Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh

Di Jodohkan Namun Tak Berjodoh
Alergi terasi


__ADS_3

"Iya cahaya sayang, lele sama sambal terasi. Kamu mau lagi yah? nih aku suapin lagi." Kak Adit menyodorkan tangannya lagi.


Aku sudah merasakan sesuatu perubahan.


"Kak Adit, Vina gak pernah makan lele, dan Vina alergi sambal terasi," ucapku mulai menggaruk wajah.


"Oh alergi, Hah? sayang, aku gak tau kamu alergi," ucap kak Adit.


"Aduhh kak, gatel wajah Vina," ucapku menangis.


"Wajah kamu merah-merah, yaudah ayo ke dokter," ucapnya khawatir, mengajakku ke dokter.


Sebelum mengajakku keluar, kak Adit membayar makanan nya.


Di motor aku menggaruk nya pelan, kak Adit mengebut, tangan ku yang satu memegang bahunya, karena semakin terkena angin semakin terasa gatalnya.


Setelah sampai di rumah sakit, kak Adit cepat membawaku ke dalam, meminta perawat segera menangani, padahal alergi doang sih bukan kecelakaan.


"Ada yang bisa saya bantu dek?" tanya dokter.


"Ini dok, pacar saya wajah nya merah-merah karena alergi, tadi makan sesuatu yang membuat dia alergi," ucap kak Adit.


"Biar saya periksa dulu," ucap dokter.


Dokter mulai meriksa keadaan wajah ku, yang gatal dan memerah.


"Setelah makan yang membuat kamu alergi, apakah hanya di wajah saja, yang terasa gatal dan merah begini?" tanya dokter


"Iya dok, hanya di wajah saja."

__ADS_1


"Baiklah, saya resep kan salep dulu, kalau misalnya tidak membaik, silahkan kembali lagi kesini," ucap dokter menyerahkan resep.


"Saya juga urtikaria dok, selain bilur yang terasa gatal, saya juga langsung mimisan."


"Waria?" kak Adit bingung.


Hahahha dokter malah tertawa, aku hanya melirik kak Adit.


"Urtikaria istilah lain dari alergi terhadap suhu dingin dek, bisa jadi bilur tadi, pilek, bentol dan terasa gatal, bisa juga mimisan, atau bengkak. Alergi ini munculnya beberapa menit setelah itu gatal nya akan berkurang, dan ini munculnya kadang pada anak kecil dan remaja menuju dewasa."


"Oh gitu ya dok, kalau gitu kita permisi yah soalnya udah malam," ucap kak Adit.


"Iya dek, terima kasih selamat malam."


"Malam dok," ucap ku dan kak Adit. Lalu keluar dari ruangan dokter.


"Salepnya aku pakaikan ya, sini!" Kak Adit mengambil salepnya dari tangan ku.


akak Adit memoleskan nya ke seluruh wajahku, sambil mengoles salep aku terus memandangi wajah kak Adit.


"Aku tau kok wajah pacar kamu ini ganteng, jadi gak usah diliat terus."


"Kalau gak liat kak Adit, aku harus nunduk gitu?" ucapku.


"Kan bisa merem sayang," jawabnya.


"Iya juga sih, dari pada pandangin wajah dia terus."


Kak Adit tersenyum selesai memoles, ia mencubit hidung ku lagi.

__ADS_1


"Lama-lama hidung Vina kayak Pinokio nih," ucapku cemberut.


"Uluulu sayang, gak lagi deh, gak tau kalau khilaf." Kak Adit kembali tertawa, senang sekali sepertinya.


"Pulang aja yuk udah malam, gak enak di rumah orang."


"Ya udah deh, ayo pulang!"


Melajukan motor sport nya.


"Sayang, peluk dong. Kayak orang-orang gitu, di peluk ceweknya."


"Tapi jangan ngebut ya kak, wajah Vina kena angin makin gatel," ucapku langsung memeluknya.


Kak Adit tersenyum, di lampu merah ia sambil mengelus tanganku, tanpa menghiraukan orang yang melihatnya.


Maybe... orang berpikir, "duh anak zaman sekarang, pamer kemesraan di tempat umum."


Dipikir iya juga, soalnya kan aku masih bocah umur 16 dan kak Adit 18, bagi orang ya emang bocah sih.


Kak Adit mengantarkan aku pulang ke rumah bos, dan ia kembali melajukan motornya untuk pulang ke rumah nya.


.


.


.


bersambung 💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2