitu juga dengan Vina.
"Hello kitty gak di ajak," ucap ila.
"Hello kitty gemas kan?"
"Sudah-sudah kalian ini, sarapan dulu habis itu baru berangkat."
"Adit bawa koper ini ke mobil dulu."
"Aku bantu ya kak." Vina mendekat ke Adit, ia tidak melihat kode dari Adit.
"Kamu duduk! Aku yang bawa ini."
"Kita bareng aja kak."
"Membantah?" Tanya nya di telinga Vina, membuat Vina menatap wajah jail Adit.
"Aku tunggu disini ya? Kak Adit saja yang bawa ke mobil"
"Gak jadi ikut? Aku butuh bantuan loh."
"Kak Adit aja yang lebih strong"
"Sudah tahu kalau aku strong?"
Adit dan Vina langsung menoleh. "Adit mau bawa ini keluar ma, biar lebih kuat di kasi bisikan semangat dari istri." Adit mengedipkan satu matanya.
"Alay kalau ngomong lebay dasar anak jablay." Ila menyanyi sambil makan es krim.
uhuk uhukk
"Apa papa bilang," ucap papa yang melihat ila batuk-batuk.
"Papa," rengeknya membuat semua orang menggeleng kepala. Ila memang lebih dekat dengan papanya, walaupun papa Gilang hanya papa sambung. Namun kasih sayang yang di berikan seperti pada anak kandung sendiri.
...******...
"Kita sudah sampai," ucap Adit menghentikan mobilnya dirumah yang lumayan besar.
Vina membuka seatbelt dan pintu mobil, lalu keluar untuk melihat rumahnya.
"Kamu suka?"
"Rumah nya bagus, tenang banget halamannya luas. Walaupun dekat dengan jalan raya."
"Bagus lah kalau kamu suka, ayo masuk!" Adit menarik tangan Vina untuk masuk.
"Sebentar kak, kenapa ada mobil lagi disini? Punya siapa?" Tanya Vina.
__ADS_1
"Punya mantan pacar aku." Setelah mengatakan nya, Adit berjalan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Deg
"Mantan? Yang mana?" Vina mengikuti Adit di belakang nya.
Mereka sudah berada di dalam rumah. Vina yang tadi nya senang dengan rumah yang bagus, kini hanya menunduk.
"Gimana sayang, bagus kan rumah nya?" Tanya Adit melihat sekeliling.
"Iya" lirihnya pelan.
Adit yang mendengar lirihan Vina langsung menoleh, dan langsung melewati Vina menuju ruang tengah.
"Tuh kan, dia langsung berubah." Vina langsung berpikir yang tidak-tidak dengan Adit.
Vina merasakan tangan yang melingkar di perutnya. "Kamu jangan pernah berpikir macem-macem sayang, aku tidak akan menduakan kamu."
"Lalu, apa maksud kak Adit masih ada mobil mantan kak Adit di depan?"
Adit melepas pelukannya. "Ini," Adit menyerahkan kunci di tangannya membuat Vina semakin bingung.
"Ambil sayang, ini milik kamu." Adit mengambil tangan Vina dan memberikannya.
"Ini apa kak?" Tanya Vina.
"Itu kunci sayang."
"Iya kunci apa?"
"Itu kunci mobil di depan." Mendengar itu Vina langsung mengembalikan lagi ke Adit.
"Kenapa di balikin lagi?"
"Kenapa kak Adit kasi ke aku, bukannya itu mobil mantan kak Adit?"
Adit hanya tertawa mendengar nya.
"Ini punya kamu sayang."
"Punya aku?" Vina terlihat bingung, tadi Adit mengatakan punya mantannya, lalu kenapa sekarang mengatakan milik Vina.
"Iya, itu kan mobil yang aku berikan sebagai mahar buat kamu."
"Katanya tadi mobil mantan?"
"Lah, kamu kan mantan pacar yang sekarang jadi istri aku."
"Ya Allah kak, kenapa gak bilang aja dari tadi kalau ini punya aku."
"Udah aku bilang, cuma kamu nya aja yang salah paham."
"Tetap kak Adit yang salah."
"Iya deh, memang wanita selalu benar." Adit mengalah saja, dari pada tidak selesai dan malah menimbulkan masalah.
__ADS_1
Memang selalu benar dit, laki-laki tempatnya salah. Tapi tergantung juga sih, othor juga kalau salah mengakui.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love.