
Siang hari, aku masih setia di dalam kamar. Berdiam diri, tatapan kosong, tapi masih sadar.
Naya dan Nina masuk ke dalam kamar, dengan langsung memakai kan jilbab ku. Aku terkejut dengan kedatangan mereka, namun aku melihat ternyata, ada kak Hendri. Makanya mereka buru-buru memasangkan nya.
"Vin, kamu baik-baik saja kan?" tanya Naya.
Aku tersenyum dan mengangguk, sambil berdiri untuk membuat kan minum mereka.
"Kamu mau kemana Vin?" tanya Nina.
"Aku mau buatin minum buat kalian," jawabku.
"Gak usah Vin, kamu istirahat aja, kita kan kesini mau jengukin kamu. Jadi gak perlu repot-repot," ucap kak Hendri yang masih berdiri.
"Kita keluar aja yuk, disini gak ada kursinya." Aku mengajak mereka keluar kamar sambil tersenyum.
"Kamu bisa pura-pura tersenyum pada orang lain Vin, tapi kamu tidak bisa bohongi kita," ucap Naya.
Aku melihat langit-langit kamarku, supaya air mata ku tidak terjatuh.
"Kamu ngomong apaan sih nay, sok tau banget, udah deh kita keluar ya," ucapku langsung keluar, melewati kak Hendri.
"Kalian merasa aneh gak? gak mungkin sampai segitunya, keadaan Vina karena putus dari kak Adit," ucap Nina.
"Tapi mereka kan saling mencintai nin," balas Naya.
"Kita keluar aja yuk, gak enak di kamar orang." Hendri mengajak temannya keluar.
Mereka pun keluar dari kamar Vina.
Di luar
"Kalian jenguk Vina ya? makasih udah sempat kesini," ucap mama.
"Pasti dong kita jenguk, kan Vina teman kita tante," jawab Naya.
Mama tersenyum dan melihat ke arah kak Hendri.
__ADS_1
"Nak Hendri, udah lama gak kesini," tanya mama.
Seketika Naya dan Nina melirik Hendri.
"Ah iya tante, Hendri ngurus pelepasan OSIS, karena sebentar lagi kan Hendri lulus," jawabnya tersenyum.
"Udah jangan di tanya terus mereka ma, suruh minum dulu."
"Oh iya silahkan di minum ya, tante ke dapur dulu," mama tersenyum lalu kedapur.
"Iya tante," jawab mereka.
Setelah kepergian mama, Naya dan Nina kembali menanyakan keadaan ku.
"maag kamu beneran kambuh kan Vin?" tanya Nina.
Naya menyenggol lengan Nina.
"Perut kamu udah mendingan kan Vin?" tanya Naya.
"Kalau ada masalah cerita sama kita Vin," ucap kak Hendri.
Mataku kembali berkaca-kaca, mendengar masalah. Masalah yang selalu muncul di dalam hidupku.
"A-aku gak pa-pa kok kak," jawabku.
"Mulut kamu berkata tidak, tapi mata kamu gak bisa bohong Vin," kak Hendri bisa mengetahui bahwa aku memang sedang tidak baik-baik saja.
"Vi-vina."
"Kenapa kamu vin?" tanya Naya dan Nina.
"Vi-vina di jodohin," tak terasa air mata ku mengalir.
"Hah? dijodohin?" tanya mereka.
husssst...
__ADS_1
Aku menempelkan jariku di bibir, memberi isyarat pada mereka agar tidak meninggikan suaranya.
"Jadi kamu putus sama Adit, gara-gara di jodohin?" tanya kak Hendri.
Aku menggeleng, " aku tau di jodohin, setelah putus dari kak Adit."
"Jadi kamu terima Vin?" tanya Naya.
"Aku gak tau nay, aku ingin menolaknya, tapi ini permintaan mama, dan mama bilang anggap aja ini permintaan terakhir mama."
"Apa kita bawa Vina kabur dari sini," usulan Nina berbisik.
"Eh parah banget sih nin, sampai mau kabur segala," balas Naya.
"Aku bisa kok Vin bawa kamu pergi," timpal kak Hendri.
Aku menggeleng kan kepalaku, "gak apa kak, Vina terima kok, jika seandainya Vina berjodoh dengan dia, karena ini pilihan mama, dan kita seagama."
"Tapi-
"Kalian makan cemilan dulu, aku bantu mama nyiapin makan siang untuk kita." Aku menghindar dari pertanyaan mereka.
"Kita ikut Vin," ucap Naya dan Nina yang juga ikut ke dapur.
Kak Hendri menatap kepergian ku ke dapur.
Setelah selesai kita makan siang bersama, dan mereka pulang tanpa bertanya lagi. Karena mama ikut mengobrol.
Tak lama mengobrol mereka pamit untuk pulang.
.
.
.
bersambung 💃💃💃
__ADS_1