
Adit memang mengubah rutinitas pagi yang biasa ia lakukan. Adit melakukan olahraga pagi sebelum sholat subuh, dan membuatkan sarapan dan susu untuk istrinya. Tidak ingin menyuruh bibi yang membuat, ia ingin membuatnya sendiri. Setelah menyiapkan semua ia mandi sebelum masuk waktu subuh, dan sebelum membangunkan istrinya. Terkadang Adit morning sickness tanpa diketahui oleh Vina. Ia bangga bisa merasakan ini, jarang ada suami yang merasakan nya. Ia justru senang dengan yang di alaminya, karena istrinya tidak merasakan mual-mual seperti yang dirasakan.
"Sayang, ayo bangun! Kita shalat subuh." Adit membangunkan Vina dengan pakaian muslim nya yang sudah lengkap.
Vina hanya menggeliat sangat malas sekali rasanya untuk cepat bangun.
"Sayang, waktunya shalat subuh loh nanti kesiangan." Ucap Adit mencium sambil membelai wajah Vina.
"Ekhhhemm, iya kak." Vina sambil menguap perlahan membuka matanya.
"Selamat pagi istriku yang cantik, ayo mandi dulu! Aku antar ke kamar mandi."
"Pagi juga. Kak Adit udah dari tadi bangun nya?" Tanya Vina sambil mengucek matanya, di bantu oleh Adit untuk duduk.
"Iya dari tadi, kamu minum dulu." Adit mengambilkan air putih untuk Vina minum.
"Aku gak mau mandi kak, langsung sholat aja ya"
"Air nya hangat kok, udah aku siapin di dalam. Sebentar aja biar lebih segar mandi sebelum subuh."
"Tapi tetap aja setelah mandi gatal badan aku, karena disini dingin."
"Bisa di atur sayang, ruangan nya kan bisa di hangatkan. Lagian kan kamu memang wajib keramas." Ucap Adit sambil tertawa.
Vina menatap Adit sambil mengingat nya, mengapa ia harus keramas. "Haih, kak Adit mah jadi terpaksa keramas subuh."
"Udah ayo cepat mandi, nanti aku bantu keringin rambut kamu." Vina berjalan ke kamar mandi di bantu Adit, Vina tidak mau Adit membantu nya sampai ke dalam, ia menyuruh Adit kembali ke ranjang agar suaminya itu menunggu dirinya di sana. Namun bukan Adit namanya jika tidak menunggu Vina.
"Kenapa masih disini kak?" Ucap Vina setelah beberapa saat keluar dari kamar mandi.
"Menunggu istri yang cantik ini selesai mandi, aku kan mau bantuin kamu ngeringin rambut."
"Mending kak Adit ambil wudhu lagi, aku bisa melakukan nya sendiri kok."
"Tapi aku mau bantu kamu sayang, nanti aja ambil wudhu nya."
"Kak Adit belum pernah lihat aku marah 'kan?" Adit langsung berhenti mengikutinya.
"Mau? Kalau mau gak apa, ayo bantuin."
"Aku mau ambil wudhu aja sayang, waktu subuh sudah hampir habis."
"Gak jadi bantuin aku? Aku tawarin loh ini, apa mau sekalian pasangin pakaian aku?"
"Kamu siap-siap ya, aku mau ke kamar mandi." Adit lari ke kamar mandi dengan cepat, ia tidak ingin istri nya marah dengan nya. Vina tertawa sambil memakai pakaian nya, ia hanya tidak ingin Adit terlalu memanjakan nya. Walaupun dirinya sedang berbadan dua, tapi Adit yang merasakan sakit nya.
Setelah shalat subuh, Adit menyuapi Vina dengan makanan dan susu ibu hamil yang sudah ia buat tadi.
"Kenapa kak Adit melakukan semuanya, aku masih bisa melakukan nya sendiri kak."
"Aku juga lebih bisa dari kamu yang bisa melakukan semuanya sayang, jadi kamu hanya perlu berdiam saat dirumah."
"Aku juga butuh olahraga seperti menyiapkan makanan sendiri dan juga makanan buat kak Adit."
"Olahraga yang lain kan bisa, kenapa harus mengotori tangan cantik kamu ke dapur."
"Aku mau jogging ke taman kalau gitu, sebelum ke kampus."
"Ngapain jogging segala, apalagi ke taman. Cukup dirumah saja kan bisa."
"Biar badan aku tetap bagus kak, kayaknya badan aku makin melar deh."
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau makin melar? Lucu tahu, makin seksi." Ucap Adit mengedipkan matanya.
"Kak Adit bilang gitu biar aku gak olahraga kan? Terus nanti badan aku besar dan gendut. Perut aku buncit, pipi aku kembung."
"Siapa bilang sayang. Dari kebanyakan laki-laki yang aku kenal, istri nya yang sedang hamil itu terlihat lebih wow. Gendut dan chubby nya sangat menggoda dimata suaminya. Kenapa kamu malah mempermasalahkan berat badan kamu. Dari dulu pipi kamu memang chubby kan? Aku suka aja, aku malah seneng bisa ngelus pipi kamu yang chubby ini."
"Aku takut kak Adit gak suka lagi lihat aku gendut."
