
Hendry sungguh-sungguh dengan ucapan nya untuk melamar Nina ke rumahnya, bersama kedua orang tuanya, Hendry mengajak mereka untuk melamar kan Nina secara resmi.
"Saya sudah datang bersama orang tua saya, untuk melamar Nina menjadi istri saya om."
"Iya, saya tahu karena kamu sudah ada disini. Terus kamu udah bilang semalam di acara sahabat Nina, jadi saya juga sudah mengerti maksud atas kedatangan kamu kerumah saya." Jawabnya dengan wajah garang nya. Karena nampak seram wajah papa Nina dengan kumis sedikit tebal.
"Iya om, biar lebih tahu saja. Salah lagi aku." Ucap Hendry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Begini pak, saya dengan istri saya datang kesini atas permintaan anak saya, Hendry. Untuk melamar kan Nina sebagai istri nya." Papa Hendry membuka suara, karena dari pada akhirnya anaknya itu membuat malu keluarga karena ucapan nya yang tidak terkontrol. Padahal sepertinya papa Nina hanya mengetes nya.
"Baik pak, saya akan tanyakan pada Nina. Karena siapa tahu dia berubah pikiran lagi pada putra bapak." Jawabnya tersenyum pada papa Hendry.
"Ya ampun om, Nina kan pacar saya yang sudah jelas mau menikah dengan saya."
"Diam kamu!" Lihatnya dengan mata melotot.
Papa dan mama Hendry memegang lengan Hendry, supaya tidak lagi membuat papa Nina semakin menyeramkan.
"Nina menolaknya pa." Membuat Hendry melotot kan matanya.
"Nina menolak kamu."
"Sayang, kenapa kamu menolak aku? Apa sudah ada yang menggantikan aku? Atau papa kamu yang nyuruh kamu menolaknya?"
"Enak saja kamu, mana pernah saya menyuruh begitu. Tapi saya senang sekarang."
__ADS_1
"Pa, masa Hendry di tolak? 'kan gak mungkin. Hendry kurang jelek apa pa? Maksudnya kurang ganteng gimana lagi?" Ucap Hendry membuat papa Nina tersenyum. Ternyata Hendry mampu membuat dirinya tersenyum mendengar candaan nya yang tidak menjelekkan dirinya ataupun Nina walaupun sudah di tolak.
"Kurang waras dikit aja kamu, saya tidak menolak kamu menjadi calon suami Nina padahal. Tapi Nina sendiri yang menolak nya."
"Astaghfirullah, cinta ku hanya sampai disini ternyata. Padahal aku sudah siapkan rumah cicilan dan perhiasan yang ngutang."
"Hendry, kamu ini ada-ada saja." Mama nya mengomeli Hendry, sudah di tolak tapi malah makin mempermalukan diri sendiri.
"Pantas saja anak saya menolak, ternyata mau diajak susah."
"Nina menolak kalau hanya bertunangan pa, Nina kan maunya kepastian hubungan."
"Jadi maksudnya kamu menerima nya? Kamu mau di ajak tinggal di rumah cicilan?"
"Itu hanya bercanda pa, lagian Nina tetap mau membayar bersama cicilan rumah nya. Kita kan kerja juga di kantor yang sama." Jawab Nina membuat keluarga Hendry tersenyum. Ternyata Nina wanita yang baik, dan bukan hanya sekedar cantik walaupun juga tingkahnya sama seperti Hendry kurang sedikit.
"Yaelah om, masih saja bilang saya biasa saja. Saya sudah biasa di bilang seperti itu, kali-kali gitu om bilang saya ini calon menantu yang sangat menarik."
"Sangat aneh, iya. Untung anak saya mau saja dengan kamu, kalau kamu yang datang melamar, anak saya beneran tidak mau. Sudah saya usir kamu."
"Sekarang biasakan dong om, Hendry kan sekarang calon menantu om."