"Aku menerima semua yang ada pada kamu, seperti kamu yang juga menerima ku. Setelah ijab qabul saat itu pula aku menerima apapun yang ada pada diri kamu, sayang. Apa kamu masih meragukan kesetiaan suami kamu ini?" Tanya Adit langsung di jawab gelengan kepala oleh Vina.
"Dengar ya! Kamu akan selalu menjadi yang tercantik dan terindah di mata aku. Apapun yang akan terjadi dengan berat badan kamu nantinya."
Vina memeluk Adit, ia menangis di pelukan suami nya.
"Terima kasih kak, sudah mencintai aku sedalam itu. Sudah mau menjadi yang terbaik di antara yang terbaik untuk menjadi suami ku. Terima kasih." Adit mencium rambut, bahu, dan juga ceruk leher Vina. Sambil mengusap punggung Vina untuk menenangkan nya.
...******...
Siang ini Vina dan kedua sahabatnya, Naya dan Nina. Mereka akan pergi untuk jalan-jalan ke mall. Namun Vina akan meminta izin terlebih dahulu sebelum berangkat.
"Assalamu'alaikum sayang."
"Wa'alaikum salam, kak Adit."
"Ada apa? Kamu sudah mau pulang? Mau aku jemput ke kampus?"
"Bukan kak, aku mau izin sama kak Adit."
"Izin? Mau kemana? dan sama siapa aja keluarnya?"
"Aku izin mau ke mall bareng sama Naya dan Nina, kita mau jalan-jalan. Boleh gak?" Tanya Vina sambil melirik sahabatnya yang juga menunggu jawaban Adit.
"Kak Adit mau ngomong sama kalian," ucap Vina memberikan ponselnya pada Naya.
"Halo kak," ucap Naya.
"Halo nay, tolong jaga Cahaya. Segera hubungi aku jika ada apa-apa. Jangan terlalu lama jalan-jalannya, nanti Cahaya kelelahan karena dia sedang mengandung."
"Tenang kak, aman insyaa Allah."
"Aku percaya sama kalian, ya udah kasi lagi telepon nya." Naya memberikan ponsel nya pada Vina.
"Iya kak, apa aku boleh pergi?"
"Boleh. Tapi ingat, jangan sampai kelelahan."
"Siap kak, makasih suami ganteng."
"Kalau ada mau nya di panggil suami ganteng."
"Kak Adit kan memang ganteng."
"Oh jelas, suami nya siapa dulu dong?"
"Suami nya devina cahaya." Setelah meminta izin dan mengobrol lama, akhirnya mereka berangkat ke mall untuk jalan-jalan.
Mereka telah sampai di mall, dimana mereka akan bersenang-senang. Karena sudah lama tidak jalan bertiga, semenjak Vina menikah dan itu jarang sekali.
"Kita beli makan dulu gimana?"
"Boleh, jalan santai aja. Soalnya bapak Adit bilang jangan sampai buat istrinya kelelahan."
__ADS_1
"Biasa aja deh kalian, anggap aja kita lagi main seperti biasanya."
"Iya vin, ayo minum dulu."
"Aww" Vina di senggol seseorang, membuat Naya dan Nina melihat ke arah orang yang sengaja menabrak nya.
"Tante Ria." Ucap mereka bersamaan.
"Sial lagi ketemu kamu disini."
"Apa maksud tante?" Tanya Nina yang maju
"Kamu diam, tidak akan mengerti dengan masalah saya."
"Masalah apa maksud tante? Apa Vina pernah membuat masalah dengan tante?"
"Masalah yang sangat besar, dan itu kamu yang melakukan." Mama Raka mendorong bahu Vina dengan telunjuk nya. Hampir saja Vina kehilangan keseimbangan, namun cepat di bantu sahabatnya.
"Tante jangan kasar dong, Vina lagi hamil."
"Oh, lagi hamil? Anak siapa?"
"Apa maksud tante ria? tentu anak Vina dan kak Adit."
"Yakin? Siapa tahu anak orang lain."
"Cukup tante! Vina diam saat tante menuduh Vina membunuh Raka. Tapi untuk masalah anak Vina yang tante juga tuduh bukan anak kak Adit, Vina gak mau tinggal diam." Vina sedikit meninggikan suaranya.
"Kamu berani dengan saya? Kamu membentak saya?"
"Iya, Vina berani dengan tante." Jawab Vina dengan berani.
"Kurang ajar kamu ya," ucapnya lalu mendorong Vina sampai terjatuh. naya dan Nina kalah cepat dengan Vina yang sudah terduduk di lantai.
"VINA..." Pekik Naya dan Nina.
"Segitu aja berani kamu?"
"Arghh, perut aku sakit nay, nin." Vina memegang perut nya yang terasa amat sakit.
"Kamu gak apa kan vin?" Tanya Nya dan Nina.
"Sakit," lirih Vina.
"Katanya berani."
"Sakit, tolong!"
"Nay, darah nay." Nina melihat darah di bawah Vina.
Naya terkejut melihat darah yang ada di bawah tubuh Vina, begitu juga dengan tante ria. "Darah"
"Telepon kak Adit cepat!"
"Sebaiknya aku kabur," ucapnya pelan. Namun sudah ada beberapa orang yang melihat kejadian itu menghadangnya, mereka memanggil security agar menangani tante ria.
"Halo, kak Adit." Ucap Nina dengan nada cemas nya, setelah sambungan ponselnya terhubung.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
See you...
__ADS_1