"Dengan sangat terpaksa saya harus setuju, karena anak saya mau memiliki suami seperti kamu." Sebenarnya mereka ini satu frekuensi yang sama, namun mungkin sekarang masih saling tahap mengenal, dan masih baru.
Orang tua Hendry tidak marah, saat papa dari Nina mengatai anak nya macam-macam. Karena memang begitu adanya Hendry, dan akan selalu seperti itu kalau bersama sahabatnya, pacarnya, dan sekarang bertambah calon mertuanya. Mereka sudah memahami juga orang bercanda dengan orang yang serius dengan kata-kata nya, jadi mereka juga biasa saja menanggapi. Mama Nina juga sama seperti orang tua Hendry, yang memaklumi suaminya saat meladeni orang baru. Suaminya itu hanya ingin tahu orang yang sungguh-sungguh dengan keluarganya, atau hanya ingin bercanda saja.
__ADS_1
"Nanti kita tinggal atur saja jadwal pertunangan mereka, dan hari pernikahan mereka pak. Saya sebenarnya tidak ingin lama-lama mereka bertunangan, pamali jika terlalu lama tidak langsung menikah."
"Wah, bapak sama dengan tradisi saya. Saya ingin mengatakan itu takut dikira dari pihak wanita terlalu terburu-buru, padahal saya dari kampung dulu memang kelurga saya masih kental dengan tradisi seperti itu."
"Betul pak, saya juga dari kampung. Jadi saya ingin pertunangan mereka hanya berjarak satu bulan atau beberapa minggu saja. Karena lebih bagus juga di percepat, anak satu-satunya pak, biar cepat dapat cucu juga."
"Iya pak, putri satu-satunya saya. Kita atur dulu jadwal pertunangan mereka secepatnya, setelah nya gampang kalau atur masalah hari pernikahan. Sahabat mereka juga orang-orang pintar semua, dan jika kita butuh bantuan pasti mereka juga akan menolong." Papa Nina tahu sahabat mereka orang yang berpengaruh juga. Jadi mudah untuk meminta bantuan, bukan karena mereka tidak ingin susah, namun hanya jika tidak memungkinkan dan akan disegerakan harus meminta bantuan sahabat anak-anaknya.
"Iya om, saya juga sudah memberitahu sahabat saya dan Nina, untuk acara pertunangan dan pernikahan kita nanti."
"Padahal belum tentu saya menerima kamu, tapi kamu sudah merencanakan semuanya dengan Nina." Papa Nina menatap tajam Hendry, bisa-bisa nya Hendry belum menemuinya sudah bisa menebak bahwa dirinya akan menerima menjadi calon menantunya. Namun itu yang membuat papa Nina lebih yakin sekarang menjadikan Hendry sebagai calon menantunya.
"Proses meminta restu harus sungguh-sungguh om, dan saya pada Nina juga sangat sungguh-sungguh. Karena sudah dianggap akan berhasil, sebelum datang kesini pun saya sudah membicarakan nya pada sahabatnya kami."
"Iya pa, kami juga semuanya sudah sama-sama setuju dengan apapun jawaban yang diberikan papa. Tapi ternyata papa masih menanyakan nya pada Nina."
"Kamu itu anak papa satu-satunya, kalau pun papa tidak suka tapi kamu menyukainya, papa tidak bisa apa-apa. Tapi papa memang harus melihat seberapa yakin nya dan seberapa bersungguh-sungguh nya calon suami kamu." Jawab nya menatap putri semata wayangnya.
"Berarti Hendry sudah sangat meyakinkan om?" Tanya Hendry sambil menaik turunkan alisnya.
"Hanya terpaksa." Jawab papa Nina sudah tidak bisa mengelak lagi. Orang tua Hendry dan mama Nina tertawa dengan ucapan papa Nina. Akhirnya mereka pun tertawa bersama. Setelah lama mengobrol, mereka kembali berunding untuk acara pertunangan dan pernikahan anaknya, tanggal dan tempat yang pas untuk acara mereka nanti akan di selenggarakan dimana.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
__ADS_1
IG : @istimariellaahmad98
See you...